Dikutip dari Tabloid NOVA No. 743/XIV
Pak Safir yang terhormat,
Saya senang sekali mengikuti rubrik Ulas Uang yang Bapak asuh. Kali ini saya juga ingin mendapat saran dari Bapak. Saya punya tanah yang luasnya hanya sekitar 400 meter persegi. Saya ingin sekali menjualnya dan hasilnya akan saya belikan angkot (di kota kami namanya taksi).
Perkiraan harga angkot yang tahunnya relatif baru sekitar Rp 45 juta ke atas. Sedangkan harga tanah berkisar Rp 100.000 - Rp 125.000 per meter perseginya. Nah, kekurangannya mungkin akan saya tutup dengan meminjam dari bank sebesar Rp 10 juta dengan potongan per bulan Rp 478.000.
Saya berani pinjam ke bank karena saat ini anak kami baru satu, duduk di kelas 1 SD negeri. Sedangkan penghasilan dari angkot, saya perkirakan bisa mencapai Rp 75.000 per hari. Saya berencana menabung pendapatan dari angkot ini agar pada waktunya kelak bisa saya belikan tanah lagi yang lebih luas di daerah perkampungan/ladang. Sedangkan angkotnya bisa dijual untuk dibelikan yang bertahun lebih muda lagi.
Ternyata suami saya ragu-ragu dengan rencana saya ini. Dia takut usaha angkot ini nanti gagal, sementara tanah sudah telanjur terjual. Dia menyarankan, lebih baik uang hasil penjualan tanah ditabung saja, sekaligus untuk biaya sekolah anak kami. Perlu Bapak ketahui, suami saya adalah pegawai negeri dengan gaji sekitar Rp 1.000.000 per bulan.
Yang ingin saya tanyakan:
Ny. SS - Bandar Lampung
Ibu SS di Bandar Lampung,
Kadang-kadang, keputusan untuk menjalankan sebuah usaha tidak cukup. Ini karena suatu keputusan bisnis perlu juga memiliki pandangan jauh ke depan.
Dari apa yang saya lihat, Anda memiliki pandangan jauh ke depan tentang apa yang akan Anda lakukan. Pertama-tama, Anda akan menjual tanah Anda, kemudian menggunakan sebagian uangnya untuk dibelikan angkot dan mendayagunakannya (sebagian lagi ditabungkan).
Setelah 2 tahun, Anda akan menggunakan uang tabungan Anda (yang sudah berbunga) untuk dibelikan tanah lagi yang lebih luas di daerah perkampungan (mungkin berbentuk ladang). Sedangkan tentang angkot Anda, Anda akan menjual angkot Anda setelah 3 - 4 tahun dan membelikannya angkot yang lebih muda. Inilah yang mungkin tidak dilihat oleh suami Anda. Suami Anda mungkin hanya melihat masa sekarang, sedangkan Anda melihat jauh ke depan. Suatu cara berpikir yang patut dipuji.
Kalau Anda tanya saya apakah rencana Anda tersebut bisa berjalan, jawabannya adalah bahwa sepanjang Anda memang yakin angkot Anda bisa menghasilkan, maka saya yakin langkah-langkah Anda yang lain setelah itu akan berjalan lancar. Kenapa tidak? Bisnis selalu perlu optimisme, Bu, dan saya melihat bahwa Anda punya optimisme itu.
Mengenai suami Anda, selain mungkin dia hanya melihat pada masa sekarang, saya juga bisa mengerti alasan suami Anda yang menganggap terlalu berisiko bila uang hasil penjualan tanah itu sebagian besar dibelikan angkot. Dia merasa lebih aman jika ditabung saja dan disimpan untuk sekolah anak.
Bedanya di sini, Anda berani mengambil risiko, tapi dengan keyakinan bahwa Anda akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar kelak dari usaha Anda. Sedangkan suami Anda, dengan keyakinannya yang konservatif juga bisa dimengerti, hanya saja mungkin dengan konsekuensi bahwa pemasukan keluarga di masa depan mungkin hanya akan bertumpu pada penghasilannya di kantor, yang mungkin tidak seberapa dibanding kalau Anda menjalankan usaha angkot. Padahal, jangan lupa di masa-masa seperti sekarang di mana setiap tahun harga barang dan jasa selalu naik cukup drastis, Anda mungkin harus melakukan langkah yang cukup berani, yaitu membuka usaha.
Jadi, asalkan Anda yakin dengan langkah Anda, maka saya yakin hasilnya kelak akan sangat bisa membantu perekonomian keluarga. Asalkan Anda bisa membicarakan hal ini dengan suami Anda, dengan pertimbangan bahwa setiap orang perlu melakukan langkah yang berani untuk menghadapi kenaikan harga dan barang jasa yang diperkirakan cukup tinggi pada masa-masa mendatang.
Salam untuk keluarga Anda.
Mohon saran dari Pak Safir. Terima kasih sebelumnya.
Jawab:
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi