MENGELOLA UANG YANG PAS-PASAN
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Harian Republika, Januari 2006

Bapak Gozali yg terhormat,
Nama saya Nieken, saya masih kuliah di UGM semester 5. Setahun yang lalu ayah saya (Dosen PTN di Yogya) meninggal dunia karena sakit diabetes. Saya anak kedua dari dua bersaudara, kakak saya (perempuan) telah menikah dan ikut suaminya.

Sekarang saya tinggal berdua dengan ibu saya, karena ibu menderita katarak dan glaukoma pada kedua matanya, sehingga mengalami kebutaan, maka ibu tidak dapat bekerja. Saat ini kami hanya mengandalkan uang pensiun ayah (Rp500 ribu/bln), beasiswa (Rp100 ribu/bln), dan sedikit kiriman dari kakak yang tidak tentu jumlahnya.

Yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara saya mengelola keuangan keluarga yang tidak seberapa tersebut, karena kami pun tidak mempunyai tabungan/deposito, karena selama ayah sakit telah habis untuk berobat. Padahal saya masih kuliah, yang tentu saja butuh banyak biaya, sedangkan untuk kerja sambilan tidak mungkin, karena ibu tidak dapat saya tinggalkan di rumah sendirian terlalu lama. Sebenarnya saya ingin sekali membuka usaha di rumah, karena selain menambah penghasilan juga tidak perlu keluar rumah dan bisa sekalian menjaga ibu.

Tetapi usaha apa yang dapat dikerjakan di rumah, padahal waktu saya yang separuh habis untuk kuliah. Selain itu rumah kami didalam kompleks gang, yang tidak strategis. Memang di lingkungan kami banyak kos-kosan, tetapi misalnya membuka toko/warung makan, sudah banyak yang melakukannya. Bahkan setiap jeda dua rumah ada toko/fotokopi/laundry/warung makan, di sepanjang jalan utama kompleks.

Selain itu kendala permodalan, misalnya ada modal untuk usaha saya bisa pinjam kepada paman saya maksimum Rp 5 juta, karena untuk mengajukan kredit di bank, ibu takut bila harus menggunakan agunan. Karena kami hanya mempunyai rumah tersebut dan sepeda motor yang masih sangat saya perlukan.

Sebenarnya saya hobi memasak roti, bahkan saya punya ide untuk menjual French-pie, mengingat kue tersebut enak, namun belum ada yang menjualnya, kecuali hotel2/bakery2 besar di Jakarta, Bandung, Surabaya. Tapi saya bingung dalam menentukan langkah, harus mulai dari mana, dan bagaimana mengatur modal, tempat usaha yang tepat, serta yang paling utama jalur pemasarannya. Saya takut merugi dan malah makin membebani ibu yang sudah sakit, dan juga takut kalau kuliah yang tinggal sedikit lagi ini, malah gagal/DO. Saya ingin berhasil dan sukses di keduanya. Atas perhatian Bapak Gozali saya ucapkan terima kasih.


Jawaban:

Assalamu'alaikum wr wb.
Mbak Nieken, sebelumnya saya turut prihatin dengan kondisi Anda sekarang ini. Anda memiliki dua pilihan dengan kondisi ini. Yaitu Anda putus asa di tengah kesulitan, atau Anda jadikan kesulitan ini sebagai motivasi untuk keluar dari permasalahan. Mengenai pengelolaan uang, sesuaikan pengeluaran Anda dengan penghasilan yang diterima. Bukan cuma sesuai jumlahnya agar tidak defisit. Tapi sesuaikan juga pola penerimaannya.

Sumber penerimaan Anda saat ini yaitu uang pensiun dan beasiswa yang bersifat tetap, dan uang kiriman dari kakak yang sifatnya tidak tetap. Bagi juga pengeluaran Anda menjadi pengeluaran yang rutin/tetap, dan pengeluaran yang tidak tetap/rutin. Pengeluaran rutin hanya boleh dibiayai dengan penghasilan yang rutin pula. Sedangkan pengeluaran yang tidak rutin bisa mengandalkan pengeluaran yang juga tidak rutin.

Dalam kasus Anda, pemasukan rutin Anda adalah sebesar Rp 600 ribu/bulan. Artinya pengeluaran rutin seperti untuk makan, transpor, iuran/rekening rutin lainnya tidak boleh lebih dari ini. Sedangkan untuk pengeluaran yang tidak rutin seperti membeli buku kuliah, perawatan rumah & kendaraan sifatnya bisa menunggu sampai uang kirimannya datang. Tapi tentunya tidak baik juga terus-menerus mengandalkan bantuan dari orang lain. Karena tentunya kakak Anda juga memiliki kebutuhan sendiri untuk keluarganya. Untuk itu, Anda juga perlu mengusahakan adanya penghasilan tambahan.

Dengan banyaknya usaha di sekitar rumah, itu bisa berarti positif bahwa pasarnya cukup besar, atau berarti negatif bahwa persaingan sudah terlalu ketat. Begitu juga dengan belum adanya yang menjual roti seperti yang Anda buat. Bisa berarti negatif bahwa pasarnya belum terbentuk, tapi juga bisa berarti positif bahwa peluangnya sangat besar tanpa pesaing.

Bagaimanapun cara Anda memandangnya, perlu diperhatikan kondisi Anda di mana waktu terbatas dan modal maksimal 5 juta rupiah. Untuk membuka toko rasanya tidak baik jika buka hanya setengah hari saja. Yang memungkinkan justru usaha tanpa tempat agar tidak perlu menunggui setiap saat. Misalnya usaha kredit pakaian keliling/di kampus, MLM, atau lainnya.

Untuk usaha roti, mungkin akan lebih baik Anda memproduksinya saja dan biarkan produknya dipasarkan oleh pihak lain. Coba datangi beberapa restoran/bakery/hotel & berikan penawaran untuk mensuplai secara rutin roti tersebut. Anda bisa memproduksi dengan jadwal yang teratur dan tidak usah pusing dengan pemasaran dan penjualan yang memakan banyak waktu.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan