Dikutip dari Harian Republika, Mei 2006
Mas Gozali,
Kami pun membuat perencanaan biaya pernikahan kami. Ternyata di tengah jalan terjadi beberapa hal yang memaksa kami harus mempertimbangkan kembali beberapa hal mengenai resepsi pernikahan. Hal yang terutama adalah masalah gedung. Mengingat mahalnya menyewa gedung untuk resepsi, kami berdua ingin memindahkan acara resepsi ke rumah saja, tapi hal itu ditolak mentah-mentah oleh calon mertua, katanya, jika di rumah tidak bisa menampung banyak tamu.
Kalau boleh diterangkan apa keuntungan menikah di rumah dengan menikah di gedung dari segi keuangan? Selain itu kami juga bingung jika semua tabungan kami gunakan untuk membiayai resepsi pernikahan, selanjutnya kami harus memulai dari nol lagi untuk menabung. Apa yang sebaiknya kami lakukan? Apakah kami perlu menjelaskan masalah ini kepada orangtua? Setelah menikah apa yang sebaiknya kami lakukan dalam hal keuangan? Mohon sarannya
OS----Makasar
Barakallah, semoga Allah memberkati Anda berdua dan menyatukan Anda berdua dalam kebaikan. Pernikahan memang sering menjadi hal sensitif, terutama perbedaan pandangan antara kedua calon pasangan mempelai dan keluarga masing-masing. Idealnya, pernikahan itu harus disegerakan seperti halnya membayar hutang dan menguburkan jenazah. Maka prosesnya juga sebaiknya dipermudah dan tidak dipersulit dengan hal-hal yang tidak prinsip.
Namun di lain pihak, kita juga harus menghormati keinginan pihak lain terutama orang tua. Ingat, pernikahan bukan hanya melibatkan Anda berdua, tapi juga ''menyatukan'' kedua keluarga. Maka keharmonisan rumah tangga Anda juga tergantung dari keharmonisan Anda berdua dengan kedua keluarga.
Perhelatan yang diadakan gedung memang bisa menampung lebih banyak tamu dan lebih efisien karena Anda tidak perlu repot lagi dengan urusan tetek bengek yang merepotkan. Tentu saja konsekuensinya adalah biaya yang lebih besar. Hal ini sebenarnya bisa disiasati dengan mengadakan perhelatan di rumah saja, namun waktunya diadakan seharian seperti yang biasa dilakukan masyarakat di pulau Jawa. Saya tidak tahu bagaimana kebiasaan Anda di Makassar, tapi saya rasa itu bisa menjadi solusi untuk membuat daya tampung yang lebih besar.
Keputusan manapun yang akan diambil, komunikasikan dengan baik kepada orang tua kedua belah pihak. Jujur saja, terangkan kepada mereka keadaan keuangan Anda berdua. Insya Allah mereka bisa memberikan solusi yang bijaksana. Saran saya sih, sisakan tabungan Anda sebesar biaya hidup setidaknya untuk satu bulan ke depan, untuk cadangan.
Ingat juga, bahwa kehidupan akan berjalan terus tanpa terasa. Sedari sekarang, mumpung belum terlambat. Mulailah menabung demi masa depan keluarga Anda. Karena Anda tidak akan pernah tahu seperti apa kondisi keuangan Anda di masa depan. Mulailah dengan membentuk Dana Cadangan kira-kira 3 sampai 12 kali kubutuhan hidup Anda sebulan. Tidak usah mengharapkan langsung ada, pelan-pelan saja, yang penting konsisten. Dan mulailah pertimbangkan untuk melindungi pencari nafkah (suami Anda) dengan asuransi jiwa karena sudah memiliki tanggungan nafkah.
Salam,
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Insya Allah empat bulan lagi saya akan melangsungkan pernikahan. Bagi saya dan calon suami pernikahan yang kami inginkan adalah yang sederhana Tapi tidak demikian dengan keluarga dari pihak calon suami saya. Karena calon saya adalah anak laki-laki satu-satunya dan juga ini merupakan pernikahan pertama dalam keluarga mereka, calon mertua saya menghendaki diadakan pesta yang besar. Setelah menghitung jumlah tabungan kami berdua, kami merasa bisa memenuhi permintaan itu.
Jawaban:
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi