INGIN MENIKAH, PUNYA RUMAH DAN SEKOLAH
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Harian Republika, Juni 2006

Pak Gozali,
Nama saya sidik. Umur 26 tahun. Pekerjaan swasta dengan penghasilan Rp 1 juta per bulan. Saat ini, tiap bulan saya menabung Rp 200.000. Selain itu, saya masih menabung Rp 50.000 untuk tabungan lebaran dan Rp 25.000 untuk program DPLK.

Tiap tahun saya mentargetkan menaikkan jumlah tabungan saya. Saya juga punya deposito Rp 1 juta dan reksadana Rp 1 juta. Tahun ini saya ingin membuka tabungan pendidikan karena saya ingin sekolah lagi. Saya juga ingin menikah dan punya rumah walau sederhana. Pak Gozali, apa yang harus saya lakukan? Apakah penataan keuangan saya sudah benar?

Sidik


Jawaban:

Mas Sidik, saya salut pada Anda. Karena bisa tetap konsisten menabung setiap bulan, walaupun penghasilan terasa "pas-pasan". Saya yakin banyak orang yang memiliki penghasilan yang lebih besar dari Anda, tapi tidak bisa menabung secara konsisten seperti yang Anda lakukan. Semoga hal itu menjadi contoh yang baik, bahwa bisa menabung atau tidak bukan tergantung pada besar atau kecilnya penghasilan, tapi lebih pada kemauan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Atau setidaknya untuk mempersiapkan diri untuk kondisi yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi di masa depan.

Untuk alokasi surplus Anda setiap bulan, saya sarankan memang dipecah ke dalam beberapa produk keuangan. Sebaiknya selain memiliki deposito, DPLK, dan reksadana, Anda juga menyimpan dana dalam bentuk likuid pada rekening tabungan. Hal ini untuk mengantisipasi pengeluaran yang sifatnya mendesak atau darurat sehingga tidak mengganggu investasi.

Sedangkan untuk mempersiapkan dana pendidikan agar Anda bisa kuliah lagi, saya tidak sarankan tabungan pendidikan Mas Sidik. Karena tabungan pendidikan lebih tepat dimiliki oleh orang tua yang ingin menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anaknya.

Pada tabungan pendidikan, ada unsur proteksi atau asuransi yang dijadikan satu paket di dalamnya. Maksud dari asuransi ini adalah untuk kepastian agar jika orang tua meninggal dunia sebelum sempat mengumpulkan dana yang memadai, perusahaan asuransi akan menggantikan setoran tabungan pendidikan untuk anak-anaknya.

Jika dana pendidikan ini disiapkan untuk Anda sendiri, tentunya tidak diperlukan adanya unsur proteksi. Karena Anda tentunya tidak lagi membutuhkan dana pendidikannya jika (maaf) terjadi musibah kematian pada diri Anda sendiri. Walaupun asuransi pada tabungan pendidikan ini sifatnya "bonus", tapi pada kenyataannya diambil preminya dari keuntungan bank dalam mengelola dana Anda.

Itulah kenapa bunga atau bagi hasil dana pendidikan ini lebih kecil daripada deposito, karena sebagian keuntungannya digunakan untuk membayar premi asuransi. Siapkan saja dana pendidikan Anda dalam bentuk deposito atau reksa dana seperti yang sudah Anda lakukan sekarang.

Sedangkan untuk memiliki rumah sendiri dan menikah, saya rasa itu menjadi keinginan hampir semua orang. Walaupun mungkin waktunya belum bisa dipastikan, tapi setidaknya Anda sudah bisa membuat rencana dan persiapannya sedari sekarang. Dari segi keuangan, Anda bisa mengalokasikan investasi Anda dalam bentuk deposito dan reksadana yang sudah Anda miliki untuk dana pernikahan, dan pembelian rumah.

Untuk pembelian rumah, cukup siapkan uang mukanya saja, sisanya bisa diangsur dengan KPR. Karena rasanya akan sangat lama sekali untuk bisa membeli rumah secara tunai. Sedangkan untuk dana pernikahan, setidaknya siapkan saja untuk mahar (mas kawin) dan seserahan yang akan Anda siapkan untuk calon pengantin Anda. Sedangkan untuk biaya resepsinya bisa dibicarakan kembali dengan orang tua dari kedua belah pihak. Karena sesungguhnya masih menjadi kewajiban orang tua untuk menikahkan anak-anaknya.

Jangan takut menikah hanya karena materi. Insya Allah dengan menikah, rezeki Anda akan bertambah.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan