BERINVESTASI DENGAN UANG PESANGON
Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 813/XVI

Pak Safir yang terhormat,

Saya baru saja menerima uang pesangon PHK sebesar Rp 350 juta dan sebuah mobil kijang tahun 1996 seharga Rp 70 juta. Banyak rencana dan keinginan saya untuk menginvestasikan uang tersebut. Kebetulan, mulai November ini saya akan tinggal di Singapura untuk mengikuti suami yang bekerja disana. Saya memiliki rencana untuk menginvestasikan uang saya. Caranya adalah sebagai berikut:

- Membeli satu unit rumah seharga Rp 150 juta di Batam untuk dikontrakkan, dengan pertimbangan lokasi Batam dekat dari Singapura, sehingga sewaktu-waktu saya dapat memeriksanya. Juga, karena harga properti di Batam selalu meningkat.

- Membeli satu unit rumah seharga Rp 150 juta di Jakarta untuk dikontrakkan, dengan pertimbangan jika pensiun nanti, saya akan kembali tinggal di Jakarta. Juga karena harga properti di Jakarta selalu meningkat.

- Menyewakan mobil dengan pola titip atau menyewakan sendiri, dengan harapan dapat memberikan penghasilan bulanan. Saat ini saya berutang kartu kredit 6 buah dari Citibank, Standard Chartered, BNI dan Dinners sejumlah 30 juta. Kemudian saya mengambil Kredit Tanpa Agunan sebesar Rp 12 juta dengan cicilan tetap per bulan Rp 635.000. Lalu, saya juga ingin menunaikan ibadah haji dengan suami yang kiranya akan memerlukan biaya sebesar Rp 60 juta.

Nah, dengan budget yang ada dan agar semua rencana dan keinginan saya dapat terpenuhi, mohon saran dari Pak Safir. Pertanyaan saya:

*Saya bermaksud melunasi seluruh utang kartu kredit saya yang berjumlah Rp 30 juta itu, tetapi cukup amankah jika saya tetap mempertahankan membayar cicilan tetap Kredit Tanpa Agunan saya selama 34 bulan ke depan sebesar Rp 635.000 setiap bulannya? Atau apakah sebaiknya saya melunasinya saja sekalian?

*Jika pembelian rumah hanya cukup untuk membayar tunai salah satunya saja, dan satu yang lainnya dibeli secara KPRT, sebaiknya yang mana yang harus saya bayar tunai, di Batam atau di Jakarta?

*Jika lebih baik membeli kedua rumah tersebut secara tunai, apakah cukup baik jika saya menjual mobil saja untuk menutupi kekurangan uang tersebut? Terima kasih.

M - Jakarta Selatan


Jawab:

Ibu M di Jakarta,
Coba Anda lihat dulu, apa yang akan terjadi kalau Rencana Investasi Anda berjalan sesuai rencana. Dari bekal uang pesangon Anda yang Rp 350 juta, Anda berencana menggunakannya untuk membeli dua buah rumah, satu di Batam dan satu di Jakarta. Bila Anda mengontrakkannya, berarti Anda akan memiliki dua sumber pemasukan dalam setahun.

Bagaimana dengan mobil Kijang Anda? Bila Anda tidak menjualnya, Anda berencana untuk menyewakan saja mobil tersebut. Dengan demikian, digabung dengan dua sumber pemasukan yang pertama tadi, Anda akan punya tiga pemasukan. Dua dari rumah, dan satu dari mobil. Tetapi, bila Anda menjual mobil Anda, ini berarti Anda hanya akan punya dua sumber pemasukan, yaitu dari kedua rumah.

Kalau saya jadi Anda, saya akan pilih supaya saya punya tiga sumber pemasukan dibanding apabila saya hanya punya dua sumber. Dan ini juga yang saya sarankan kepada Anda. Saran saya:

  1. Tentang Hutang-hutang Anda

    Bagus sekali bila Anda mau melunasi seluruh utang Kartu Kredit Anda. Jangan lupa bahwa Hutang Kartu Kredit, apabila tidak dibayar atau hanya dibayar minimal saja, bunganya bisa sangat membengkak. Tetapi, apakah Anda juga perlu melunasi cicilan KTA yang Anda miliki? Ya, kalau memang dengan melunasi KTA tersebut jumlahnya masih lebih sedikit daripada total cicilan Anda selama 34 bulan ke depan, maka lunasi saja KTA Anda. Saya perkirakan, jumlah pelunasan hutang yang Anda lakukan total adalah sekitar Rp 50 juta, sehingga dari jumlah Rp 350 juta yang Anda miliki, sisa uang Anda tinggal Rp 300 juta.

  2. Tentang Pembelian Rumah Anda

    Karena kita ingin agar Anda punya tiga sumber pemasukan (dari dua rumah dan satu mobil), maka Anda tentu tidak akan menjual mobil Anda, kan? Karena Anda tidak menjual mobil, maka bila Anda membeli kedua rumah tersebut secara tunai masing-masing Rp 150 juta (total Rp 300 juta), ini berarti Anda mungkin tidak akan punya sisa uang untuk pegangan. Bila memang demikian, maka jalan yang terbaik adalah dengan membeli tunai salah satu rumah saja. Yang satu lagi Anda ambil secara kredit.

Bila cara itu yang Anda ambil, berapa jumlah uang yang harus Anda keluarkan untuk membeli rumah? Karena rumah pertama Anda beli secara tunai, Anda akan keluar uang Rp 150 juta. Untuk rumah kedua yang Anda beli secara kredit, Anda mungkin harus membayar Uang Muka yang besarnya 30 persen dari Rp 150 juta juga, yaitu Rp 50 juta. Dengan demikian, total yang akan Anda keluarkan untuk membeli rumah adalah Rp 200 juta. Sehingga dari uang Anda yang Rp 300 juta tadi, Anda masih punya sisa uang Rp 100 juta. Dari uang ini, Anda bisa menggunakan Rp 60 juta untuk naik haji berdua suami.

Sekarang pertanyaannya, rumah mana yang harus Anda beli secara tunai dan rumah mana yang harus Anda beli secara kredit? Saran saya, datanglah ke dua bank yang berbeda, satu di Jakarta dan satu di Batam. Tanyakan berapa suku bunga KPR yang ada di dua bank tersebut, tetapi dengan jangka waktu kredit yang sama.

Di kota yang bank-nya men-charge suku bunga yang lebih tinggi Anda harus membeli rumah secara tunai. Sebagai contoh, Bank A di Jakarta men-charge suku bunga KPR 19 persen per tahun untuk 10 tahun. Bank B di Batam men-charge suku bunga 17 persen per tahun untuk 10 tahun juga. Dengan demikian, pembelian rumah di Jakarta-lah yang harus Anda lakukan secara tunai, sedangkan pembelian rumah di Batam harus Anda lakukan secara kredit. Ini karena bank di Batam membebankan suku bunga kredit yang lebih rendah daripada bank di Jakarta. Walaupun, tentu saja, suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu. Ya, kan?

Itu saja dari saya. Sukses untuk Anda ya, Bu.


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan