MENGELOLA UTANG
Oleh: Ahmad Gozali

 

Dikutip dari Republika, 20 April 2008

Assalamualaikum Wr Wb

Pak Gozali,
Saya mewakili beberapa teman yang ingin bertanya kepada Bapak tentang kondisi keuangan yang mereka hadapi saat ini. Kebutuhan mereka saat ini lebih besar dari pemasukan tiap bulan. Lebih besar pasak dari tiang.

Kewajiban rutin yang harus mereka keluarkan tiap bulan seputar cicilan rumah, kendaraan, dan barang elektronik. Mereka juga berutang kebutuhan pokok (sembako) di koperasi, sehingga bulan berikutnya gaji yang diterima sudah dikurangi kewajiban-kewajibab tadi. Kewajiban cicilan tersebut berlangsung selama tiga tahun. Mereka ingin menjalani/mengatur keuangan yang Islami tapi mereka sudah telanjur banyak kewajiban cicilan. Yang ingin saya tanyakan:

1. Apa saran Bapak agar mereka bisa mengatur keuangan secara Islami yaitu memenuhi hak-hak yang menjadi prioritas?
2. Bagaimana caranya agar mereka kelak bisa menabung dan berinvestasi?
Terima kasih atas penjelasan Bapak.

Asep Andi Surya

Jawaban:

Waalaikumussalam Wr Wb

Pak Asep,
Untuk mengubah kebiasaan dalam mengelola keuangan memang tidak bisa langsung begitu saja. Tentu diperlukan waktu untuk pembiasaan, dan terlebih lagi gaji diterima bulanan sehingga paling cepat pun satu bulan baru bisa berubah. Apalagi kalau perlu pembiasaan, mungkin perlu waktu beberapa bulan. Apalagi yang sudah keburu terikat hutang dan sebagainya. Untuk itu, perlu strategi untuk keluar dari permasalahan tersebut, dan mulai mengelola keuangan dengan baik.

Seberapa sulit dan panjangnya pun waktu yang diperlukan, tetap bisa dimulai dari sekarang. Contohnya untuk mengatur prioritas pengeluaran, bisa langsung dilakukan mulai dari sekarang. Begitu terima gaji, langsung potong untuk membayar zakat, lalu bayar cicilan utang di koperasi dan cicilan rumah (mungkin sudah otomatis potong gaji).

Tinggal satu saja rasanya yang perlu dibiasakan, yaitu menabung dulu sebelum dipakai belanja. Walaupun belanja sembako sudah dilakukan di awal sebelum terima gaji, yaitu berutang ke koperasi, sebetulnya masih bisa kok untuk menabung yaitu dari sisa gaji tunai yang diterima di rekening bank. Jangan semua kemudian dihabiskan juga. Tapi tetap bisa dipotong terlebih dahulu untuk saving. Sisanya saja yang dibawa pulang dan dihabiskan. Selama harganya sama, sebetulnya tidak ada masalah membeli bahan sembako di koperasi dan dibayar belakangan. Tapi, hal ini membuat kita kehilangan batasan karena enak tidak membayar. Akhirnya, bisa lebih besar utangnya daripada gajinya.

Untuk kredit elektronik, sepertinya kurang bijak kalau dilakukan juga via koperasi, apalagi sambung menyambung dari satu barang ke barang yang lain sehingga terus-menerus mencicil sepanjang waktu. Ada baiknya kebiasaan pembelian ini diubah dengan cara mengandalkan pemasukan yang tidak rutin untuk pengeluaran yang juga tidak rutin.

Misalnya, mengumpulkan uang lembur untuk membeli barang elektronik. Jadi, untuk keperluan rutin, bisa diambil dari gaji rutin. Sedangkan untuk pengeluaran yang tidak rutin seperti beli barang elektronik dan lainnya, bisa dengan memanfaatkan uang lembur saja.

Karena sudah telanjur mengambil kredit dipotong cicilan setiap bulan, kita ambil saja hikmahnya di balik itu. Hikmahnya adalah, kita sudah menjadi terbiasa dipotong sejumlah tertentu cicilan di awal. Artinya kalau cicilannya nanti sudah lunas, kita bisa tetap minta dipotong sejumlah cicilan tersebut, tentu saja bukan sebagai pembayaran utang, tapi dijadikan setoran investasi. Kalau selama ini tidak ada masalah dipotong untuk cicilan, tentunya tidak ada masalah juga dipotong untuk investasi. Iya kan? Demikian dari saya, mudah-mudahan bisa membantu. Salam untuk teman-teman di sana.

Salam.
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan