RAGU MENERUSKAN
USAHA MEBEL

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 716/XIV

Pak Safir yang terhormat,

Selama 10 tahun berumah tangga, rasanya selalu saja keuangan keluarga kami bergejolak. Saat tinggal di Jakarta, kami 10 kali pindah kontrak. Baru sedikit tenang setelah sekarang tinggal di kota B. Setelah tiga tahun berhemat dan menabung, kami bisa punya rumah sederhana. Namun gejolak muncul lagi setelah suami saya ingin membuka usaha mebel. Padahal dia sudah bekerja di perusahaan kayu. Alasannya, tak ingin terus-terusan diperintah orang. Saya awalnya menentang karena membayangkan besarnya modal. Tapi suami saya terus giat mencari dukungan dari sana-sini. Takut dia malah terjerat hutang, tabungan yang selama ini saya sisihkan dari uang belanja saya serahkan padanya untuk modal. Usaha ini akhirnya mulai jalan Mei lalu dan sudah menghasilkan beberapa mebel.

Bila dihitung seluruh pengeluaran kami sejak persiapan hingga kini sudah mencapai Rp 20 juta. Itu yang terbayar. Sedangkan yang belum terbayar ada Rp 1,6 juta. Inilah yang meresahkan saya karena saya tidak terbiasa berhutang. Kalau perlu, makan nasi dan garam saja tak mengapa asal tak punya hutang. Karena itu saya sangat berhitung untung-rugi. Tapi prinsip suami lain lagi, "Jalani saja dulu. Soal nanti, ya dipikir nanti." Belum lagi risiko pekerjaan suami yang dipertaruhkan.

Yang ingin saya tanyakan:

Sudah benarkah langkah-langkah saya? Terima kasih atas pengarahannya.

Nyonya C - Kota B


Jawab:

Ibu C di Kota B,

Saya dapat memahami persoalan yang Anda alami. Masalahnya di sini adalah bahwa suami Anda tidak takut untuk mengambil risiko (terutama risiko usaha), sedangkan Anda adalah orang yang sangat berhitung. Namun demikian, usaha mebel tersebut sudah dibuka. Tanggung, Bu. Ibarat perang, Anda sudah membakar jembatan yang sebelumnya Anda lewati. Jadi jalankan saja usaha mebel itu. Asal, jalankan usaha tersebut dengan hati-hati dan perhitungan yang matang. Hitung-hitung tantangan.

Mengenai masalah bahwa suami adalah orang yang tidak mengerti keuangan padahal dia adalah orang keuangan, wah bukan berarti orang yang bekerja di bagian keuangan otomatis paham pengelolaan keuangan keluarganya lho, Bu. Ini karena keluarga di Indonesia masih belum terbiasa merencanakan keuangan. Beda dengan keuangan perusahaan yang mungkin sedikit-sedikit harus direncanakan dan dibuat anggarannya. Jadi ada baiknya apabila suami diberikan kesadaran tentang pentingnya merencanakan keuangan keluarga.

Salah satu awal yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengajaknya untuk ikut membaca Rubrik Ulas Uang ini setiap kali NOVA terbit. Dengan demikian cepat atau lambat dia pasti akan memiliki motivasi untuk mau mengelola keuangan keluarganya. Tapi mengenai usaha mebelnya, tidak ada salahnya bila Anda memberikan dukungan penuh kepadanya. Dan mungkin ini kesempatan juga bagi suami Anda untuk bisa membuktikan apakah rencana usahanya bisa berjalan.

Membaca surat Anda, maka dibawah ini adalah saran saya untuk Anda :


Tentang Usaha Mebel Anda

Memang terkadang dalam menjalankan sebuah usaha tidaklah semudah yang kita bayangkan. Memang benar uang yang telah Anda keluarkan untuk usaha mebel jumlahnya cukup besar. Tapi anggap saja itu sebagai sebuah modal awal. Bukankah setiap usaha membutuhkan modal awal?

Sekarang coba kita lihat bagaimana sisi keuangan dari usaha mebel Anda. Pendapatan usaha ini berasal dari hasil penjualan barang-barang mebel. Hasil penjualan yang Anda ceritakan kurang lebih baru Rp 2.200.000. Kemudian pengeluaran sesuai perincian Anda­ bila dirata-rata per bulan - adalah sebagai berikut:

* Biaya Sewa Kios (Rp 5.000.000/ 12 bln) Rp 420.000
* Biaya Sewa Bengkel Kerja (Rp 800.000 / 4 bln) Rp 200.000
* Pembelian Kayu Rp 500.000
* Ongkos Makan Tukang Rp 300.000
Jumlah Rp 1.420.000

Melihat angka-angka tersebut di atas, setahu saya jumlah pengeluaran yang Anda lakukan masih tergolong wajar untuk sebuah usaha mebel. Jadi kenapa Anda tidak meneruskan saja usaha tersebut? Rugi di awal masih tidak apa-apa, mengingat orang mungkin belum terlalu mengenal usaha yang sedang Anda jalankan. Usaha mebel sendiri pada saat ini sudah cukup banyak, tapi kan belum semua orang tahu kalau Anda dan suami menjalankan usaha tersebut bukan? Sabar saja bu.

Ada satu hal yang harus Anda ingat bahwa setiap usaha pada umumnya mengalami kerugian pada masa-masa awal usahanya. Jadi jika Anda merasa pengeluaran Anda terlalu besar atau bahkan jika Anda merasa rugi, itu masih dalam batas kewajaran. Hampir tidak ada satu usaha pun yang tidak pernah rugi.


Tentang Anggaran Belanja Anda

Tindakan Anda untuk membuat anggaran atas uang kelebihan belanja yang Anda miliki sudah cukup baik. Tapi jika pada saat ini Anda tidak memberikan modal untuk usaha, rasanya kok kurang bijaksana. Ini pendapat saya yang obyektif lho, Bu, terlepas dari apakah suami Anda kurang baik dalam mengelola keuangan pribadinya. Ini karena saya lihat akan sayang sekali apabila Anda harus kehilangan sumber penghasilan tambahan untuk keluarga Anda.

Sebaiknya untuk beberapa bulan ke depan Anda tetap memberikan uang untuk tambahan modal usaha. Paling tidak selama setahun ke depan. Dan setelah itu lihat hasilnya. Untuk tambahan modal tersebut, Anda bisa coba mengambilnya dari alokasi anggaran yang Anda buat untuk arisan sebesar Rp 250.000.

Mengenai hutang Anda, ada baiknya apabila anggaran yang sudah Anda buat ditunda dulu pelaksanaannya sampai hutang-hutang Anda lunas. Untuk melunasi hutang tersebut, cobalah mencicilnya tiap bulan dari sisa anggaran Anda untuk cicilan beli tanah dan simpanan di bank sebesar Rp 350.000 per bulan.

Jadi perubahannya menjadi sebagai berikut :

Penggunaan Sisa Anggaran Per Bulan:

  • Asuransi Anak (Keinginan Anda 250.000 ) (Saran Saya 250.000 )
  • Cicilan Beli Tanah ( Keinginan Anda 250.000) (Saran Saya 0)
  • Arisan (Keinginan Anda 250.000) (Saran Saya 0)-
  • Simpan di Bank (Keinginan Anda 100.000) (Saran Saya 0)
  • Tambah Modal Usaha (Keinginan Anda 0) (Saran Saya 250.000)
  • Bayar Utang (Keinginan Anda 0) (Saran Saya 350.000)
Jumlah : Rp 850.000

Baru setelah pembayaran hutang Anda lunas, Anda bisa mengikuti anggaran yang Anda buat, yaitu Rp 100.000 per bulan untuk disimpan di bank, dan Rp 250.000 untuk cicilan beli tanah di kampung.

Untuk asuransi anak, baik sekali jika Anda tetap meneruskannya, karena paling tidak Anda dan suami dapat lebih tenang dalam bekerja jika biaya pendidikan anak Anda sudah terencana dengan baik.

Itu saja dari saya, Bu. Selamat menjalankan usaha, karena usaha apa pun, bila dijalankan dengan baik bisa memberikan hasil yang baik juga.



kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan