Dikutip dari Majalah Alia
Siapa bilang perempuan tidak butuh saving?. Sekarang sudah tidak zamannya lagi perempuan menggantungkan hidupnya kepada kaum laki-laki. Memang sudah menjadi kewajiban kaum laki-laki untuk memberikan nafkah kepada kaum perempuan, itu adalah kondisi ideal yang kita idamkan. Jika perempuan belum menikah, maka orang tuanya lah yang bertanggungjawab atas nafkahnya. Jika ia sudah menikah, maka suaminya yang mengambil alih kewajiban tersebut. dan jika jika ia berada dalam kondisi dimana tidak ada keluarga dekat yang bisa menanggung nafkahnya, maka negaralah yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu.
Tapi sayangnya, kondisi ideal tersebut sepertinya masih dalam tatanan teori, belum sepenuhnya dapt dipraktekan. Usaha untuk mewujudkan hal tersebut harus kita upayakan sebisa mungkin, namun kenyataan juga tidak bisa ditolak bahwa masih ada banyak perempuan yang terpaksa harus menanggung sendiri beban hidupnya. Bahkan tidak sedikit pula yang justri menanggung beban keluarga.
Kalau kita lihat kenyataan seperti itu, dimana perempuan harus menanggung sendiri beban hidupnya, maka wanita justru lebih butuh tabungan lakilaki. Diantaranyayaitu ratarata umur wanita lebih panjanga, biaya kesehatan yang lebih tinggi, dan gaji yang lebih rendah.
Statistik menunjukkan bahwa rata-rata umur wanita justru lebih panjang daripada kaum laki-laki. Kalau diperhatikan, rekor manusia tertua juga lebih banyak dipegang oleh kaum hawa. Ini artinya perempuan lebih memiliki masa pensiun yang lebih panjang daripada laki-laki. Jika seorang laki-laki dan perempuan pensiun berbarengan pada usia yang sama dan dengan standar biaya hidup yang sama, maka si perempuan tadi akan lebih banyak membutuhkan dana pensiun daripada laki-laki.
Selain umur yang lebih panjang, statistik juga membuktikan bahwa perempuan memiliki kodisi yang lebih rentan terhadap sakit. Hal ini terbukti dengan adanya perbedaan nilai premi a asuransi kesehatan antara perempuan dan lakilaki. Coba Anda bandingkan tabel premi asuransi kesehatan, biasanya premi untuk perempuan lebih mahal daripada premi asuransi untuk lakilaki. Ini menjadi salah satu bukti yang menunjukkan bahwa biaya kesehatan perempuan ratarata lebih besar daripada laki-laki.
Satu lagi Satu alasan lagi adalah karena wanita biasanya mendapatkan gaji yang lebih kecil dibandingkan laki-laki untuk posisi yang sama. Hal ini memang sudah lumrah di negar amanapun, gaji lakilaki relatif lebih tinggi dibandingkan dengan gaji perempuan. Hal ini tentunya wajar saja karena laki-laki mendapatkan tunjangan keluarga dimana gaji yang dibawany apulang adalah untuk seluruh keluarga. Sedangkan perempuan tidak mendapatkan tunjangan keluarga dimana gajinya adalah tambahan bagi keluarganya dan dianggap tidak menghidupi keluarga yang lain.
Dari tiga hal tersebut, setidaknya dapat kita nilai bahwa sesungguhnya perempuan membutuhkan saving yang extra dibandingkan laki-laki.
Dibalik segala alasan kenapa perempuan lebih butuh untuk menabung, hal tersebut diimbangi juga dengan kenyataan bahwa perempuan punya lebih banyak alasan untuk bisa lebih mudah dan lebih banyak dalam menabung.
Pertama, biasanya perempuan bisa bersikap lebih teratur dan cermat dalam masalah keuangan jika dibanidngkan dengan laki-laki. Memang ini hanya asumsi umum saja dan bekum tentu berlaku untuk setiap perempuan. Tapi buktinya dapat dengan mudah kita lihat pada lowongan pekerjaan di surat kabar. Jika yang ditawarkan adalah loewongan untuk posisi bagian keuangan atau akuntasu, sebagian besar lowongan tersebut lebih memprioritaskan wanita, atau bahkan hanya menerima wanita saja.
Karena dianggap perempuan lebih teratur dan cermat dalam mengelola keuangan, maka wanita juga dapat dianggap bisa lebih mudah dalam menabung. Kebanyakan orang gagal menabung biasanya kaena tidak dapat mengelola keuangannya secara teratur. Tidak ada perencanaan yang baik dan tidka cermat dalam berbelanja. Jangankan perencanaan yang sifatnya jangka panjang, membuat anggaran bulanan saja mungkin tidak.
Selain itu, gaji yang dibawa pulang oleh seorang perempuan pun biasanya akan lebih utuh dibandingkan laki-laki. Bukan cuma karena pandai mengelolanya tapi karena sifatnya hanya sebagai tambahan saja bagi keluarg atersebut. Biasanya sih hal ini terasa kalau dia masih single atau belum punya omongan. Walaupun sudah menikah, kadang-kadang masih terjadi juga., hal ini biasanya kita kenal dengan “uang suami uang istri, uang istri ya uang istri”. Kalau sudah begitu tentunya akan lebih mudah bagi sang istri untuk bisa menabung dibandingkan dnegan suaminya.
Apalagi klaau kasusnya adalah warisan., walaupun perempuan mendapatkan setengah saja jika dibandingkan dengan laki-laki, tapi warisan yang setengah porsi itu hanya untuk dirinya sendiri saja. tidak ada kewajiban baginya untuk membaginya kepada suami atau memberikan kepada anak-anaknya. Beda halnya dengan laki-laki, walaupun dapat 2 kali lipat dari perempuan, tapi memiliki kewajian untuk memberi nafkah istri dan anak-anaknya. Tentunya masih lebih besar satup porsi untuk sendiri daripada dua porsi untuk ramai-ramai.
Salam
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi