SUAMI INGIN BERDAGANG
Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 816/XVI

Pak Safir yang terhormat, Saya seorang istri berusia 27 tahun bekerja dengan penghasilan kotor Rp 1,5 juta/bulan dan suami 31 tahun, berpenghasilan kotor Rp 1 juta / bulan. Kami mempunyai seorang putri yang berusia 4 tahun.

Dari penghasilan itu setelah dikurangi pengeluaran rutin (cicilan KPR, untuk orang tua, listrik, pam, telepon, dll) masih bisa ditabungkurang lebih Rp 750.000 tiap bulannya. (Kami masih mengontrak, karena KPR kami letaknya di luar Jakarta). Sampai akhir tahun tabungan kami jumlahnya sekitar Rp 12 juta. Karena gaji suami sudah mentok, rencananya suami akan berhenti bekerja dan ingin berdagang makanan (bakmi/ayam bakar). Kebetulan suami saya hobi memasak. Yang ingin saya tanyakan :

  1. Untuk saat ini, apakah pilihan suami saya sudah tepat ?
  2. Karena berdagang harus memiliki modal, saya ingin menundanya 1-2 tahun lagi sehingga KPR kami lunas, yaitu sekitar 3 tahun lagi, sehingga beban kami tidak berat. Akan tetapi suami tidak setuju. Bagaimana tanggapan bapak?
  3. Bagaimana kami seharusnya?

Demikian pertanyaan dari kami, mohon dijawab secepatnya karena Lebaran tahun ini suami sudah mau mengundurkan diri, sedangkan saya bingung mengambil keputusan. Ny. Sumirah - Jakarta




Jawab:

Ibu Sumirah, Kalau melihat pendapatan Anda berdua setiap bulan yang jumlahnya sekitar Rp 2,5 juta maka coba bayangkan apabila salah satu dari sumber pendapatan Anda hilang karena suami memutuskan untuk berhenti bekerja. Yang terjadi adalah penghasilan Anda berdua yang tadinya berjumlah Rp 2,5 juta, akan berkurang menjadi Rp 1,5 juta.

Nah, sekarang dengan jumlah penghasilan total Rp 2,5 juta per bulan, serta pengeluaran rutin sebesar Rp 1,75 juta per bulan, berarti Anda berdua mampu menabung Rp 750 ribu per bulan. Tapi, kalau suami Anda berhenti bekerja, maka dengan jumlah penghasilan yang berkurang menjadi Rp 1,5 juta dan dengan pengeluaran rutin yang tidak berubah, berarti Anda akan memiliki defisit Rp 250 ribu. Tanpa ada yang ditabung lagi.

TIGA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
Ibu S,
Bagus sekali kalau suami Anda punya keinginan untuk memiliki usaha sendiri dalam bidang makanan. Selain soal rasa, ada tiga hal yang harus diperhatikan saat membuka usaha makanan.

  1. Pasar yang akan Anda masuki
    Pasar dalam hal ini adalah siapa calon pembeli yang akan kita tawari dagangan kita. Anda harus punya konsep jelas tentang siapa pasar Anda. Tentukan dari awal, siapa yang Anda harapkan untuk membeli dagangan Anda, apakah anak-anak sekolah, karyawan kantor atau karyawan pabrik? Dengan memilih target pasar Anda bisa lebih mudah dalam memasarkannya. Jenis makanan pun tentu lebih jelas jika targetnya sudah jelas.

  2. Lokasi Usaha
    Lokasi dimana Anda akan berjualan juga akan sangat menentukan. Pemilihan tempat sangat berkaitan dengan pasar yang Anda pilih. Contohnya jika suami Anda ingin menjual makanan untuk anak-anak sekolah, maka sebaiknya pilih tempat menjual makanan di dekat sekolah. Begitu pula kalau suami Anda ingin berjualan makanan untuk karyawan kantor, maka sebaiknya ambil saja tempat di perkantoran. Begitu seterusnya. Pemilihan lokasi yang tidak disesuaikan dengan target pasar biasanya akan membuat usaha makanan tersebut menjadi lebih cepat untuk tutup. Sekali lagi, pilih lokasi usaha yang memang sesuai dengan target pasar Anda.

  3. Harga
    Nah, jangan lupa bahwa harga makanan yang ditawarkan akan sangat berpengaruh pada laku tidaknya dagangan yang akan Anda jual. Harga ini tentu saja harus disesuaikan dengan siapa target pasar yang akan Anda pilih. Sebagai contoh, harga makanan untuk anak-anak sekolah mungkin akan berbeda dengan harga makanan untuk karyawan kantor. Paling tidak, penetapan harga yang tepat akan sangat membantu laku tidaknya makanan yang dijual.


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan