TOKO TIDAK PERNAH UNTUNG

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 674/XIII

Pak Safir yang terhormat,

Saya seorang gadis (27) yang tengah melanjutkan usaha milik kakak saya berupa toko kecil-kecilan. Awalnya, Agustus 1999 lalu kakak saya bersama dua temannya berpatungan membuka toko itu. Tujuannya untuk mengisi waktu karena mereka masih menganggur. Ketika kakak saya mendapat pekerjaan, kedua temannya ikut membubarkan diri. Toko itu kemudian pindah tangan ke saya dengan cara membelinya.

Saat ini saya bingung mengelolanya. Kakak berpesan, tiap hari harus ada simpanan. Tapi nyatanya, tiap hari ada saja barang yang harus saya beli, hingga uang tak bisa terkumpul. Apalagi selalu saja muncul jenis barang dagangan baru yang mesti saya beli karena toko ini memang belum begitu komplet.

Modal awal saya Rp 1.000.000 (pemberian orang tua) ditambah dari om saya Rp 500.000 (pinjaman). Jadi, semuanya Rp 1.500.000. Beberapa bulan kemudian, saya tambah lagi Rp 500.000 hingga menjadi Rp 2.000.000.

Yang juga ingin saya tanyakan, berapa persen laba per bulan yang mesti saya ambil? Berapa persen saya mesti bagi pada om saya karena dia juga yang menyediakan tempatnya? Saya bingung karena belum pernah punya pengalaman berdagang sebelumnya. Perlu diketahui, saat ini pemasukan toko berkisar Rp 900.000 hingga Rp 1.000.000 per minggu. Pengeluarannya pun hampir seimbang, malah pernah lebih besar. Karena itu, sampai sekarang saya belum balik modal, termasuk modal dari om saya.

Hingga saat ini saya juga belum pernah merasakan memperoleh laba. Saya hanya mengambil uang untuk transpor dari rumah ke toko Rp 2.500 per hari. Ditambah jajan 2 x Rp 3.000 per minggu. Pendeknya saya rela tidak punya uang untuk pegangan pribadi sepanjang toko saya tidak bangkrut. Kasihan, kan, orang tua saya kalau saya gagal.

Untuk melengkapi isi toko pun saya kesulitan karena tidak ada tambahan keuntungan berarti. Memang, saya memasang harga yang relatif lebih murah dari toko lain. Ini karena lokasi toko terletak di tepi jalan besar yang agak jauh dari perumahan. Hanya ada sedikit tetangga yang jadi pembeli.

EN - Bandung



Jawab:

EN di Kota Kembang,

Kalau Anda membuka usaha, maka Anda sebaiknya juga belajar mengenai ilmu akuntansi. Ilmu akuntansi bisa membantu Anda mengetahui apakah usaha Anda untung atau tidak, termasuk seberapa besar keuntungan atau kerugian dalam usaha Anda. Tidak perlu ilmu akuntansi yang rumit. Ilmu akuntansi yang sederhana juga sudah cukup untuk modal pengetahuan Anda dalam keuangan toko Anda. Anda bisa belajar dengan menggunakan buku-buku akuntansi untuk SMU. Dalam waktu singkat, Anda pasti bisa menyusun sendiri Laporan Keuangan untuk toko Anda, sehingga Anda bisa tahu mengenai bagaimana Laba Rugi dalam toko Anda dan berapa besar nilai barang dagangan yang pada saat ini masih ada di toko Anda.

Kalau pemasukan toko Anda sekitar Rp 1 juta seminggu, ini berarti dalam sebulan toko Anda bisa menghasilkan sekitar Rp 4 juta. Di sini, saya menyarankan agar setiap bulan Anda mengambil sekitar seperempatnya untuk honor atau gaji Anda, atau sekitar Rp 1 juta. Pengambilan pribadi seperti ini dalam ilmu akuntansi disebut prive (berasal dari kata private = pribadi). Dari uang itu, sebagian Anda ambil untuk "gaji' Anda, sebagian lagi Anda berikan kepada paman Anda untuk pengembalian modal yang ia benamkan di usaha tersebut.

Lalu seberapa besar pembagiannya? Wah, itu sih tergantung kesepakatan Anda. Kalau Anda mengatakan bahwa total modal yang Anda benamkan adalah Rp 1,5 juta dan paman Anda sebesar Rp 500 ribu dari keseluruhan modal awal yang Rp 2 juta, ini berarti Anda berhak atas tiga perempat dari prive yang Anda ambil setiap bulan, dan paman Anda berhak seperempatnya.

Hanya saja, mengingat lokasi toko itu adalah milik oleh paman Anda, maka tentu saja paman Anda berhak lebih banyak dari itu. Coba lihat berapakah tempat itu bila dinilai dalam rupiah. Sebagai contoh, kalau nilai tempat itu adalah Rp 40 juta, maka ini berarti total nilai modal yang dibenamkan paman Anda adalah Rp 40.500.000 . Sedangkan Anda tetap hanya Rp 1,5 juta. Ini berarti total nilai modal keseluruhan adalah Rp 42 juta. Nah, Anda tinggal hitung sendiri berapa persen sumbangan modal paman Anda tersebut mengingat dialah yang memiliki tempatnya. Lalu, hitung berapa pembagian prive-nya.

Bisa juga Anda bertemu lagi dengan paman Anda dan menawarkannya untuk mau menerima semacam uang sewa saja dari Anda terhadap tempat itu. Sebagai contoh, Anda bisa mengatakan kepada paman Anda bahwa Anda akan membayarnya sebesar Rp 500 ribu per bulan yang bisa dianggap sebagai uang sewa dari Anda. Ini berarti, paman Anda tidak ikut memiliki toko itu. Dia hanya menyewakannya tempatnya kepada Anda.

Mengenai kebiasaan Anda yang selalu saja ingin menambah jenis barang dagangan baru, wah tentu saja hal itu ada baik-buruknya sendiri-sendiri. Kelihatannya toko Anda adalah toko kelontong ya? Kalau toko kelontong biasanya akan bagus kalau jenis barangnya cukup banyak. Hanya saja terkadang pembelian jenis barang yang baru itu harus Anda batasi. Kalau tidak dibatasi, kapan Anda akan menikmati uang hasil toko Anda?

Itu saja dari saya. Semoga Anda makin sukses dengan toko Anda.


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Profil | Jasa yang Ditawarkan | Artikel | Buku | Agenda


© 2000 Safir Senduk & Rekan