Dikutip dari Tabloid FIKRI
Mas Gozali yang saya hormati,
Saya memiliki seorang paman yang akan pensiun dalam jangka waktu 2 tahun. Beliau agak temperamental. Seluruh anggota keluarga sepakat, beliau akan mengalami ‘post power syndrome’. Bukan kami berburuk sangka, namun kemungkinan terburuk, itulah yang akan terjadi. Saya bermaksud menganjurkannya untuk membuka usaha dari uang pensiunannya. Bagaimana saran Bapak? Apakah usaha yang tidak terlalu menyita waktunya, namun hasilnya bisa untuk dinikmati? Atas saran Mas Goz, saya ucapkan terima kasih.
Nanda Harahap - Medan
Jawab:
Kasus ini mengingatkan saya ketika mengadakan suatu pelatihan dalam mempersiapkan masa pensiun. Masalah utama dalam menghadapi klien yang mempersiapkan pensiun biasanya adalah hilangnya atau berkurangnya pendapatan rutin. Untuk itu perlu dipersiapkan sumber penghasilan lain di masa pensiunnya.
Namun ada seorang klien saya, seorang karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dan tiba-tiba harus pensiun dini, justru tidak mengalami permasalahan yang berarti dengan penghasilannya karena ia sudah merasa cukup dengan uang pesangonnya
Yang menjadi masalah justru faktor non-keuangan, yaitu ia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan status pensiunnya. Suatu waktu ia terbangun sebelum subuh dan segera bersiap untuk bekerja. Begitu ia menyadari bahwa ia tidak lagi harus pergi bekerja, ada suatu beban perasaan yang berat ia rasakan.
Dari kasus itu saya mengambil kesimpulan, bahwa ternyata uang pesangon yang besar belum menyelesaikan masalah. Karena sesungguhnya, ada dua masalah yang berhubungan dengan masa pensiun. Yaitu masalah keuangan dimana hilangnya atau berkurangnya penghasilan rutin yang diterima. Dan masalah non-keuangan berupa perasaan “tidak lagi terpakai”.
Begitu juga ketika Anda hendak menyarankannya untuk membuka usaha. Akan lebih baik jika Anda menyelidiki dahulu apa kira-kira penyebab “post power syndrom” paman Anda. Apakah penghasilan rutin yang berkurang atau aktivitas rutin yang berkurang.
Jika yang menjadi masalah adalah berkurangnya penghasilan rutin, maka usaha yang disarankan sebaiknya yang bisa memberikan penghasilan secara rutin pula. Misalnya usaha perdagangan dengan perputaran yang tinggi seperti sembako. Atau bisa juga wartel dimana ia bisa menerima penghasilan rutin tanpa harus banyak bekerja.
Namun jika yang menjadi masalah adalah karena ia tidak bisa lagi melaksanakan rutinitas aktivitasnya, maka sebaiknya dicari usaha yang berhubungan dengan rutinitasnya di tempat kerja dulu.
Terkadang ada juga yang justru ingin mengisi aktivitas pensiunnya dengan sesuatu hal yang baru karena sudah jenuh dengan pekerjaannya selama ini. Jika ini yang terjadi, maka yang harus Anda lakukan adalah mencari usaha yang sesuai dengan hobinya. Sehingga ia bisa mengerjakannya dengan sepenuh hati walaupun hasilnya tidak terlalu besar. Misalnya dengan berbisnis ikan hias jika ia menyukai ikan hias. Atau dengan jual beli kendaraan bekas jika ia suka otomotif. Apapun hobinya, saya rasa selalu ada jalan untuk menjadikannya suatu sumber penghasilan uang. Tinggal bagaimana Anda kreatif melihat peluang usaha yang ada.
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi