BILA NAFKAH
DIBERIKAN TIGA BULANAN

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 706/XIV

Pak Safir yang baik,

Saya ibu rumah tangga yang tidak bekerja atas kemauan suami. Saya punya seorang anak yang sekarang sudah kelas 5 SD swasta . Begini Pak, suami saya bekerja di luar negeri dengan gaji sekitar 5 juta per bulan. Yang jadi masalah, saya bingung mengatur uang gaji pemberian suami yang saya terima setiap 3 bulan, sedangkan pengeluaran saya setiap bulan Rp 1.600.000,- termasuk keperluan pribadi saya, biaya sekolah, les untuk anak saya. Ditambah lagi bulan April ini nanti, saya sudah harus mulai membayar cicilan/ kredit rumah baru kami sebesar Rp 1.065.950. dan asuransi sebesar Rp 170.000.

Pak Safir, apa untungnya mengatur uang gaji setiap bulan dengan hanya diterima setiap 3 bulan? Selama ini saya selalu kecolongan padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Untuk itu agar tak kecolongan lagi saya beranikan diri untuk menulis surat buat Bapak. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih apabila Bapak dapat menjawab surat saya ini dan menolong saya untuk memecahkan masalah ini.

Ny. WHM - Tanjung Pinang


Jawab:

Ny. WHM di Tanjung Pinang,

Pada dasarnya mengatur anggaran belanja rumah tangga untuk jangka waktu satu bulan dan tiga bulan sama saja. Perbedaannya adalah pada waktu penerimaan penghasilannya. Anda mengatakan gaji suami Anda yang Rp 5.000.000 per bulan itu Anda terima tiap 3 bulan sekali. Sayang Anda tidak menyebutkan berapa jumlah yang Anda terima dalam 3 bulan itu. Anda hanya menyebutkan pengeluaran Anda tiap bulan sebesar Rp 1.600.000.

Untuk memudahkan perhitungan, buatlah pola anggaran belanja sesuai dengan saat penerimaan, yaitu 3 bulanan. Cadangkanlah sejumlah dana untuk kewajiban Anda pada pihak lain sebanyak 3 bulan di depan, kemudian di evaluasi setiap akhir bulannya. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Buatlah daftar pengeluaran rutin Anda.

    Jumlah pengeluaran rutin Anda per bulan adalah Rp 1.600.000 dan mulai April ada cicilan rumah Rp 1.065.950 per bulan. Kemudian ada biaya asuransi Rp 170.000. Anda tidak menyebutkan jangka waktu pembayaran premi asuransi ini, apakah 1, 3, 6, atau 12 bulan sekali. Tapi kita anggap saja 1 bulan sekali. Dengan demikian marilah kita coba untuk menjumlahkan semuanya:

    * belanja rumah tangga Rp 1.600.000

    * cicilan kredit rumah Rp 1.065.950

    * biaya asuransi Rp 170.000

    Total pengeluaran Rp 2.835.950

    Jika total pengeluaran tersebut adalah jumlah pengeluaran Anda per bulan maka anggaran pengeluaran per 3 bulan adalah 3 x Rp 2.835.950 = Rp 8.507.850.


  2. Tentukan jumlah minimal yang harus suami Anda kirimkan kepada Anda tiap 3 bulan.

    Gaji suami Anda adalah Rp 5.000.000 sebulan atau Rp 15.000.000 per 3 bulan. Sehingga dari gaji suami jika dikurangi pengeluaran Anda akan terjadi selisih lebih sebagai berikut :

    Rp 15.000.000 - Rp 8.507.850 = Rp 6.492.150.

    Selisih lebihnya tentu dapat digunakan suami Anda untuk membiayai pengeluarannya selama tinggal di luar negeri. Artinya penghasilan suami Anda masih cukup untuk mengirim sejumlah Rp 8.507.850 yang akan digunakan untuk membiayai minimal pengeluaran Anda.


  3. Tentukan prioritas pengeluaran

    Yang harus diprioritaskan adalah pembayaran hutang lebih dulu baru kemudian biaya-biaya lainnya, sebagai berikut:

    Prioritas 1: Cicilan kredit rumah

    Karena jika Anda terlambat membayar, maka akan dikenakan denda keterlambatan, biasanya sebesar 5 % per bulan dari jumlah cicilan/bulan. Selain itu jika Anda telat membayar sampai 3 kali berturut-turut, maka bank berhak menyita rumah Anda. Karena itu membayar cicilan kredit rumah mutlak harus didahulukan.

    Prioritas 2 : Premi asuransi

    Jika Anda telat membayar, maka pihak asuransi akan membatalkan polis asuransi Anda. Artinya uang Anda tidak kembali, dan Anda juga tidak dapat mengajukan klaim apapun jika terjadi resiko, berikut seluruh manfaatnya.

Menyesuaikan dari pola penerimaan uang dari suami Anda yaitu tiap 3 bulan sekali maka sebaiknya Anda sudah memiliki cadangan dana sejumlah 3 bulan cicilan kredit di depan. Demikian juga untuk biaya asuransi, jika jangka waktu pembayaran asuransi adalah setiap bulan maka cadangkanlah di depan sebanyak 3 kali pembayaran. Tapi jika Anda hanya membayar tiap 3 bulan sekali, maka Anda hanya perlu mencadangkan 1 kali pembayaran saja.

Agar prioritas 1 dan 2 dapat dijalankan dan Anda tidak kebobolan, mintalah suami Anda untuk mengirimkan uangnya ke rekening Anda di bank. Kemudian mintalah kepada bank Anda untuk mendebet secara otomatis sejumlah 3 kali cicilan kredit rumah ditambah biaya asuransi dari rekening Anda, sehingga yang tersisa di rekening Anda hanyalah dana untuk prioritas ke 3 atau sebesar pengeluaran rumah tangga saja.

Adapun perintah pembayaran kepada bank untuk mendebet secara otomatis sejumlah dana pada waktu tertentu dari rekening nasabah, biasanya disebut fasilitas Standing Order. Masing ­ masing bank mungkin punya nama yang berbeda untuk fasilitas ini. Dengan demikian tuntaslah pembayaran cicilan kredit rumah dan biaya asuransi untuk 3 bulan ke depan.

Masalahnya adalah apakah uang yang dikirim suami lebih atau kurang dari jumlah minimal yang harus Anda terima untuk membiayai anggaran pengeluaran Anda per tiga bulan. Jika lebih, akan lebih bijaksana jika tidak dihabiskan. Yah, mungkin Anda dapat menabungnya untuk dana persiapan pendidikan anak Anda karena sebentar lagi sudah masuk usia sekolah.

Jika uang yang dikirimkan suami Anda tiap 3 bulan sekali kurang dari Rp 8.507.850, maka Anda harus tetap memprioritaskan pembayaran untuk cicilan kredit rumah dan biaya asuransi. Karena kalau tidak Anda harus bersiap­siap menanggung konsekuensinya seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Sisa dana yang ada mau tidak mau harus cukup untuk membiayai pengeluaran lainnya, karena itu evaluasi lagi pengeluaran rumah tangga Anda untuk memperkirakan biaya apa yang mungkin bisa dihemat.


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan