Dikutip dari Tabloid FIKRI Edisi 18 Th. II
Assalamualaikum wr. wb.,
Mas Gozali, saya seorang ibu dengan tiga orang anak. Dengan penghasilan suami sebagai sopir bus antar kota yang tidak menentu, saya agak susah membuat anggaran seperti yang saya baca pada tabloid Fikri beberapa waktu lalu. Biasanya setiap minggu suami saya memperoleh penghasilan Rp 500 ribu. Uang itu saya gunakan untuk membiayai keperluan rumah tangga dan uang sekolah anak-anak. Sisa belanja setiap hari saya tabung dan saya belikan emas. Tapi saat ini saya pusing. Dengan penghasilan itu kini saya harus menghadapi kenaikan harga barang-barang kebutuhan, bahkan listrik pun ikut naik. Akhirnya saya tidak bisa lagi menabung untuk mempersiapkan dana cadangan. Sebenarnya saya ingin sekali membantu suami dengan cara berdagang kecil-kecilan di rumah. Tapi saya bingung apa saja yang harus saya lakukan agar usaha saya berhasil? Saya takut usaha saya malah membuat keuangan keluarga menjadi makin morat-marit jika tidak berhasil. Saya mohon sarannya.
Ny. Ida
Wa'alaikumussalam wr. wb.
Anggaran rumah tangga memang harus dibuat sesuai dengan siklus pendapatan. Jika Anda memiliki pendapatan secara mingguan, maka anggaran pun harus dibuat secara mingguan pula.
Namun untuk mengantisipasi pengeluaran yang sifatnya bulanan, seperti uang sekolah, tagihan listrik, telepon dan lain-lain, Anda bisa menyisihkan dari anggaran mingguan sebesar seperempatnya. Cara ini dimaksudkan untuk tidak membebani anggaran yang satu minggu itu saja, tapi dibagi secara merata.
Sedangkan untuk dana cadangan, saya sarankan agar tidak seluruhnya berbentuk emas. Cadangan dalam bentuk emas memang ampuh untuk menangkal efek inflasi, namun akan sulit untuk dicairkan jika terjadi pengeluaran mendesak dan mendadak. Saya sarankan agar Anda menyimpan sebagiannya dalam bentuk uang tunai atau dalam bentuk lain yang dapat dengan mudah dicairkan, misalnya dalam tabungan ATM, atau giro cek.
Untuk bisa mengejar kenaikan harga-harga, memang cara yang paling jitu adalah dengan memperbesar pula pemasukan kita. Memang, salah satu cara termudah adalah dengan memiliki sumber pendapatan lain seperti berdagang.
Tidak perlu takut untuk memulai usaha baru. Jika Anda memang memiliki niatan yang kuat, jalankan saja. Niat yang kuat disertai dengan ikhtiar keras dan do’a yang tulus InsyaAllah akan membuka pintu rezeki Anda.
Dan untuk mencegah agar risiko usaha tidak ikut menyeret keadaan keuangan keluarga, jangan lupa untuk selalu memisahkan antara keuangan usaha dan keuangan keluarga. Selamat berusaha!
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Kudus
Jawab:
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi