MENGELOLA TOKO KELONTONG
Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 858/XVI

Dengan Hormat,
Akhir tahun 2003 akhir kemarin saya baru saja menyelesaikan studi S1, Jurusan akunting di salah satu perguruan tinggi swasta. Tiga bulan mencari pekerjaan, saya mulai jenuh karena tidak ada yang cocok.

Akhirnya saya ditawari mengelola sebuah toko kelontong milik kakak saya, kebetulan kakak saya ditawari untuk kembali bekerja oleh perusahaan lamanya. Sistem pembagian keuntungan seluruhnya menjadi milik saya, tetapi saya diwajibkan membayar seluruh barang yang masih ada, yang totalnya mencapai Rp 20 juta dan tiap bulan wajib membayar kontrakan sebesar Rp 500 ribu sampai Rp 6 juta.

Kenyataannya, tiap bulan saya diminta membayar sejumlah Rp 1,5 juta. Rp 1 juta untuk barang-barang dan Rp 500 ribu untuk kontrakan. Saya merasa tidak mampu. Karena uang yang ada sekarang ini hanya cukup untuk modal usaha. Kalau diambil sebanyak itu, rasanya sulit mengelola usaha tersebut. Belum lagi jika kakak saya mengambil barang di toko. Ia hanya minta untuk memotongnya.

Keadaan ini membuat saya bingung. Saya merasa kerja dari pagi hingga sore tapi tak bisa menabung. Pemasukan hanya bisa dipakai untuk belanja keperluan toko. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Apakah sebaiknya saya bekerja saja, apalagi saya belum punya pengalaman kerja di usia 24 tahun.

  2. Bagaimana mengelola keuangan toko, setiap bulan labanya sekitar Rp 2,5 juta. Seperempat untuk keperluan pribadiku dan sisanya untuk bulan selanjutnya. Apakah cara perhitungan seperti itu sudah benar?

Tolong di jawab ya Pak, Terima kasih banyak sebelumnya.

NN Jakarta Timur


Jawab:

Halo Mbak NN di Jakarta,
Wah... saya kagum sekali pada Anda, karena di usia semuda ini Anda sudah bisa menjalankan suatu usaha. Tidak semua orang bisa seperti itu, lho, apalagi Anda baru saja lulus. Ya kan?

Untuk pertanyaan pertama, kalau saya bilang sih, bukankah mengelola toko seperti yang Anda lakukan sekarang adalah suatu pekerjaan juga? Apalagi Anda bisa mendapat berbagai macam pengalaman yang mungkin tidak bisa Anda dapatkan di tahun-tahun awal pekerjaan Anda sebagai karyawan. Pekerjaan sebagai karyawan belum tentu bisa membuat Anda belajar banyak tentang bagaimana mengatur keuangan usaha, bagaimana melakukan promosi usaha Anda, bagaimana melayani pelanggan, bagaimana memesan barang dan sebagainya. Jadi, tetaplah bertahan di usaha Anda yang sekarang, oke?

Untuk pertanyaan yang kedua, ada beberapa tips yang mungkin bisa Anda jalankan:

  1. Bila kakak Anda mengambil barang di toko, anggap saja ada pembeli yang membeli barang tersebut. Jadi catat hutangnya sebesar harga jual barang, bukan harga pokok. Pada akhir bulan, kurangi utang Anda. Mungkin kakak Anda akan merasa berat dengan hal ini, tapi jangan lupa bahwa tanpa mendapatkan keuntungan dari barang-barang Anda, Anda mungkin akan selalu mendapat kesulitan dalam membayar utang Anda. Kalau masih keberatan, ambil jalan tengahnya dengan memberikan diskon harga jual. Dengan begini, Anda dan kakak Anda sama-sama enak.

  2. Beritahukan pada kakak Anda bahwa masalah Anda kesulitan kalau Anda harus membayar Rp 1,5 juta setiap bulan. Coba minta keringanan pembayaran. Misalnya, Rp 1 juta. Rp 500 ribu untuk sewa tempat, Rp 500 untuk mencicil pembelian stok barang.

  3. Gunakan laba setiap bulan untuk membayar cicilan ke kakak Anda yang Rp 1 juta tadi, lalu bagi 2 sisanya untuk toko dan untuk Anda sendiri.

  4. Jangan gabungkan keuangan Anda dengan keuangan toko. Anggap saja uang Rp 750 ribu setiap bulan yang Anda terima tadi adalah gaji Anda sebagai pengelola. Jadi, selanjutnya bila ada keperluan pribadi, ambil uangnya dari gaji Anda itu tadi. Sisa laba pergunakan untuk memperluas usaha.

Nah, ini jawaban saya. Kalau bisa, bacalah buku-buku yang berkaitan dengan manajemen pengelolaan toko. Terapkan tips di atas sampai semua utang pada kakak Anda lunas. Setelah lunas, barulah nanti Anda akan mendapatkan uang 'lebih' yang bisa Anda tabung setiap bulannya, sekaligus untuk memperluas toko Anda. Jangan merasa putus asa dulu ya, Mbak NN, karena dalam membangun suatu usaha memang tidak bisa langsung menghasilkan.

Dan satu hal lagi, seringkali kesuksesan suatu usaha tidak datang begitu saja. Sekali lagi, jangan putus asa. Kalau Anda sempat ketemu saya suatu saat nanti, pastikan bahwa kondisi toko Anda nanti sudah akan lebih baik dibanding sekarang.Oke?

Salam.
Safir Senduk
Perencana Keuangan




kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan