LEMBAGA KEUANGAN YANG BAIK
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Tabloid FIKRI

Pengelola rubrik konsultasi keuangan yang baik,

Baru-baru ini saya membaca berita di mana ada dua bank kembali ditutup oleh BI. Tadinya saya merasa, sektor perbankan sudah mulai membaik, akan tetapi penutupan bank kembali terjadi yang mengakibatkan kecemasan seperti masa krisis dulu lagi. Yang ingin saya tanyakan adalah adakah cara mudah atau sederhana untuk melihat tingkat kesehatan atau keamanan bank untuk menyimpan dana?

Ibu Yanti – Cinere

Jawab:

Memang sedih rasanya harus ada lagi bank yang terpaksa ditutup. Karena tentunya nasabah yang paling menderita kerugian dengan adanya kejadian ini. Tapi percayalah, itu memang pilihan yang terbaik dan saya yakin pemerintah telah mempertimbangkan resikonya. Mungkin bank tersebut memang tidak sehat sehingga akan lebih baik ditutup saja agar tidak lebih banyak nasabah yang dirugikan nantinya.

Memang sampai sekarang uang nasabah yang disimpan di bank masih dijamin oleh pemerintah. Jadi kalau banknya ditutup, pemerintah akan mengganti uang nasabah yang ada di bank tersebut. Tapi tentunya ini adalah kebijakan yang tidak bersifat selamanya. Karena idealnya pemerintah tidak usaha menanggung beban berat seperti itu.

Oleh karenanya, nasabah perlu lebih berhati-hati lagi dalam memilih bank yang dapat dipercaya, yaitu bank yang sehat kondisi keuangannya. Untuk menilai hal ini, ada beberapa poin yang bisa kita perhatikan:

  1. Yang pertama yaitu CAR (capital adequacy ratio) atau rasio kecukupan modal. Rasio ini menunjukkan seberapa besar modal suatu bank jika dibandingkan dengan asetnya. Dan asetnya pun adalah asset yang sudah ditimbang resikonya. Angka minimum yang dianggap baik oleh Bank Indonesia adalah 8%, semakin besar akan semakin baik.

  2. Dan yang kedua yaitu NPL (non performing loan) atau tingkat kredit macet. Angka ini menunjukkan berapa persen kredit yang bermasalah dari keseluruhan kredit yang mereka kucurkan ke masyarakat. Idealnya, NPL sebuah bank tidak lebih dari 5%, semakin kecil semakin baik. Kedua angka tersebut bisa dilihat dari laporan keuangan bank yang dikeluarkan dan diumumkan di media masa secara berkala. Atau bisa juga langsung ditanyakan kepada petugas bank yang bersangkutan.

Sebetulnya ada satu lagi cara mudah yang bisa dilakukan. Walaupun tidak dapat dijadikan sebagai patokan yang pasti, tapi cara ini bisa dijadikan sebagai patokan yang sederhana dan ringkas untuk orang awam. Yaitu dengan membandingkan tingkat suku bunga depositonya. Kalau suatu bank menawarkan suku bunga deposito yang sangat tinggi diatas bank lainnya, berhati-hatilah karena bank ini punya resiko yang lebih besar. Apalagi kalau suku bunga deposito jangka pendeknya ternyata lebih besar daripada yang jangka panjang, ini artinya bank tersebut sedang tidak sehat dan butuh “darah segar”.

Sekali lagi, cara terakhir tersebut tidak bisa dijadikan patokan yang pasti, hanya asumsi awal saja yang menunjukkan kesehatan suatu bank. Dan cara ini tidak bisa digunakan untuk menilai bank syariah. Karena pada bank syariah justru berlaku sebaliknya. Semakin besar hasil yang diberikan oleh bank syariah, semakin baik pula kinerja bank syariah tersebut. Ini karena hasil yang diberikan bank syariah kepada nasabah adalah hasil usaha bank tersebut dalam mengelola uang. Bukan bunga yang sudah ditentukan di awal sehingga bisa memberatkan pihak bank kalau ternyata hasil usahanya kurang berhasil.


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan