MENGATASI
BERKURANGNYA PENGHASILAN

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 7841/XV

Pak Safir yang baik,

Perkenalkan nama saya T, umur saya 23 tahun. Saya berasal dari Lombok (NTB). Tentu Bapak pernah mendengar tentang keindahan pantai Senggigi dan Ketiga Gili­nya, kan? Di sinilah tempat saya tinggal dan bekerja. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa wisata. Saya sudah bekerja selama 5 tahun lebih, sejak saya tamat SMEA. Jam kerja saya dari pukul 07.00 - 15.00 sore (8 jam) dengan penghasilan rata-rata (gaji + tip dan komisi) kurang lebih Rp 850.000 per bulan.

Adapun daftar pengeluaran bulanan saya sebagai berikut:

  1. Bayar uang kos Rp 100.000
  2. Bayar Listrik + Air Rp 10.000
  3. Bayar Cicilan Sepeda Motor Rp 150.000 ( sisa 2 th lagi )
  4. Belanja keperluan sehari-hari Rp150.000
  5. Untuk Orang Tua Rp 100.000
  6. Untuk tabungan Rp 200.000
Sisanya untuk belanja keperluan pribadi lainnya. Perlu diketahui, tahun 2002 kemarin saya mengeluarkan semua tabungan saya untuk membeli teve, tape, dan VCD seharga Rp 4.000.000. Sekarang tabungan saya habis.

Di daerah saya, pendapatan saya bisa di bilang banyak karena biaya hidup tergolong masih murah. Tapi akhir-akhir ini pendapatan rata-rata saya jauh menurun akibat dari lemahnya sektor kepariwisataan kita. Jadi sekarang saya hanya mendapat Rp 600.000 per bulan. Celakanya para pedagang sudah menaikkan semua harga barangnya.

Terus terang saya sekarang kesulitan mengatur keuangan saya. Apalagi saya harus mempersiapkan tanggungan masa depan juga bukan? Untuk mencari pekerjaan sampingan, saya tidak mempunyai keahlian lain. Bekerja di perusahaan lain dengan waktu kerja sama rasanya sulit karena sudah pasti saya tidak akan punya waktu istirahat.

Saya juga punya rencana memanfaatkan waktu luang untuk mengambil kursus Komputer dan Bahasa Inggris. Saya pikir suatu hari nanti pasti ada manfaatnya seandainya saya melamar pekerjaan di tempat lain. Mungkin saya juga akan mengambil program Diploma III. Itu berarti ada tambahan pengeluaran lagi.

Selain rencana kursus, seorang teman saya mengajak saya melamar ke sebuah instansi pemerintahan. Tapi saya bingung karena kata dia, saya harus menyediakan dana Rp 6.000.000 untuk bisa masuk.

Pertanyaan saya: 1. Bagaimana saya mengatur keuangan agar bisa menabung kembali? 2. Perlukah saya kerja sampingan? 3. Perlukah saya ikut kursus? 4. Apa sebaiknya saya juga minta bantuan dana dari orang tua untuk bisa melamar di instansi tersebut? Terima kasih sebelumnya.

T - Lombok


Jawab:

Mbak T di Lombok,

Wah, senang sekali saya mendapatkan surat jauh-jauh dari Lombok, NTB. Berikut ini jawaban dari saya atas tiap pertanyaan Anda:

  1. Menurut saya, prioritas pertama yang harus Anda lakukan adalah membentuk sebuah dana cadangan. Gunanya untuk berjaga-jaga kalau-kalau Anda tidak lagi mendapatkan pemasukan dari pekerjaan Anda. Saya lihat bahwa Anda setiap bulan rajin menabung Rp 200 ribu, jadi teruskan saja kebiasaan itu.

    Setiap kali Anda mendapatkan gaji pada tanggal - misalnya 27, maka LANGSUNG ambil jumlah Rp 200 ribu dan masukkan ke dalam amplop. Bawa ke bank, lalu tabungkan. Begitu jumlahnya sudah mencapai Rp 2 juta (berarti setelah 10 bulan), ambil sebesar Rp 1,5 juta dari tabungan itu dan bukalah deposito. Jangan transfer bunganya ke tabungan Anda, tapi ditambahkan ke nominal deposito Anda, hingga makin lama deposito Anda berkembang. Lama kelamaan, dana cadangan Anda akan terkumpul.

  2. Sebetulnya tidak ada salahnya Anda bekerja sampingan atau bekerja di perusahaan lain. Tapi biasanya hanya akan menyelesaikan persoalan jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang, Anda akan terus "terjebak" dalam pekerjaan Anda dan tidak bisa keluar. Saran saya, dalam jangka panjang, pikirkan untuk membuka usaha. Sebagai contoh, kalau Anda bisa memasak, kenapa tidak menyewa stan kecil di suatu tempat atau di mana pun, dan menjual makanan Anda di situ.

    Keuntungan membuka usaha sendiri adalah bahwa Anda nanti bisa menyerahkan pengelolaan usaha itu kepada orang lain (Anda gaji dia tentunya). Beda dengan kalau Anda bekerja pada orang lain, di mana Anda tidak akan bisa keluar dari situ karena kalau toh Anda keluar, gaji Anda akan distop. Otomatis penghasilan Anda akan stop juga kan? Terserah kalau Anda mau kerja sampingan atau kerja di perusahaan lain, tapi lakukan itu untuk jangka pendek saja. Sedangkan untuk jangka panjang, cobalah untuk menjalankan usaha milik Anda sendiri.

  3. Kalau Anda bisa komputer dan Bahasa Inggris, maka hampir bisa dipastikan Anda akan mudah mendapatkan informasi yang bisa jadi sangat berguna untuk pekerjaan Anda kelak. Ambil saja. Kalau niat Anda ikut kursus hanya untuk mendapatkan sertifikat, maka sertifikat itu mungkin baru berguna bila Anda melamar kerja lagi di tempat lain, dan tidak berguna bila nantinya Anda memang memilih membuka usaha.

  4. Jangan sekali-sekali mengeluarkan uang untuk "menyogok" sebuah kantor agar Anda bisa diterima bekerja. Siapa bisa menjamin bahwa setelah membayar Rp 6 juta Anda akan diterima? Apa ada surat perjanjian tertulisnya? Saya yakin tidak. Jadi, jangan lakukan.
Mudah-mudahan saran saya bisa membantu. Salam.


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan