Dikutip dari Tabloid NOVA No. 663/XIII
Yang terhormat Pak Safir,
Saya ibu rumah tangga dengan dua putri. Saya tidak bekerja, sedangkan suami saya adalah pegawai negeri sipil di Jakarta. Dulu saya tinggal di Tangerang, tapi sekarang di Tasikmalaya (Jabar), persisnya di rumah kakak ipar yang memang dikosongkan untuk kami tempati.
Adapun saat ini saya punya rumah di kampung, tapi ditempati kakak dan orang tua saya, karena mereka tak punya tempat tinggal. Simpanan sepeser pun kami tak punya. Penghasilan suami bulan Oktober nanti naik jadi Rp 800 ribu sebulan, dari Rp 750 ribu sebelumnya.
Masalah saya, bagaimana caranya supaya uang itu cukup untuk biaya hidup selama sebulan. Soalnya terkadang saya suka tekor. Pengeluaran tetap kami antara lain:
Itu belum termasuk belanja harian dan bulanan (semisal beras).
Perlu Pak Safir ketahui, sebagai bungsu dari tiga bersaudara, saya dianggap yang paling mampu dari seluruh anggota keluarga lainnya. Sebab kedua kakak saya pengangguran yang sesekali kerja serabutan.
Tolonglah saya Pak Safir. Pusing sekali memikirkan uang yang cuma segitu-segitu saja. Terima kasih banyak atas jawabannya.
Jawab:
Ibu SS di Tasikmalaya,
Masalah Anda adalah masalah yang bisa dihadapi siapa saja. Percaya atau tidak, masalah Anda sebetulnya tidak hanya dihadapi oleh mereka yang memiliki penghasilan keluarga dibawah Rp 1 juta, tetapi juga oleh mereka yang memiliki penghasilan keluarga diatas Rp 1 juta.
Kadang-kadang, kunci pemecahan masalahnya di sini bukan di penghasilan. Sering terjadi, berapa pun besarnya penghasilan Anda dalam keluarga, bila Anda tidak melakukan perencanaan, maka Anda akan tetap menghadapi masalah yang sama. Anda boleh tidak percaya, tapi sering terbukti, berapa pun meningkatnya penghasilan dalam keluarga Anda, Anda akan tetap kehabisan uang kalau tidak melakukan perencanaan.
Jadi di sini, kunci pemecahan masalah Anda sebetulnya cuma satu, rencanakan pemasukan dan pengeluaran keluarga Anda. Dalam bahasa kerennya, rencana seperti ini disebut anggaran. Anggaran akan membantu Anda "mendeteksi" (menengarai, memperkirakan sebelum terjadi ) apakah Anda akan mengalami defisit atau tidak pada akhir bulan nanti. Bila ya, maka Anda bisa merevisi anggaran Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak akan mengalami defisit. Setelah itu, maka hal selanjutnya yang perlu Anda lakukan adalah dengan mematuhi Anggaran tersebut.
Sekarang mari kita coba membuat anggaran untuk Anda. Dari cerita Anda, dibawah ini adalah pemasukan dan pengeluaran Anda selama ini:
Pemasukan:
Gaji 800.000
Jumlah Pemasukan 800.000
Tunjangan Keluarga Ibu 200.000
Jumlah Pengeluaran 341.000
Apabila diperhatikan, maka sisa uang Anda (Pemasukan dikurangi Pengeluaran) adalah:
Rp 800.000 341.000 = Rp 449.000,- .
Angka itulah yang Anda gunakan untuk belanja Bulanan dan belanja Harian. Saran saya, coba perinci lagi berapa belanja bulanan Anda dan berapa belanja harian Anda. Ini karena saya lihat pengeluaran tetap Anda yang sebelumnya (tunjangan keluarga ibu, listrik, gas dan sekolah anak) tidak bisa dikurangi lagi. Jadi, satu-satunya jalan adalah dengan mengurangi unsur-unsur pengeluaran dalam belanja bulanan dan belanja harian. Kedua pos belanja itu besarnya masih bisa dikurangi kalau Anda mau.
Setelah Anda menetapkan rencana, patuhi rencana Anda dengan menjalankan rencana tersebut secara disiplin. Tidak bisa tidak. O ya, jangan lupa juga agar menyisihkan uang untuk ditabung. Setoran tabungan sebesar Rp 10 ribu s/d 20 ribu per bulan masih jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
Itu dari sisi pengeluaran. Dari sisi pemasukan, saya tidak menyarankan Anda untuk hanya mengandalkan satu pemasukan saja dalam keluarga Anda. Jadi, kenapa Anda berdua tidak mencoba memikirkan cara untuk menambah pemasukan keluarga? Ada banyak cara untuk menambah penghasilan yang tentu saja Anda berdua lebih tahu daripada saya. Ini karena Anda berdualah yang tahu tentang situasi, kondisi, dan keahlian yang Anda berdua miliki.
Kesalahan kebanyakan keluarga di Indonesia dalam hal keuangan adalah dengan hanya mengandalkan satu sumber pemasukan saja. Lebih parah lagi, adalah apabila sumber tersebut hanya berasal dari gaji. Di mana pun di seluruh dunia, bila sumber pemasukan Anda hanya berasal dari gaji, maka sebetulnya sumber tersebut tidak bisa dibilang 100 persen aman. Ini karena kalau terjadi PHK, maka berhenti pulalah gaji yang Anda terima. Tapi kalau keluarga Anda juga memiliki sumber pemasukan lain, maka keadaan Anda sebetulnya menjadi lebih aman karena Anda sudah memiliki cadangan penghasilan lain yang tidak terpengaruh oleh adanya PHK di kantor Anda atau suami Anda.
Saya selalu mengatakan tidak mudah untuk menambah penghasilan. Tapi saya rasa itu layak dipikirkan bila Anda berdua tidak ingin mengandalkan pada satu sumber pemasukan saja. Ini karena seperti kata Anda kenaikan gaji suami Anda baru saja terjadi bulan Oktober 2000 kemarin sehingga besar kemungkinan gaji suami Anda belum akan naik lagi dalam waktu dekat. Jadi selain kenaikan gaji, maka Anda berdua sebaiknya mencoba memikirkan tentang kemungkinan untuk menambah penghasilan Anda.
Gali ide-ide Anda berdua untuk menambah penghasilan, dan jangan merasa cukup dengan hanya satu sumber penghasilan saja, apalagi kalau sumber tersebut cuma satu. Dan kalau memang bisa, libatkan juga kakak-kakak Anda. Sebagai contoh, kalau memang Anda menambah penghasilan dengan -misalnya membuka bisnis kecil-kecilan, Anda mungkin bisa melibatkan kakak-kakak Anda sehingga mereka juga bisa mendapatkan manfaat dari situ.
Ny. SS di Tasikmalaya
Pengeluaran:
Listrik 50.000
Gas 20.000
Uang Sekolah u/ 2 anak 6.000
Ongkos Sekolah u/ 2 anak
(Rp 2500 x 26) 65.000
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Profil |
Jasa yang Ditawarkan |
Artikel |
Buku |
Agenda