TAWARAN KREDIT KOLEKTIF
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Harian Republika, Maret 2004

Bapak Ahmad Gozali Yth,

Assalamu'alaikum wr wb. Di kantor saya sedang ada tawaran kredit kolektif dari sebuah bank dengan batas pinjaman maksimum Rp 50 juta dengan suku bunga sekitar 13 persen. Bahkan bisa sampai di atas itu dengan menggunakan jaminan, seperti sertifikat tanah atau rumah. Saya tertarik mengambilnya untuk merenovasi rumah.

Sebenarnya rencana untuk renovasi rumah tak buru-buru, hanya saja adanya momen ini ingin saya manfaatkan. Untuk renovasi total rumah dari hitung-hitungan kasar, saya butuh Rp 150 juta. Terus terang tabungan saya sekarang baru Rp 20 juta. Insya Allah, saya akan mendapat bonus sekitar Rp 15 juta dari proyek yang tengah dilakukan sekarang pada dua bulan mendatang.

Tadinya saya pikir akan menabung saja sampai dana saya cukup untuk merenovasi rumah, tapi waktu pastinya tak dapat dipastikan. Penghasilan saya dan istri per bulan Rp 12 juta. Saya masih punya kewajiban kredit mobil Rp 1,7 juta per bulan sampai tiga tahun mendatang. Pengeluaran rumah tangga, perawatan mobil, sekolah anak-anak, dan lainnya rata-rata per bulan Rp 6,5 juta. Apakah aman bagi saya untuk mengambil kredit itu setidaknya Rp 100 juta? Saya mengucapkan banyak terima kasih atas saran dan jawabannya.Wassalam

Lukman Ali
Slipi, Jakarta Barat




Jawab:

Apa kabar Pak Lukman? Senang sekali saya bisa berkenalan dengan Anda. Memang, penting sekali bagi setiap orang sebelum memutuskan mengambil kredit untuk mempertimbangkan terlebih dulu kelayakan dan keamanan kondisi keuangannya. Apa konsekuensinya jika mengambil kredit atau tidak dan mana yang lebih menguntungkan. Sehingga menjadi kurang bijaksana jika mengambil kredit tanpa pertimbangan matang.

Untuk menimbang sebarapa besar batas kredit yang aman bukan cuma tergantung dari besarnya kredit saja. Yang juga dinilai oleh perbankan adalah kemampuan untuk membayar kembali dan seberapa layak jaminan yang diberikan kalau terjadi masalah dengan pelunasannya. Anda harus pula menambah prasyarat lagi bahwa dengan adanya pembayaran cicilan itu, tidak akan menggangu tujuan keuangan Anda yang lainnya. Selain ini, juga perlu dipertimbangkan contigency plan ketika mengambil kredit.

  1. Kemampuan untuk membayar kembali. Secara kuantitatif bank mengartikan hal ini sebagai kemampuan membayar dengan menghitung perbandingan jumlah cicilan bulanan terhadap penghasilan rutin. Batas maksimal cicilan hutang yang bisa dibayarkan, menurut standar perbankan, adalah sepertiga dari penghasilan rutin Anda. Jadi, dengan penghasilan Rp 12 juta, batas cicilan yang bisa Anda bayarkan adalah sebesar Rp 4 juta per bulannya. Karena saat ini Anda sudah punya cicilan mobil sebesar Rp 1,7 juta, maka Anda dapat dikatakan masih 'mampu' mengambil kredit lagi dengan cicilan maksimal Rp 3,3 juta per bulan.

    Apakah cukup aman bagi Anda untuk mengambil kredit sebesar Rp 100 juta dengan bunga 13 persen per tahun? Pertanyaan ini belum bisa langsung dijawab karena belum lengkap datanya. Untuk mengetahui besarnya cicilan, perlu diketahui dulu jangka waktu pengembalian kredit dan sistem perhitungan bunga yang diterapkan. Kalau saya hitung-hitung dengan bunga efektif dan asumsi jangka waktu 5 tahun, besarnya cicilan yang harus Anda bayarkan adalah sekitar Rp 2,2 juta. Ini artinya, bank menganggap kondisi keuangan Anda layak untuk mengambil kredit tersebut.

  2. Jaminan. Tujuan bank meminta jaminan dalam kasus kredit sebenarnya adalah sebagai langkah antisipasi jika terjadi gagal bayar oleh nasabah kredit. Jika hal itu terjadi, maka pilihan terakhir bagi bank adalah menyita jaminan dan menjualnya untuk menutupi hutang nasabah itu. Tentunya bank akan minta jaminan yang bernilai lebih besar daripada jumlah hutang.

    Dalam kasus Anda, pemberian pinjaman secara kolektif sampai dengan jumlah Rp 50 juta mungkin tidak memerlukan jaminan karena adanya kemudahan khusus yang diberikan. Biasanya bank akan mengenakan bunga lebih tinggi dan jangka waktu lebih pendek untuk kredit seperti ini. Sedangkan, untuk jumlah pinjaman yang mensyaratkan adanya jaminan, saya rasa Anda dapat dikatakan layak karena memiliki rumah sendiri sebagai jaminan.

  3. Keamanan dari sudut pandang Anda sendiri. Walau menurut bank Anda dikatakan masih layak untuk menerima kredit dengan cicilan Rp 3,3 juta per bulan, tapi Anda tetap harus mempertimbangkan kondisi dan tujuan keuangan yang lainnya. Menurut saya, pengeluaran tambahan berupa pembayaran cicilan Rp 3,3 juta sepertinya tidak terlalu mengganggu kondisi keuangan sekarang. Karena tiap bulannya Anda masih bisa menyisihkan sebesar Rp 3,8 juta.

    Kondisi sekarang memang tidak terganggu, tapi bagaimana dengan kondisi di masa depan? Hal ini bergantung kepada tujuan keuangan yang Anda miliki dan alokasi tabungan untuk hal tersebut. Misalnya, mungkin Anda sedang menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anak dan mengalokasikan Rp 1 juta dari surplus anggaran Rp 3,8 juta tersebut. Ini berarti, batas aman untuk membayar cicilan bukannya Rp 3,3 juta lagi seperti perhitungan versi bank, tapi hanya Rp 2,8 juta saja. Kalau ini yang terjadi, maka yang harus Anda lakukan adalah dengan membuat skala prioritas berdasarkan waktu. Bisa saja Anda tetap mengambil kredit tadi karena menganggap bahwa dana pendidikan itu baru akan dipakai dalam waktu yang masih lama dan Anda sudah memiliki rencana pemasukan tambahan di masa depan untuk menggantinya.

  4. Contigency plan atau rencana cadangan. Bank memiliki rencana cadangan untuk menghadapi kemungkinan terburuk dengan meminta jaminan. Menurut saya, Anda juga perlu membuat rencana cadangan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk tersebut. Misalnya saja, dengan memiliki dana atau aset cadangan atau asuransi jiwa. Rencana cadangan ini tentunya ada biayanya juga. Jangan lupa untuk memasukkan biaya ini kedalam perhitungan Anda untuk menilai batasan aman tadi.


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan