Dikutip dari Tabloid FIKRI Edisi 17 Th. II
Assalamualaikum wr. wb.,
Mas Gozali, saya seorang pria yang belum berumah tangga, meski sebetulnya sudah memiliki penghasilan cukup. Sebagai seorang bujangan tanpa memiliki tanggungan, saya merasa kesulitan menghapus kebiasaan boros. Karena itu, untuk menghindari pengeluaran yang tidak berarti, saya memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Masalahnya, setelah kuliah, ternyata kebiasaan boros itu tidak juga sembuh. Bahkan, karena hampir tak pernah menabung, kini saya malah kesulitan memperoleh biaya pendidikan. Biasanya karena tenggat waktunya singkat, saya mencoba meminjam pada teman atau kantor. Tapi tentu karena setiap orang punya kebutuhan, mereka tak selalu memberikannya. Saya sendiri jadi malu karena sering meminjam uang. Apakah saran Mas Ghozali, agar saya bisa menyisihkan penghasilan setiap bulan? Saat ini saya tinggal di rumah kost dan punya beberapa cicilan, tapi tidak besar. Terima kasih atas sarannya
Taufik
Wa'alaikumussalam wr. wb.
Hal yang paling sulit untuk mengatasi sifat boros adalah tidak bisa membedakan mana sebenarnya pengeluaran penting dan mana yang tidak penting. Jika Anda sudah bisa mengakui ada banyak pengeluaran yang tidak penting, maka itu adalah langkah awal untuk menghentikan sifat boros.
Karena Anda sudah mengetahui mana pengeluaran yang penting dan mana yang tidak, buatlah catatan mengenai hal itu. Tuliskan daftar pengeluaran yang penting saja selama satu bulan, lalu jumlahkan. Jumlah itu berarti anggaran Anda untuk bulan depan. Langkah selanjutnya, begitu Anda mendapatkan gaji, disiplinkan diri untuk mengambil dari gaji itu sejumlah kebutuhan yang penting dan simpan di dompet atau amplop. Sedangkan sisanya, tanpa menundanya lagi, langsung Anda masukan ke dalam rekening tabungan. Inilah yang saya sebut sebagai menabung di depan. Dan ini adalah kiat agar bisa menabung rutin setiap bulan.
Lain kali jika tergiur membeli sesuatu yang tidak penting, camkan benar bahwa Anda memiliki program yang lebih penting, yaitu kelanjutan pendidikan dan kesejahteraan Anda (dan keluarga nantinya) di masa depan.
Jangan Anda berutang kecuali dalam keadaan terpaksa dan darurat. Karena berutang berarti menggantungkan diri kepada orang lain. Padahal kita sebagai umat Islam dianjurkan selalu mandiri dalam segala hal, termasuk dalam perekonomian. Bukankah makan dan minum yang paling baik adalah dari hasil keringat sendiri?
Selain itu, berutang bisa membuat seseorang mudah berbohong dan ingkar janji. Berbohong karena mencari-cari alasan agar dipinjami uang, dan mengingkari janji mengulur-ulur waktu pembayaran. Semoga kita terhindar dari sifat demikian.
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Jakarta
Jawab:
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi