INGIN BUKA USAHA TOKO ROTI
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari CBN CyberSHOPPING

Dengan hormat.

Pak Gozali, langsung saja ya.

Saya ibu rumah tangga yang sudah punya anak satu dan sekarang bekerja di perusahaan swasta. Sebenarnya dari dulu saya ingin berhenti kerja & buka usaha sendiri. Oya Pak, saya punya hobi masak dan buat roti.

Yang ingin saya tanyakan, Pak: saya punya oo yg pintar buat roti bakery dan dia bersedia kerjasama dengang saya untuk membuka usaha roti, tapi saya masih ragu karena saya lihat pedagang roti sudah banyak sekali dengan bermacam-macam merek. Kalau menurut Bapak, masih adakah harapan untuk usaha roti di Jakarta ini untuk maju dan berkembang?

Satu lagi, Pa, Bapak tahu nggak bagaima caranya kalau kita ingin menitipkan barang dagangan kita berupa makanan ke pusat2 belanja seperti Alfa Market, Indomart, Carefour, dll?

Sebelumnya saya ucapakan terimakasih atas saran dari Bapak.

Tyana --- jakarta


Jawaban:

Halo Ibu, apa kabar ? Senang menerima email dari Ibu.

Saya salut dengan keinginan Ibu untuk membuka usaha sendiri, karena disamping bisa memaksimalkan hobi, tentunya berperan serta mengentaskan pengangguran yang makin berlimpah sekarang ini. Rencana ibu untuk membuka toko roti sebuah ide yang tepat, apalagi ibu hobi buat roti, dan mempunyai partner bisnis yang pintar buat roti. Kloplah.

Meskipun diluaran sudah beredar banyak roti dengan bermacam-macam, saya yakin Ibu masih punya celah yang digarap. Pangsa pasar roti belum jenuh , asalkan didukung inovasi dan kreatifitas produk , jadi buatlah roti yang belum ada dipasaran atau carilah segmen pasar yang belum banyak pemainnya. Upaya lain adalah terus mengupdate pengetahuan baru bagaimana teknik pembuatan roti. Perlu juga melakukan observasi kepada calon konsumen agar tanggap dan cepat menyesuaikan diri dengan selera konsumen. Bisa juga menanbah service lain seperti layanan siap saji dan siap antar, atau menerima pesanan via telepon.

Kemudian bila ingin menitipkan barang dagangan kita berupa makanan ke pusat belanja seperti Alfamart, Carefour dll, terlebih dahulu hubungi Divisi yang menangani supplier di supermarket tersebut. Mintalah detail dan jelas tentang skema kerja sama yang ditawarkan supermarket tersebut karena tiap supermarket mempunyai sistem yang berbeda-beda. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah kualitas dan kuantitas barang yang diminta. Kemudian harga yang disepakati apakah sudah menutupi semua ongkos produksi dan memberi keuntungan. Teliti juga bagaimana sistem pembayarannya agar tidak menganggu arus kas usaha Ibu. Kemudian bagaimana pengiriman produknya apakah sesuai dengan kemampuan produksi Ibu, pengemasan, dan perhatikan soal retur (pengembalian bila tidak laku terjual).

Biasanya supermarket besar menggunakan sistem konsinyasi (titip jual) bagi para pemasoknya, dengan margin yang didapat sekitar 10 – 15 %. Margin ini diperoleh dari selisih antara harga dari pemasok dengan harga penjualan. Hanya yang agak disayangkan masih banyak supermarket yang menerapkan sistem ini dalam tempo 2 – 3 bulan.. Kondisi ini menyebabkan pemasok harus siap permodalan yang besar untuk menutupi ongkos produksi berikutnya.

Demikian, sukses selalu untuk bisnis Ibu.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan