MEMPERSIAPKAN DANA PENSIUN
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Harian Republika, April 2006

Assalamu'alaikum wr wb
Saya penggemar Republika edisi Ahad, terutama rubrik PKK yang diasuh Ahmad Gozali, Safir Senduk, dan rekan. Suami saya Insya Allah pensiun dari PT AHM pada Maret 2008 dengan masa kerja 33 tahun. Saya sendiri PNS di Pemda DKI.

Saat ini kami sedang bimbang, apa kegiatan suami setelah pensiun?
Wiraswata atau investasi apa? Pertanyaan saya:

  • Seberapa perlukah seseorang berwiraswasta setelah pensiun?
  • Berapa perkiraan biaya pendidikan yang diperlukan anak ke-3? (Dipersiapkan ingin kuliah di Mesir)
  • Bagaimana caranya untuk mengetahui syariah atau tidak dari bagi hasil yang saya terima setiap bulan?
  • Bagaimana dan dimana saya bisa mendapatkan informasi tentang investasi Reksadana Syariah?

Mohon saran dan solusi yang tepat. Jazakumullah.

Wassalamu'alaikum wr wb
Ummi Rara
Depok


Jawaban:

Wa'alaikum salam wr wb
Ummi Rara, senang sekali menerima surat Anda untuk kami. Mudah-mudahan rubrik ini bisa banyak membantu Anda dan pembaca lainnya dalam merencanakan dan mengelola keuangannya dengan lebih baik lagi. Mengenai rencana pensiun suami Anda, memang sebaiknya sedari sekarang direncanakan dengan baik agar sudah siap pada saatnya tiba. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh suami Anda pasca pensiun nanti sebetulnya akan lebih baik jika dijawab sendiri oleh yang bersangkutan. Karena hal ini sangat menyangkut sekali dengan keinginan dan impiannya. Kita tentunya memahami, sudah puluhan tahun bekerja, maka pada saat pensiun adalah saat untuk bisa mewujudkan impiannya.

Namun kita juga tidak bisa melupakan kenyataan bahwa mungkin saja pada saat pensiun nanti masih diperlukan penghasilan yang memadai untuk biaya hidup dan biaya pendidikan anak Anda. Hal ini mengingat bahwa anak Anda yang ketiga masih belum selesai pendidikannya begitu suami Anda pensiun. Pilihannya memang bisa saja dilakukan dengan cara berwirausaha, atau berinvestasi. Kedua pilihan ini bisa dijalankan salah satunya, atau malah keduanya. Karena keduanya memiliki plus-minus sendiri.

Berinvestasi relatif lebih aman dan tidak banyak memakan waktu, bahkan bisa dikatakan modal utama dalam berinvestasi hanyalah modal finansial. Sehingga hal ini lebih cocok untuk dilakukan bagi pensiunan yang sudah tidak mau lagi terlibat dengan aktivitas rutin. Namun kelemahannya adalah, investasi dalam produk keuangan tentunya memiliki hasil yang relatif lebih kecil daripada membuka usaha sendiri.

Sedangkan berwirausaha memerlukan bukan hanya modal finansial saja, tapi juga keahlian, dan tentunya waktu. Memang, potensi keuntungannya bisa jauh lebih besar dari pada hanya berinvestasi pada produk keuangan saja, tapi resikonya juga sebanding sama besarnya. Jika suami Anda memiliki fisik dan keahlian yang memadai, saya fikir berwirausaha seharusnya menjadi pilihan kegiatan pascapensiun nanti.

Sebagai jalan tengah, investasi bisa dilakukan pada suatu usaha yang dilakukan oleh orang lain. Sehingga tidak diperlukan kegiatan fisik dan waktu yang rutin, namun memiliki potensi hasil yang relatif memadai. Hanya saja memang, resikonya kadang-kadang bisa lebih besar lagi daripada membuka usaha sendiri karena kita tidak memiliki kontrol yang penuh atas kegiatan usaha tersebut. Saran saya bu, perkirakan terlebih dahulu pengeluaran yang diperlukan pasca pensiun nanti. Lalu, bandingkan dengan uang pesangon yang didapatkan. Sehingga bisa dihitung dengan baik berapa kekurangannya, dan dengan cara apa yang paling ideal untuk mengantisipasinya.

Berinvestasi pada usaha ini sepertinya sudah Anda jalankan selama ini dengan berinvestasi pada usaha milik teman Anda sendiri. Berkaitan dengan pertanyaan Anda mengenai bagi hasilnya, saya perlu jelaskan satu hal. Bahwa yang namanya bagi hasil, adalah pembagian hasil usaha yang betul-betul berasal dari hasil usaha. Artinya, besar kecilnya hasil usaha akan menentukan berapa bagi hasil yang diterima. Misalnya 40% dari keuntungan bersih, 20% dari keuntungan kotor, atau 15% dari omzet. Angkanya sendiri bisa disepakati, yang penting adalah keridhaan kedua belah pihak. Dan tidak ada bagi hasil yang pasti ditetapkan rupiahnya di muka, karena kalau sudah ditetapkan di awal, itu sama saja dengan riba.

Mengenai biaya pendidikan di Mesir untuk anak Anda yang ketiga, setahu saya pemerintah Mesir menyediakan beasiswa yang sangat besar untuk masyarakat Indonesia. Bahkan kalau tidak salah, beasiswa terbanyak yang diterima mahasiswa Indonesia adalah beasiswa dari Mesir. Sehingga bisa dikatakan kuliah di sana gratis. Yang masih perlu Anda persiapkan mungkin hanyalah biaya hidupnya saja. Sayangnya kami tidak memiliki data yang memadai. Untuk itu Anda bisa berkonsultasi dengan kedutaan besar, atau mahasiwa senior yang berpengalaman.

Sedangkan untuk mengetahui lebih dalam mengenai reksa dana syariah, Anda bisa membaca buku Halal, Berkah, Bertambah: Mengenal & Memilih Investasi Syariah karangan saya sendiri. Jika kesulitan dalam mencarinya, Anda bisa menghubungi dala@perencanakeuangan.com untuk memesannya langsung.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan