Dikutip dari Harian Republika, Maret 2006
Mas Gozali,
Biasanya setiap minggu suami saya memperoleh penghasilan 500-700 ribu. Uang tersebut saya gunakan untuk membiayai keperluan rumah tangga dan uang sekolah anak-anak. Sisa belanja setiap hari biasanya saya tabung dan saya belikan emas.
Tapi saat ini saya sedang pusing, karena dengan penghasilan yang segitu, saya harus menghadapi kenaikan harga barang-barang kebutuhan. Akhirnya saya tidak bisa lagi menabung untuk mempersiapkan dana cadangan buat keluarga saya.
Sebenarnya saya ingin sekali membantu suami dengan cara berdagang kecil-kecilan di rumah. Tapi saya bingung apa saja yang harus saya lakukan agar usaha saya ini bisa berhasil. Saya takut nantinya malah usaha saya ini membuat keuangan keluarga menjadi semakin morat-marit jika tidak berhasil. Saya mohon sarannya.
Ny Ida, Kudus
Anggaran rumah tangga yang dibuat memang idealnya disesuaikan dengan siklus pendapatan Anda. Jika Anda menerima pendapatan dari suami secara mingguan, maka anggaran pengeluaran Anda pun bisa dibuat secara mingguan pula. Tapi tentunya tidak semua pengeluaran bisa diatur mingguan, karena ada pengeluaran yang sifatnya bulanan seperti uang sekolah, tagihan listrik, telepon dan lain-lain. Hal ini perlu kita antisipasi dengan membuat juga anggaran bulanan.
Caranya adalah dengan menyisihkan sebagian pendapatan mingguan Anda untuk dikumpulkan selama satu bulan. Ingat lho, menyisihkan, bukan menyisakan. Karena kalau menyisakan itu artinya belakangan. Padahal uang sulit sekali untuk bersisa, terpakai saja untuk keperluan ini itu. Makanya saya sarankan agar disisihkan, alias dipisahkan sejak awal untuk keperluan bulanan. Sedangkan untuk dana cadangan, saya sarankan agar tidak seluruhnya berbentuk emas. Cadangan dalam bentuk emas memang ampuh untuk menangkal efek inflasi. Karena harga emas biasanya naik seiring dengan inflasi. Namun emas akan sulit untuk dicairkan jika terjadi keperluan yang mendesak dan mendadak. Apalagi untuk emas perhiasan itu nilainya akan dipotong dengan ongkos pembuatan.
Untuk itu, saya sarankan agar Anda menyimpan sebagiannya dalam bentuk uang tunai juga, dan dalam bentuk lain yang dapat dengan mudah dicairkan. Misalnya dalam rekening tabungan dengan kartu ATM.
Untuk bisa mengejar kenaikan harga-harga, memang cara yang paling jitu adalah dengan memperbesar pula pemasukan. Dan salah satu cara termudah adalah dengan memiliki sumber pendapatan lain selain dari penghasilan suami. Misalnya dengan cara berdagang.
Tidak perlu takut untuk memulai usaha baru. Jika Anda memang sudah memiliki niatan yang kuat, jalankan saja. Niat yang kuat disertai dengan ikhtiar yang keras dan do'a yang tulus Insya Allah akan membuka pintu rezeki Anda. Dan untuk mencegah agar resiko usaha tidak ikut menyeret keadaan keuangan keluarga Anda, jangan lupa untuk selalu memisahkan antara keuangan usaha dan keuangan keluarga. Jadi, kalaupun usahanya bermasalah, dapur bisa tetap ngebul. Dan sebaliknya, kalaupun keuangan keluarga sedang bermasalah, usaha bisa tetap lancar.
Selamat berusaha...
Salam,
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Saya seorang ibu dengan tiga orang anak. Dengan penghasilan suami sebagai sopir bus antar kota yang tidak menentu, saya agak susah untuk membuat anggaran seperti yang mas Gozali jelaskan sebelumnya.
Jawaban:
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi