HIDUP CUKUP
DENGAN HASIL MENABUNG

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 725/XIV

Pak Safir yang terhormat,

Saya adalah satu penggemar NOVA dan juga rubrik Ulas Uang. Saat ini saya sedang bekerja di Hong Kong. Gaji saya tergolong yang lumayan jika dibanding dengan gaji di Tanah Air untuk orang dengan ijazah pas-pasan seperti saya.

Saat ini saya sedang giat-giatnya menabung dalam mata uang rupiah di salah satu bank di Indonesia. Karena saya belum berkeluarga, saya hanya mengirim uang pada orang tua dan adik-adik untuk keperluan sekolah.

Pertanyaan saya, apabila kelak saya kembali ke Tanah Air dan memutuskan untuk tidak bekerja lagi, apakah saya bisa hidup cukup dengan hasil tabungan saya? Terlebih dalam situasi harga serba mahal seperti sekarang. Saat ini jumlah yang sudah dapat saya tabung sekitar Rp 200 juta.

Bila memakainya untuk modal usaha, saya juga belum punya keberanian. Karena saya tahu ada risiko merugi. Apakah ada cara lain untuk menyimpan uang saya dan memberi keuntungan yang lebih baik? Demikian pertanyaan dari saya.

Oh, ya, kapan Bapak akan ke Hong Kong untuk bertatap muka dengan kami-kami. Sebab, banyak teman-teman di sini yang juga tidak tahu harus berbuat apa dengan uang mereka. Sehingga ada yang akhirnya hanya menghambur-hamburkan hasil jerih payahnya.

H - Hong Kong


Jawab:

Nona H di Hong Kong,

Senang sekali mendengar bahwa Anda masih bekerja dan bisa memasukkan devisa ke Indonesia. Terus terang saya salut mengetahui bahwa Anda masih bisa menabung dan tidak tergoda untuk menghabiskan uang Anda di sana.

Menjawab pertanyaan Anda tentang apakah Anda bisa hidup dengan uang tabungan Anda tanpa harus bekerja lagi nanti, tentunya itu semua sangat tergantung pada seberapa besar standar biaya hidup yang ingin Anda nikmati setiap bulannya setelah Anda pulang nanti.

Tapi coba kita perhatikan, kalau seperti kata Anda bahwa setelah pulang nanti Anda bisa mengumpulkan uang Rp 200 juta tunai, maka jumlah uang tersebut bisa Anda pakai dengan beberapa macam cara. Di bawah ini adalah alternatifnya :

Mendepositokannya dan menikmati bunganya

Cara pertama yang bisa Anda pakai adalah dengan mendepositokan uang Anda. Kalau kita anggap saja bahwa bunga deposito di Indonesia sekarang adalah sekitar 12 persen per tahun (belum termasuk pajak), ini berarti rata-rata bunga deposito yang Anda terima adalah 1 persen per bulan. Dengan deposito Rp 200 juta, maka Anda akan menerima Rp 2 juta per bulan, belum termasuk pajak.

Kalau pajak yang harus Anda bayar adalah 20 persennya, maka diperkirakan bunga bersih yang Anda terima akan menjadi Rp 1,6 juta per bulan. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda bisa hidup dengan standar biaya hidup Rp 1,6 juta per bulan saja? Bila ya, bagus.

Tapi jangan lupa bahwa hampir setiap tahun harga barang dan jasa akan selalu naik, sehingga seringkali barang dan jasa untuk hidup yang pada saat ini seharga Rp 1,6 juta per bulan, pada tahun depan harganya akan naik menjadi, katakan Rp 1,8 juta, 2 juta, 2,5 juta, dan seterusnya. Padahal bunga deposito yang Anda terima mungkin akan tetap kecuali kalau suku bunga depositonya naik. Jadi sebetulnya, mendepositokan dan menikmati jumlah bunga deposito yang sama setiap bulan bukan merupakan keputusan yang baik dalam jangka panjang.


Memasukkannya ke tabungan dan menghabiskannya

Cara kedua yang bisa Anda gunakan adalah dengan memasukkan semua uang tersebut ke dalam tabungan dan menghabiskannya. Kalau kita anggap bahwa Anda bisa hidup dengan standar biaya hidup Rp 2 juta per bulan dan naik 10 persen setiap tahun, maka uang tersebut mungkin akan habis dalam jangka waktu belasan tahun. Jadi, suatu hari nanti uang itu pasti akan habis juga. Ini berarti, dalam jangka panjang saya juga tidak menyarankan cara ini.


Menggunakannya untuk Modal Usaha

Cara ketiga yang bisa Anda pilih adalah dengan menggunakan uang itu untuk Modal usaha dimana Anda sendiri yang memilih bidang usahanya. Dengan demikian, usaha tersebut kelak diharapkan bisa menghidupi Anda dalam jangka panjang.

Tentunya, saran saya untuk Anda adalah jangan menggunakan semua uang Rp 200 juta tersebut untuk modal usaha. Sisihkan saja dulu sebagian untuk biaya hidup Anda selama, katakan saja 3 hingga 5 tahun ke depan. Ini untuk berjaga-jaga kalau-kalau usaha Anda belum bisa memberikan hasil yang memadai dalam 3 tahun ke depan.

Terus terang, dibanding kedua cara sebelumnya, saya lebih menyarankan cara ini. Memang sih, yang namanya buka usaha pasti ada risikonya. Tapi apa sih di dunia ini yang tidak berisiko? Saya pikir, kalau Anda memang menguasai bidang usaha Anda, segala risiko tersebut pasti bisa ditekan. Membuka usaha akan banyak manfaatnya untuk Anda. Bukan hanya materi, tetapi juga non-materi seperti pengembangan diri, mendapatkan relasi, dan yang terpenting adalah pengalaman. Bukalah usaha tersebut dengan pertimbangan yang matang.

Itu saja saran dari saya, mudah-mudahan Anda puas. Salam untuk rekan-rekan Anda yang lain di sana. Mengenai undangan Anda ke Hong Kong, saya serahkan saja pada NOVA untuk memutuskan dan mengatur jadwalnya.



kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan