Dikutip dari Harian Republika, 18 November 2007
Assalamualaikum wr wb
Salam hormat,
Saya seorang PNS, mempunyai tabungan sebesar Rp 13 juta. Saya ingin menginvestasikan tabungan saya dengan harapan nantinya akan berkembang. Kemudian, saya mendapati pilihan antara reksadana atau deposito. Yang jadi pertanyaan saya:
Atas perhatian dan jawabanya, saya mengucapkan banyak terima kasih.
Waalaikumussalam wr wb,
Ibu Fitri,
Memiliki investasi memang hampir bisa dikatakan sebagai sebuah keharusan. Karena
sekarang ini, di Indonesia, kenaikan harga alias inflasi hampir pasti terjadi
setiap tahun. Tahun ini saja, diperkirakan inflasi bisa mencapai 7%. Sekarang,
bandingkan angka inflasi tersebut dengan kenaikan gaji Anda di tahun ini.
Kalau gaji Anda tidak naik, atau naik namun masih di bawah angka inflasi, itu artinya kita memang tidak bisa hanya mengandalkan gaji saja untuk keperluan di masa depan. Sekarang saja sudah cukup sulit, apalagi nanti ketika harga makin naik. Oleh karena itu, setiap harta yang kita miliki sekarang, sedapat mungkin kita investasikan agar bisa berkembang.
Nah, berkaitan dengan pertanyaan Anda yang bingung memilih antara reksadana dan deposito, saya rasa kedua produk ini punya tujuan yang berbeda. Deposito cocok digunakan untuk menyimpan dana cadangan. Sebab, deposito bisa dikatakan sangat aman. Saldo tidak mungkin berkurang. Jadi, kalau tujuannya adalah menyimpan dengan aman maka deposito sangat cocok.
Tapi jangan harap bisa 'untung' dengan deposito. Karena kalau dilihat dari bunga atau bagi hasil deposito saat ini berkisar antara 4% - 6% masih dipotong pajak penghasilan 20%, angka ini jelas lebih kecil dari inflasi. Jadi bisa dikatakan, uang yang disimpan dalam deposito malah berkurang nilainya karena harga-harga naik melebihi bunga deposito. Maka saran saya, simpan deposito dalam jumlah tertentu yang menurut Anda cukup aman sebagai cadangan keuangan Anda.
Mengenai reksadana, memang berinvestasi di reksadana bisa memberikan hasil yang cukup besar. Hasilnya bervariasi mulai dari hasil yang sama dengan deposito, yang keuntungan bisa sampai 40% per tahun bahkan lebih, tapi bisa juga malah rugi alias negatif. Itu semua tidak bisa dijanjikan di awal, melainkan tergantung pada kinerja portofolio yang diatur oleh manajer investasi. Inilah yang disebut dengan investasi. Ada potensi keuntungan, ada pula potensi kerugian.
Saran saya, jangan semua tabungan Anda diinvestasikan dalam reksadana. Simpan sebagian, misalnya saja Rp 5 juta dalam deposito, lalu sisanya yang Rp 8 juta Anda masukkan ke dalam reksadana. Sehingga, kalaupun ada sesuatu di luar perkiraan, Anda masih pegang cadangan uang Rp 5 juta yang bisa ditarik dengan cepat. Dan Anda tetap punya peluang keuntungan lewat investasi pada reksadana dengan sisa uang Anda.
Mengenai pilihan produknya, saya rasa tidak etis jika saya sampaikan di media
seperti ini. Dan informasi yang Anda sampaikan pun belum cukup memadai bagi
kami untuk bisa memberikan rekomendasi. Untuk mendapatkan rekomendasi yang lebih
tepat, saya sarankan agar Anda berkonsultasi langsung dengan penasehat investasi
atau perencana keuangan.
Selamat berinvestasi.
Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi