BAB 1
NAIKKAN PENGHASILAN ANDA

Dikutip dari Bab 1, buku Mencari Penghasilan Tambahan

Mencari Penghasilan Tambahan

Sekitar sepuluh tahun yang lalu – sebelum saya membuka kantor milik saya sendiri – saya pernah bekerja di sebuah perusahaan. Perusahaan itu bergerak dalam bidang perdagangan, dimana mereka menjual safety component (alat-alat keamanan) kepada perusahaan pertambangan, untuk digunakan oleh para pekerja tambangnya.

Tugas saya waktu itu cukup sederhana, yaitu membuat sistem akuntansi. Saya tidak pernah memegang uang perusahaan, tapi hanya melakukan pembuatan sistem akuntansi, dan melakukan input-input transaksi sehingga setiap bulan Direktur saya bisa melihat Laporan Keuangan perusahaan. Pendeknya, karena organisasi perusahaan sangat kecil (sekitar 4 orang kalau tidak salah), maka segala macam tetek bengek mengenai pencatatan akuntansi diserahkan ke saya. Padahal, transaksi perusahaan itu cukup banyak, dan saya tidak memiliki asisten dan anak buah sama sekali. Jadi, bisa dibayangkan betapa repotnya saya.

Nah, menariknya, gaji yang saya terima waktu itu sangat kecil. Bahkan jauh lebih kecil daripada UMR waktu itu. Tapi saya nggak peduli, karena buat saya, pengalaman saya bekerja disitu jauh lebih menarik bagi saya. Padahal, pekerjaan itu betul-betul melelahkan, karena saya harus menempuh perjalanan sekitar 30 km dari rumah untuk bisa sampai di kantor sekitar jam 9 pagi, lalu saya bekerja sampai sekitar jam 5 sore, dan malamnya saya harus menempuh sekitar 25 km lagi untuk datang ke kampus saya. Ya, betul, saya kuliah pada malam hari, dan saya melakukan rutinitas itu setiap hari.

Lama kelamaan, setelah beberapa bulan, saya mulai merasa ada masalah. Anda tahu masalah apa? Uang. Saya merasa bahwa penghasilan saya sangat kecil, padahal pengeluaran saya cukup besar. Ibaratnya, penghasilan rutin saya Rp 100 setiap bulan, sedangkan pengeluaran saya Rp 500 setiap bulan. Jadi, saya defisit luar biasa.

Apa yang saya lakukan? Pertama-tama, saya pikir itu pasti karena pengeluaran saya terlalu besar. Lalu, saya menyempatkan diri untuk duduk dan menghitung. Makan, sudah. Transport, sudah. Hiburan, sudah. Apalagi yang mau dikurangi? Angkanya memang sudah ngepas segitu.

Saya lalu menarik napas. Saya menoleh ke sisi sebelah atas, ke pemasukan saya. Saya manggut-manggut. Jelas, disinilah penyebabnya: Pemasukan saya terlalu kecil. Dan walaupun pada awalnya pemasukan kecil tersebut tidak terlalu berpengaruh bagi saya, tetapi lama kelamaan efek dari kecilnya pemasukan tersebut sangat terasa, yaitu defisit.

Jangan salah paham. Saya bukan orang yang selalu merasa kekurangan dan ingin menuntut ini atau itu. Tapi untuk yang satu ini, penyebab defisit saya cukup jelas: pemasukan saya terlalu kecil. Tidak ada lagi yang perlu diragukan.

Pada banyak surat yang saya terima, saya sering berhadapan dengan orang-orang yang bertanya seperti ini: “Pak Safir, kondisi saya begini dan begitu. Saya punya keluarga dengan sekian orang anak. Tapi kenapa kok saya defisit terus ya?”. Setelah diteliti, jumlah pengeluaran mereka sebetulnya wajar-wajar saja, tapi pemasukan merekalah yang terlalu kecil. Sayangnya, orang-orang ini seringkali tidak pernah merasa bahwa pemasukannya terlalu kecil. Persis seperti yang saya alami dulu, tidak pernah merasakan bahwa pemasukan saya terlalu kecil, sampai akhirnya saya menyempatkan diri untuk duduk dan menghitung-hitung.

Sayangnya, kondisi itu tidak selalu bisa saya ungkapkan terang-terangan kepada mereka. Apalagi kalau pertanyaan itu muncul di seminar dimana saya yang jadi pembicaranya. Masak saya harus langsung mengatakan pada mereka – di depan peserta seminar yang lain: “Bu, penghasilan keluarga Anda terlalu kecil. Coba deh dinaikkan...”. Wah, saya tidak bisa bilang begitu dong, karena bisa malu dia nanti. Biasanya, saya akan memperhalus ucapan saya dengan mengatakan, “Bu, menurut saya sih pengeluaran Anda sudah cukup wajar dan nggak bisa dikurangi. Mungkin persoalannya terletak di pemasukan...” .

Ya kan? Itu jauh lebih halus.

Sekarang, bagi Anda yang selalu mengalami defisit, tidak bisa membayar pengeluaran-pengeluaran Anda, atau selalu kehabisan uang setiap tanggal 20, coba lihat lagi, siapa tahu persoalannya bukan terletak di pengeluaran Anda, tetapi justru terletak pada jumlah pemasukan yang Anda terima setiap bulannya. Artinya, pemasukan Anda mungkin terlalu kecil.

Anda pikir saya mengada-ada? Sekarang saya tanya Anda satu pertanyaan sederhana: kalau Anda hidup di Jakarta pada tahun 2004, sudah berkeluarga dengan 2 anak, pasangan Anda tidak bekerja, Anda tidak memiliki simpanan uang di bank Anda, anak-anak Anda masih balita, dan hanya Anda yang bekerja, apakah wajar terjadi defisit kalau penghasilan Anda hanya Rp 500 ribu per bulan? Ya wajar saja dong, jelas penyebabnya karena penghasilan Anda terlalu kecil, hanya Rp 500 ribu per bulan. Bukan terletak pada pengeluaran Anda. Apalagi Anda hidup di Jakarta pada tahun 2004.

“Ah, Pak Safir nih yang benar sajalah, masak ngasih contoh penghasilan cuma Rp 500 ribu per bulan?” begitu mungkin kata Anda. Yah, itu mah cuma contoh saja, karena cukup tidaknya suatu penghasilan sangat bergantung pada gaya hidup Anda masing-masing. Tapi maksud saya disini seharusnya sudah cukup jelas, coba lihat lagi jumlah pemasukan Anda, siapa tahu itu tidak mencukupi.

Lalu, apa yang harus Anda lakukan? Sederhana sekali: Bila Anda mengalami defisit, persoalannya mungkin saja bukan terletak pada pengeluaran Anda, tetapi pada penghasilan Anda. Karena itu, cobalah untuk menaikkan Penghasilan Anda.


Tidak Harus Defisit untuk Menaikkan Penghasilan

Setelah membaca tulisan diatas, mungkin muncul satu pertanyaan sederhana: “Apakah seseorang harus mengalami defisit dulu baru ia boleh menaikkan penghasilannya dengan mencari penghasilan tambahan? Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak mengalami defisit? Bolehkah dia mencari penghasilan tambahan? Jangan-jangan itu malah sama dengan serakah...”

Jawabannya tentu tidak. Siapa saja boleh mencari penghasilan tambahan. Entah Anda defisit atau tidak. Anda tahu kenapa? Sederhana saja: bila Anda mengalami defisit, menaikkan penghasilan dengan mencari penghasilan tambahan bisa membantu mengurangi masalah defisit Anda. Sedangkan bila Anda tidak mengalami defisit, maka menaikkan penghasilan bisa membantu Anda mengatasi kenaikan harga yang mungkin terjadi pada tahun-tahun mendatang.

Nah, ini menarik. Apa maksudnya? Gampang saja kok: setiap tahun harga barang selalu naik. Sekarang, mungkin Anda merasa bahwa penghasilan Anda cukup untuk membayar semua pengeluaran Anda. Anda merasa makmur, Anda merasa sejahtera. Anda merasa cukup punya uang untuk membayar ini atau itu. Ibaratnya penghasilan Anda Rp 1 juta, pengeluaran Anda cuma Rp 800 ribu. Tapi jangan lupa, setiap tahun harga barang pasti naik. Kalau tahun ini pengeluaran Anda Rp 800 ribu, tahun depan pengeluaran Anda mungkin akan menjadi Rp 900 ribu. Tahun depannya lagi, mungkin akan menjadi 110. Dan seterusnya dan seterusnya. Nah, bayangkan kalau pengeluaran Anda naik tapi penghasilan Anda tidak naik-naik. Repot Anda nanti. Jadi, sekarang mungkin Anda tidak mengalami defisit itu. Tapi lama kelamaan, inflasi akan membuat pengeluaran Anda bengkak dan mau tidak mau defisit itu pasti akan datang kepada Anda bila penghasilan Anda tidak naik-naik.

Jadi kesimpulannya: menaikkan penghasilan tidak harus dilakukan oleh mereka yang mengalami defisit, tapi juga bagi Anda yang sekarang tidak mengalami defisit. Karena kalau penghasilan Anda tidak naik pada tahun-tahun mendatang, defisit itu pasti akan terjadi juga pada Anda.


Cara Paling Sederhana dalam Menaikkan Penghasilan

Bagaimana cara menaikkan penghasilan? Kalau Anda seorang karyawan, maka solusi yang paling sederhana biasanya adalah dengan meminta kenaikan gaji. Saya ingat sekali ketika saya mulai mengalami masalah dengan pemasukan saya yang saya rasa terlalu kecil, maka saya lalu berpikir untuk datang ke bos saya, dan minta kenaikan gaji. Tapi saya lalu berpikir lagi, kalau saya ibaratkan pemasukan saya Rp 100 per bulan, dan pengeluaran saya dalam satu bulan – seingat saya waktu itu – sekitar 5 kalinya, maka seberapa besar kenaikan gaji yang sebaiknya saya minta? Masak saya harus minta kenaikan gaji sampai 5 kalinya? Nggak mungkinlah. Orang naik jadi dua kalinya saja sudah bagus. Jadi, kalaupun gaji saya naik, saya masih akan tetap mengalami defisit. Dari situ, saya lalu mengambil hikmah yang masih saya pegang sampai sekarang, yaitu bahwa bila gaji Anda tidak mencukupi, maka umumnya permintaan untuk naik gaji tidak akan menyelesaikan masalah karena biasanya kenaikan gaji yang terjadi di perusahaan tidak besar-besar amat. Dan lagi, kebijakan jumlah gaji biasanya tidak terletak di tangan kita, tetapi di tangan bos.

Apa yang lalu saya lakukan adalah dengan memikirkan alternatif lain untuk menambah penghasilan. Saya lalu bertanya, apakah ada alternatif lain dalam menambah penghasilan dimana saya bisa lebih ‘berperan’ didalamnya dan tidak perlu terlalu bergantung pada pihak lain (seperti bos saya) dalam menaikkan penghasilan itu? Dan apakah penghasilan lain itu bisa lebih besar daripada gaji yang sudah saya dapatkan sekarang?

Beberapa waktu kemudian, saya memang menemukan alternatif-alternatif tersebut. Saya tidak akan menceritakannya sekarang, karena saya akan lebih banyak menceritakannya pada bab-bab berikutnya. Tapi yang jelas, pesan saya sederhana saja, kalau Anda memutuskan untuk menambah penghasilan – apalagi kalau Anda seorang karyawan - jangan berharap untuk menambah penghasilan Anda dari bos Anda yang sekarang. Ingat-ingat saja, kapan terakhir kali gaji Anda naik. Nah, paling lama 6 atau 12 bulan kemudianlah baru gaji Anda akan naik. Sebelum itu, hmm... jangan terlalu berharap dari bos Anda.

Setuju kan?

Lalu, apa yang sebaiknya Anda lakukan untuk menaikkan penghasilan? Cari Penghasilan Tambahan diluar kegiatan utama Anda. Itulah yang akan kita bahas dalam bab-bab selanjutnya.

............




kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan