Pergi ke Rumbai
Oleh: Safir Senduk

Jakarta, 28 Agustus 2002

Baru saja sampai di Jakarta hari sabtu malam sepulang dari Surabaya untuk mengisi seminar bersama WanaArtha Life dan Jawa Pos, saya sudah harus terbang lagi pada minggu paginya untuk memberikan seminar pada hari minggu malam di depan keluarga PT Caltex di Rumbai, Pekanbaru.

Seminar tersebut diadakan oleh CRWC - Caltex Rumbai Women's Club (Persatuan Ibu-ibu Caltex Rumbai), dalam rangka ultah CRWC yang ke-29. Yang diundang memberikan seminar adalah saya dan Robby Tumewu, seorang desainer yang cukup kondang di Indonesia. Kami pergi bersama pada hari minggu pagi dengan menggunakan pesawat Fokker Pelita Air yang memang secara rutin di-booking oleh Caltex dari Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta. Didampingi oleh seorang asisten Robby dan Mas Gatot, bagian promosi dari Tabloid NOVA, mengingat Tabloid NOVA-lah yang menjadi perantara antara mereka dan kami sebagai pembicara.

Rumbai sendiri adalah nama sebuah daerah di Pekanbaru yang terkenal karena menjadi base camp (kantor sekaligus rumah tinggal) dari ribuan keluarga PT Caltex Pasific Indonesia. Banyak sekali keluarga yang sudah tinggal disana sejak puluhan tahun lalu, bahkan banyak juga yang memang sudah turun temurun tinggal disitu. Ketika saya bertanya pada sebuah sumber, camp itu sendiri memang sudah ada sejak tahun 50'an.

Didalam camp, Anda berada di dalam aturan Caltex. Sebagai contoh, bila Anda mengendarai kendaraan, mobil misalnya, Anda mutlak harus menggunakan seat belt. Saya dengar ada peraturan yang cukup keras bila Anda melanggar aturan lalu lintas disitu dan Anda adalah seorang karyawan (atau anggota keluarga) Caltex, dimana Anda akan mendapatkan Surat Peringatan atau semacam itu.

Tapi lingkungan disitu cukup baik. Gaya Amerika. Saya dan Robby ditempatkan di dalam sebuah Guest House yang sangat apik. Tidak hanya lingkungannya saja yang bergaya Amerika, tetapi juga rumah-rumahnya sendiri bergaya Amerika. Dengan suasana camp yang tenang dan lingkungan yang sangat terjaga kebersihannya, pantas saja ada banyak karyawan Caltex yang rela meninggalkan keluarganya di tempat asal dan mau untuk tinggal dan bekerja di Rumbai.

Ketika malam datang dan acara dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya harus berbicara di ruangan yang sangat-sangat besar, dengan jumlah audience sekitar - mungkin - 800 orang yang duduk dengan meja round table. Bisa dibayangkan seberapa besar ruangan itu.

Saya hanya diberi waktu sekitar 20 menit untuk berbicara. Ketika saya diberi kesempatan mulai, saya tidak lama menggunakan panggung, karena saya dengan segera turun untuk menghampiri meja audience serta membaur bersama mereka. Saya ingin menularkan aura saya ke mereka, walaupun untuk itu saya harus rela berjalan dari ujung ruangan yang satu ke ujung ruangan yang lain yang jaraknya bisa 100 meter, demi terjalinnya suasana yang interaktif. Tapi usaha saya tidak sia-sia. Mereka memperhatikan saya dengan sangat seksama dan sesekali melontarkan pertanyaan. Walaupun konsekuensinya, waktu bicara saya molor sekitar 10 menit.

Giliran kedua yang berbicara adalah Robby Tumewu. Ia membawakan materi padu padan busana dengan banyak menggunakan model dari para karyawati Caltex. Materinya ternyata bagus sekali, dan saya sendiri bahkan banyak belajar dari situ. Salah satu contohnya adalah aksesoris. "Aksesoris itu tidak perlu mahal...", kata Robby. "Yang penting serasi. Buktinya, ada banyak sekali aksesoris yang bagus sekali dan harganya tidak mahal." Salah satu contoh lain adalah busana muslimah. Kalau busana Anda sudah bermotif, usahakan agar kerudungnya polos. Sebaliknya juga begitu. Jangan memakai corak bermotif pada busana muslim dan kerudungnya sekaligus. Terlalu ramai katanya. Hmm..., benar juga.

- Saya dan Robby Tumewu bersama Ibu-ibu Caltex Rumbai. -
Selesai acara, banyak audience mendatangi kami dan meminta untuk foto bersama. Kami juga terlibat dalam pembicaraan serius dengan beberapa orang peserta, bertukar pikiran tentang acara yang baru saja berlalu. Saya juga banyak ngobrol dengan Mas Gatot, bagian promosi NOVA. Semuanya berkomentar sama, bahwa waktu bicara yang diberikan kepada kami kurang panjang. Maklum, namanya juga Acara Ulang Tahun. Iyalah, mudah-mudahan kesempatan berikutnya bisa lebih panjang waktunya ya?

Dalam pesawat ketika pulang kembali ke Jakarta, saya banyak mengobrol dengan Mas Robby tentang bisnis dan pekerjaannya. Dari situ saya banyak tahu tentang dunia busana dan bagaimana perannya dalam perekonomian Indonesia. Untung saja pesawat saya tepat waktu sampai di Jakarta karena pukul satu siangnya saya masih harus mengejar untuk bisa hadir di Acara Perempuan di Studio Metro TV di Kebon Jeruk.


Safir Senduk


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan