Dikutip dari Tabloid NOVA No. 949/XVIII
Pak Safir, nama saya Rahmat (28 tahun). Saya bekerja pada sebuah perusahaan swasta di Jakarta dengan gaji Rp. 3 juta tiap bulan. Selain itu istri saya juga bekerja di sebuah RS dengan gaji Rp. 800.000/ bulan. Pos pengeluaran saya setiap bulan adalah sebagai berikut: Tabungan Simphoni sebesar Rp. 100.000/ bln, Tapenas Anak kedua Rp. 200.000/bln, DPLK istri (langsung di potong dari gaji) sebesar Rp. 200.000/bln. Total Tabungan Bulanan saya adalah Rp 500.000 /bln.
Terima kasih,
Jawab:
Halo Pak Rahmat,
Oke, Anda memang tidak cerita tentang berapa usia anak Anda sekarang. Tapi saran saya, coba lihat lagi polis asuransi Anda, dan hitung berapa yang akan Anda dapatkan dari perusahaan asuransi Anda pada saat anak Anda masuk sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA hingga, Perguruan Tinggi.
Misalnya saja, pada saat ini usia anak Anda 2 tahun. Setelah Anda cek, pada saat masuk SD sekitar 4 tahun lagi, Anda akan mendapatkan dana pendidikan sebesar Rp 10 juta. Pertanyaannya sekarang, kira-kira 4 tahun lagi apakah mungkin biaya masuk SD sebesar Rp 10 juta? Kalau mungkin, syukur. Tetapi kalau tidak mungkin (Anda memperkirakan biaya masuk ke SD yang Anda inginkan adalah Rp 15 juta), ini berarti Anda harus menambah lagi nilai polis asuransi pendidikan Anda sehingga pada saat masuk SD nanti Anda akan mendapatkan Rp 15 juta. Begitu seterusnya kita gunakan perhitungan yang sama untuk menghitung nilai masuk SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.
Sekarang tentang membeli rumah. Aduh pak, pendapatan Anda sih saya bilang mencukupi kok. Tinggal apakah sekarang Anda punya simpanan uang untuk membayar Uang Muka Rumah itu atau tidak. Katakan saja nilai rumah Anda Rp 80 juta. Biasanya, uang muka yang diminta adalah sekitar 30 persennya, atau sekitar Rp 24-25 juta. Apakah Anda punya uang sebesar itu untuk uang muka? Coba cek lagi uang Anda di tabungan, deposito dan semacamnya. Kalau punya, bagus. Tapi kalau tidak, berarti Anda harus kumpulkan dulu uangnya supaya rumah itu bisa terbeli.
Bagaimana caranya? Alternatif pertama, Anda harus menabung dulu, mungkin sekitar 6-12 bulan. Paling lambat 18 bulan. Ini berarti, mungkin rumah itu baru bisa terbeli tahun 2007. Kalau Anda ingin membelinya tahun ini juga, berarti Anda harus cari pinjaman. Alternatifnya kemana? Kantor. Atau bisa juga ke bank lain. Siapa tahu Anda bisa dapat pinjaman dari produk semacam Kredit Tanpa Agunan.
Lalu, investasi jangka pendek apa yang baik di tahun 2006 ini? Coba saja masuk deposito. Sekarang suku bunga deposito sedang lumayan lo, bahkan cenderung tinggi. Dan deposito kan ada pilihan jangka waktunya, mulai dari 1, 3 hingga 6 bulan.
Nah Pak, mudah-mudahan jawaban saya mencukupi.
Salam.
Saya masih memiliki bonus tambahan yang bisa saya dapat setiap bulan sebesar Rp. 1.200.000. Pengeluaran tiap bulan adalah: rekening listrik sekitar Rp. 70.000, air sekitar Rp. 70.000, belanja bulanan Rp. 800000, susu anak Rp 700.000. Pengeluaran masih harus ditambah biaya asuransi pendidikan anak sebesar Rp. 2.500.000 / tahun. Yang ingin saya tanyakan adalah:
Rahmat - somewhere
Menjawab pertanyaan Anda mengenai cukup tidaknya jumlah yang Anda tabungkan untuk anak Anda, sebenarnya itu bukan terletak pada berapa jumlah yang Anda setorkan ke perusahaan asuransi, tetapi berapa rupiah dana pendidikan yang akan Anda dapatkan setiap kali anak Anda masuk sekolah.
Safir Senduk
Perencana Keuangan
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi