Ibu NN,
Satu hal yang paling penting untuk diperhatikan jika kita
ingin terbebas dari hutang, adalah niat kuat kita untuk mau membayar hutang
kita, apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya. Karena yang namanya sudah
kewajiban, maka sedapat mungkin kita lunasi. Nah, perasaan tidak enak Anda itu
merupakan indikasi yang baik, artinya Anda merasa ingin segera melunasi hutang
Anda. Karena banyak juga lho yang tidak punya itikad baik untuk segera
melunasi hutang. Dengan alasan kondisi keuangan sedang kurang baik lah,
terpakai untuk ini itu lah, dan lainnya. Baik itu alasan yang memang benar,
maupun alasan yang dibuat-buat supaya benar. Jangankan merasa tidak enak
karena punya hutang, merasa punya hutang pun tidak.
Dengan adanya itikad yang kuat untuk melunasi hutang, maka
kita akan terpacu untuk bisa mengelola keuangan kita lebih baik lagi, dan
bukannya mencari kambing hitam agar bisa menunda atau mengurangi pembayaran
hutang kita. Dengan penghasilan Rp 2 juta, sepertinya bukan masalah besar
untuk bisa melunasi pinjaman sebesar Rp 7 juta tersebut. Selama hutang
tersebut tidak berbunga dan terus berbunga, Anda bisa melunasinya dengan baik.
Tentunya tidak perlu memaksakan diri menunggu dapat rezeki
lebih dan langsung melunasi hutang Rp 7 juta tersebut, karena itu sama saja
dengan mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh teman Anda yang memberi
hutang. Buat saja komitmen untuk membayar hutang tersebut secara bertahap
alias diangsur. Misalnya, Anda punya komitmen untuk mencicil Rp 200 ribu
setiap bulan. Maka dalam waktu 14 bulan, hutang Anda sudah lunas. Percayalah,
walaupun sedikit demi sedikit mengangsur, hal ini akan lebih baik bagi Anda
dan peminjam, daripada mencari cara untuk bisa melunasinya dengan cepat, tapi
tidak juga dijalankan. Bagi peminjam, angsuran merupakan kepastian, sehingga
hal ini bisa menjaga hubungan baik diantara Anda berdua.
Ingat, pembayaran cicilan hutang itu lebih prioritas
daripada memenuhi biaya hidup yang lebih banyak bersifat keinginan daripada
kebutuhan. Agar tidak merasa terlalu berat membayar hutang Rp 200ribu padahal
penghasilan cuma Rp 2 juta, potong penghasilannya di awal. Sebelum dipakai
untuk yang lain, potong dulu untuk bayar hutang, anggap saja penghasilan Anda
hanya Rp 1,8 juta.
Saya tidak tahu Anda tinggal dimana dan apakah Anda punya
anak kecil atau tidak sehingga saya tidak tahu berapa sih kebutuhan minimum
keluarga Anda. Tapi prinsipnya sederhana saja untuk penghasilan berapapun.
Kalau Anda merasa penghasilan Anda 2 juta, maka Anda akan mensetting
pengeluaran pun sebesar 2 juta. Tapi kalau Anda merasa penghasilan hanya Rp
1,8 juta, maka yang ada di kepala adalah pengeluaran sebesar Rp 1,8 juta saja.
Selamat mencoba, semoga jalan Anda dimudahkan oleh yang
Maha Kuasa.
Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan