INVESTASI PADA SAHAM
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Harian Republika, Agustus 2006

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Nama saya Ratna. Saya seorang mahasiswi yang baru saja melanjutkan kuliah setelah vakum selama 4 tahun dikarenakan bekerja. Sekarang ini saya sudah resign dari pekerjaan dan saya ingin kuliah sambil melakukan bisnis atau kegiatan usaha lainnya sehingga tabungan saya tidak habis begitu saja untuk biaya kuliah (tabungan saya saat ini sekitar Rp 300 juta ). Banyak teman-teman saya yang meyarankan untuk membeli saham. Namun pengetahuan saya tentang saham sangat minim. untuk itu saya mohon penjelasan bapak sedetail-detailnya.

Saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Jawaban:

Wa'alaikum salam wr wb
Memang betul saran dari teman-teman Anda, sebaiknya Anda manfaatkan sebaik mungkin dana yang ada sekarang agar tidak habis begitu saja untuk biaya kuliah. Anda sebaiknya mengalokasikan dana tersebut agar bisa berkembang dengan baik, tanpa harus mengganggu kegiatan utama Anda kuliah. Untuk itu perlu dicari alternatif investasi atau bisnis yang bisa dijalankan tidak secara full time, mudah diawasi, dan beresiko rendah.

Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah memisahkan terlebih dahulu biaya yang diperlukan untuk kepentingan kuliah. Selain iuran dari kampus, perhitungkan juga biaya penunjang lainnya seperti pembelian buku, riset, dan sebagainya. Begitu juga dengan biaya hidup Anda selama masa kuliah, karena Anda tidak lagi bekerja, maka sisihkan juga untuk biaya hidup selama kuliah. Masukkan dana ini kedalam rekening tabungan dan deposito yang jangka waktunya disesuaikan dengan keperluan Anda. Misalnya, biaya hidup tiap 3 bulan dimasukkan kedalam rekening tabungan. Dan sisanya masuk dalam deposito 3 bulanan. Selanjutnya setiap deposito cair, ambil untuk biaya hidup 3 bulan berikutnya, dan sisanya kembalikan dalam bentuk deposito. Begitu juga dengan biaya kuliah, masukkan dalam deposito dengan jangka waktu 6 bulan. Setiap depositonya cair, ambil untuk biaya kuliah satu semester kedepan, dan sisanya kembalikan dalam deposito. Hal ini selain memaksimalkan investasi Anda daripada hanya dalam tabungan saja, juga mengamankan dana Anda dari "tangan jahil" Anda sendiri.

Nah, sisa dananya bisa Anda alokasikan dalam bentuk investasi. Karena biaya hidup sudah terjamin selama masa kuliah, dan Anda berencana untuk bekerja kembali setelah kuliah. Maka investasinya bisa Anda lakukan secara agresif, tentunya dengan tetap mempertimbangkan juga faktor resikonya. Salah satu bentuk investasi yang cukup agresif adalah dengan berinvestasi pada saham. Investasi ini dikatakan agresif karena bisa diharapkan memberikan keuntungan yang cukup besar dalam waktu singkat, namun juga memiliki resiko yang cukup tinggi.

Anda bisa mendapatkan keuntungan dari investasi pada saham ini dengan dua cara. Pertama, keuntungan jual-beli. Yaitu menjual saham ketika harganya naik melibihi daripada harga belinya. Keuntungan ini dinamakan sebagai capital gain. Selain itu, Anda juga bisa mendapatkan keuntungan berupa deviden atau laba bersih yang dibagikan kepada para pemegang saham.

Saham adalah surat berharga berupa bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan. Saham dapat diperjualbelikan, terutama di bursa saham sehingga harganya bisa naik atau turun. Harga saham bisa naik-turun karena dua hal. Pertama, karena faktor fundamental, yaitu aspek perusahaan itu sendiri. Misalnya, perusahaan mendapatkan keuntungan atau laba. Terkadang, keuntungan yang belum terealisasi pun bisa menaikkan harga saham. Misalnya, ada perusahaan konstruksi yang memenangkan tender pembangunan jalan tol. Walaupun belum terealisasi, tapi para investor sudah bisa memperkirakan perusahaan tersebut akan untung besar. Oleh karena itu banyak investor yang berminat, dan akhirnya harga sahamnya pun menjadi mahal. Atau sebaliknya, pabrik yang berlokasi di Yogyakarta mengalami kerusakan sehingga tidak bisa berproduksi secara penuh, hal ini bisa menurunkan harga saham.

Sebab kedua, naik-turunnya harga saham adalah karena faktor teknikal. Jika harga saham pada umumnya turun, maka bisa jadi harga saham lain bisa ikut turun juga. Hal ini bisa jadi disebabkan hanya karena isu saja. Misalnya karena ada isu bahwa bunga bank akan naik. Tentunya investor ada yang berfikiran untuk investasi di bank saja yang lebih terjamin sehingga menjual saham. Otomatis harga saham pada umumnya turun.

Investasi pada saham bisa dilakukan dengan membuka rekening pada salah satu sekuritas yang menjadi broker di bursa saham. Setiap kali melakukan jual-beli saham, Anda harus menggunakan broker ini sebagai perantara transaksi. Mereka juga biasanya memberikan saran saham apa saja yang sebaiknya dibeli, dan saham apa saja yang sebaiknya dijual. Namun keputusannya tetap di tangan Anda. Anda bisa memegang saham dalam jangka panjang sehingga tidak pengaruh isu dan berharap dari keuntungan deviden, dan capital gain dalam jangka panjang. Atau Anda bisa jual-beli saham secara aktif, atau day-trading, dengan memanfaatkan naik turunnya harga saham dalam jangka pendek.

Investasi pada saham ini menjadi sangat beresiko ketika Anda melakukan day-trading di mana harga saham bisa naik dan turun dengan sangat fluktuatif dalam jangka pendek. Saya sangat tidak menyarankan Anda untuk melakukan hal ini jika tidak memiliki pengetahuan yang memadai, atau tidak didampingi oleh tenaga profesional sebagai analis Anda. Jika Anda tertarik, Anda bisa investasi saham dalam jangka panjang saja. Yaitu dengan membeli saham perusahaan yang kira-kira memiliki kinerja yang baik dan tetap prospektif dalam jangka panjang.

Untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang investasi pada saham, ada banyak web site perusahaan sekuritas atau pialang on-line yang memberikan edukasi tentang hal ini. Silakan pelajari sampai yakin. Jika belum yakin juga, hindari saja. Demikian dari saya, semoga bisa cukup membantu. Jangan sungkan menghubungi kami kembali untuk berdiskusi lebih lanjut.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan