Dikutip dari Tabloid NOVA No. 719/XIV
Sudah mendapat THR? Syukur. Selain bonus, THR bisa dipastikan menjadi salah satu penghasilan tambahan yang ditunggu oleh Anda yang berstatus pegawai. Bila Anda atau suami Anda mendapat THR, maka artikel ini mungkin berguna buat Anda.
Jeng Ayu bersorak gembira. Wanita muda berusia 31 tahun ini senang ketika mendengar suaminya menelepon dan mengatakan bahwa mereka akan mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya). Suaminya bekerja di sebuah perusahaan kargo, dan tahun ini perusahaan akan memberikan THR yang besarnya sampai beberapa bulan gaji.
Jeng Ayu sendiri tidak bekerja. Dia ibu rumah tangga yang punya satu anak yang masih berumur dua tahun. Ketika harga-harga naik seperti ini, apalagi menjelang Lebaran, pemberian THR itu ibarat seperti setetes air di padang pasir. Memang sih, tahun lalu suaminya juga dapat THR. Tahun sebelumnya juga dapat walaupun waktu itu negara ini masih mengalami krisis berat. Tapi pemberian THR yang hanya dilakukan sekali setahun itu tetap saja membuat Jeng Ayu senang bukan kepalang.
Ia sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan dengan THR itu. Selama ini, setiap pulang suaminya selalu memberikan seluruh gajinya pada istrinya. Seluruhnya. Dari situ, barulah Jeng Ayu yang akan mengelola dan mengatur serta menjatah untuk setiap pos-posnya. Jadi, bisa dibayangkan betapa gembiranya Jeng Ayu membayangkan bahwa suaminya akan pulang dengan membawa uang sejumlah beberapa bulan gaji.
Ya, THR berarti.... belanja...!!! Pikiran Ayu sekilas kembali ke belakang. Tahun lalu, begitu mendapatkan THR, yang mereka lakukan pertama-tama adalah pergi ke sebuah restoran dan merayakannya. Setelah itu, mereka ke sebuah pertokoan di dekat rumah. Jeng Ayu membeli beberapa busana yang sudah lama ia inginkan.
Suaminya seolah juga tak mau kalah. Ia membeli beberapa busana kerja, sepasang sepatu baru, dan ini yang paling penting ponsel paling gres yang sedang gencar-gencarnya diiklankan di koran dan teve.
Pulang dari pertokoan, mereka berbelanja bahan makanan serta kue-kue kering untuk persediaan Lebaran. Esoknya, ketika melihat kembali jumlah uangnya, mereka sadar, jumlah uang THR tinggal setengahnya saja dari yang diterima. Apa yang mereka lakukan selanjutnya adalah dengan menabungkan sisa THR itu di bank. Tapi entah bagaimana, dalam beberapa bulan saja sisa THR itu juga habis tak berbekas.
Jeng Ayu mengernyitkan dahinya sekarang. Sudah jelas, ia tak mau hal itu terulang lagi tahun ini. Sudah saatnya menetapkan tekad. Apa yang akan ia lakukan sekarang adalah mencoba mengurangi belanja dan memperbanyak tabungan. Ia tak mau THR itu habis secepat kilat seperti pengalaman mereka tahun lalu.
Memang, tahun ini THR suaminya akan lebih banyak dibanding tahun lalu. Bukankah seharusnya mereka bisa lebih leluasa lagi berbelanja dan tidak usah lagi takut bakal kehabisan THR? Oo... tidak, Pembaca. Berapa pun besarnya THR Anda, bukan jaminan tidak akan habis. Bila Anda tidak menabung di depan, bila Anda selalu membeli barang apa pun di depan Anda, bila Anda selalu lapar mata, dan bila Anda selalu meneruskan kebiasaan membeli barang-barang yang tidak Anda butuhkan, siap-siap saja berpisah dari THR Anda.
Coba, apa yang akan Anda lakukan bila Anda tidak mendapatkan THR tahun ini? Hidup Anda berjalan seperti biasa kan? Anda harus tetap berbelanja bahan makanan sehari-hari, tetap membeli kebutuhan rumah tangga setiap bulannya, dan tetap membayar listrik, air dan telepon. Jadi, kenapa harus menaikkan standar hidup Anda hanya gara-gara Anda dapat THR yang datangnya cuma sekali setahun?
Apakah karena ada Lebaran sehingga Anda jadi berbelanja gila-gilaan? Saya beri tahu Anda: belanja Lebaran yang normal, umumnya hanya akan menaikkan pengeluaran keluarga sekitar 1,5 kali hingga maksimal 2,5 kali pengeluaran biasanya. Ya, 1,5 hingga 2,5 kali. Bukan 5 kali. Ini berarti, sah-sah saja Anda membelanjakan THR untuk keperluan Lebaran. Tapi bukan berarti Anda harus menaikkan jumlah pengeluaran sampai 5 kali dari yang biasa Anda lakukan tiap bulannya.
Bersikap biasa sajalah. Kalau Anda punya hutang misalnya, kenapa tidak manfaatkan saja THR itu untuk melunasi hutang-hutang Anda, terutama hutang yang membebankan bunga besar? Seorang klien saya misalnya, dia memiliki hutang kartu kredit yang lumayan besar. Tapi, begitu saya tahu bahwa dia akan mendapatkan THR, maka alih-alih membelanjakannya tahun-tahun sebelumnya saya sarankan dia melunasi hutang-hutangnya yang akan makin berbunga bila tidak dilunasi.
Dengan cara demikian, dia telah memanfaatkan THR itu untuk mencegahnya membayar bunga hutang di masa mendatang, bukan malah membuatnya makin terjebak ke dalam hutang kartu kredit dan membeli barang-barang yang belum tentu ia butuhkan.
Berikut ini sejumlah tips penggunaan THR. Siapa tahu berguna :
Kalau hasilnya bisa lebih besar daripada bunga hutangnya, ya enggak apa-apa. Tapi kebanyakan tidak seperti itu. Jadi, prioritaskan saja THR Anda untuk membayar hutang-hutang lebih dulu. Bagi banyak orang, menggunakan THR untuk membayar hutang disebut "sayang". Bagi saya, itu disebut "bijak".
Masukkan uang itu ke tabungan di bank, buka deposito, belikan emas, masukkan ke reksadana, apa pun itu. Tabung, tabung, tabung. Datangnya THR seharusnya bisa membuat Anda menabung, bukan malah membelanjakan dan menghabiskannya.
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi