Dikutip dari Tabloid NOVA No. 810/XV
Pak Safir yang terhormat,
Pada tahun 2000, saya mendapat warisan dari hasil penjualan rumah kakek (bapak dari Ayah). Karena Ayah sudah almarhum, sayalah yang berhak menerima warisan sebesar kurang lebih Rp 11 juta. Uang itu kini telah berwujud sebuah rumah KPR-BTN type 21, dengan angsuran per bulan sebesar Rp 200 ribu (selama ini kami tinggal berdua di rumah milik keluarga ibu). Rumah type 21 tadi dibeli dengan menggunakan fasilitas kredit milik salah satu saudara saya yang pegawai negri. Di-acc dengan masa angsuran 5 tahun karena saudara saya akan menginjak masa pensiun. Jadi, kreditnya atas nama dia.
Terus-terang Pak Safir, saya merasa berat mengangsur dengan jumlah angsuran tersebut dan bermaksud menjual rumah itu. Masa angsurannya memang tinggal kurang 2 tahun lagi. Namun, tampaknya Ibu kurang setuju saya menjual rumah tersebut, karena, katanya, "Sayang kalau harus dijual." Sedangkan saya ingin menjualnya mengingat kondisi Ibu yang akhir-akhir ini kurang sehat dan butuh "asisten". Kalau saya bekerja, maka tidak ada yang menemani (mengawasi) Ibu. And I can't afford any servant or medical cost for her. Menurut saya, kalau rumah dijual, akan ada dana untuk itu dan sisanya bisa didepositokan.
Bagaimana ya, Pak, apa keputusan saya menjual rumah ini merupakan keputusan yang benar? Mengingat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja saya sudah ngos-ngosan. Apalagi ditambah dengan angsuran KPR-BTN. Sementara pekerjaan baru yang lebih menjanjikan belum datang juga.
Mohon bantuanya dan terimakasih.
S - Jawa Tengah
Halo Mbak S,
Gimana kabarnya? Wah, senang sekali saya bisa berkenalan dengan Anda. Kalau dilihat, penyebab utama kenapa Anda ingin menjual rumah Anda itu memang adalah ketidaksanggupan membayar cicilan rumah yang besarnya Rp 200 ribu tersebut. Anda merasa, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja penghasilan Anda pas-pasan, apalagi untuk membayar cicilan rumah. Tentu, akan terasa sangat berat.
Mungkin juga, gara-gara cicilan rumah, Anda dan ibu Anda terpaksa harus menurunkan standar biaya hidup yang seharusnya. Betul, nggak? Terlebih lagi, ibu Anda saat ini sedang sakit, sehingga kemungkinan besar akan ada biaya berobat yang harus disiapkan. Nah, alasan-alasan itulah yang membuat Anda berkeinginan menjual rumah tersebut. Sayangnya Mbak S, menjual rumah memerlukan waktu, sekaligus banyak juga hal yang harus dipertimbangkan, seperti:
Jadi, mintalah informasi kepada perusahaan yang memberikan kredit rumah tersebut tentang bagaimana Anda bisa menjual rumah (entah tunai atau over kredit) dengan cara yang menguntungkan, dan tentu saja dengan beberapa pertimbangan di atas tadi. Jika memang perkiraannya menguntungkan, maka tak ada salahnya menjual saja rumah Anda itu.
Namun, jika ternyata hasil perkiraan jual rumah tidak menguntungkan, Anda bisa menjalankan alternatif lain untuk membantu membayar cicilan rumah. Bagaimana caranya? Sewakan rumah itu kepada pihak lain. Iya, dong. Jangan lupa bahwa jika rumah tidak dijual dan cicilan diteruskan sampai habis, maka setelah cicilan Anda lunas, rumah itu akan menjadi milik Anda.
Jadi, jika Anda kesulitan membayar cicilan, cobalah bantu diri Anda sendiri dengan cara menyewakannya saja. Usahakan agar rumah tersebut dikontrak langsung dengan jangka waktu minimal 1 sampai 2 tahun, dimana biaya sewa tersebut, kalau bisa, dibayar seluruhnya di muka. Dengan cara ini, maka Anda akan punya Dana Cadangan untuk membayar cicilan rumah. Betul, kan? Nah, semoga saran saya bisa membantu Anda. Jangan lupa, sampaikan salam saya untuk ibu Anda.
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Saya seorang gadis berusia 26 tahun. Saat ini saya bekerja di suatu perusahaan swasta dengan gaji yang menurut saya sangat pas-pasan. Karena itu, saat ini saya sedang mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya kebetulan anak tunggal, orang tua tinggal ibu, karena ayah sudah meninggal tahun 1991 dan tidak meninggalkan warisan apa pun.
Jawab:
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi