Dikutip dari Tabloid NOVA No. 827/XVI
Pertanyaannya sekarang, banyak dari kita yang memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang arisan. Apa sih untung rugi dari mengikuti arisan? Bukankah arisan itu cuma jadi ajang ngerumpi ibu-ibu saja?
Nah, dalam artikel saya di akhir tahun 2003 ini, saya ingin mengajak Anda untuk melihat ke belakang, melihat ke peristiwa-peristiwa penting apa yang terjadi selama tahun 2003 kemarin, untuk lalu kita ambil hikmahnya. Berikut adalah peristiwa-peristiwa penting sepanjang tahun 2003 kemarin, dan apa hikmah yang bisa Anda ambil dari situ.
Bicara asuransi, kita tidak bisa melepaskan diri dari perusahaan yang menerbitkan produk-produk asuransi, yaitu perusahaan asuransi. Nah, menariknya, pada tahun 2003 kemarin, ada sejumlah perusahaan asuransi yang dibeli (bahasa kerennya diakuisisi atau diambilalih) oleh perusahaan asuransi lain. Salah satu perusahaan asuransi yang banyak menghiasi surat kabar karena aktif mengambilalih perusahaan-perusahaan asuransi yang lain adalah PT Asuransi Jiwa Manulife.
Proses pengambilalihan yang paling mendapat sorotan di berbagai surat kabar adalah pengambilalihan PT Zurich Life Insurance Indonesia pada bulan September 2003 kemarin. Mitra asing perusahaan ini (PT Zurich Life) memilih hengkang dari Indonesia, sementara portofolio bisnisnya (polis-polis asuransi yang sudah diterbitkannya) diambil alih tanggung jawabnya oleh PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia. Selain pengambilalihan, industri asuransi Indonesia sepanjang tahun 2003 kemarin juga diwarnai pula dengan keluarnya mitra asing perusahaan asuransi jiwa patungan dari pasar Indonesia. Kalau Anda pernah dengar, New York Life yang mengundurkan diri dari PT Sewu New York Life, dimana perusahaan tersebut akhirnya berganti nama menjadi PT Sequis Life. Pasti Anda pernah dengar kan?
Dari sejumlah kejadian pengambilalihan dan hengkangnya perusahaan asuransi asing tersebut, sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya - atau bahkan khawatir - dengan kondisi yang terjadi di industri asuransi kita. Apakah hengkangnya perusahaan asuransi asing di Indonesia dan diambil alihnya beberapa perusahaan asuransi oleh PT Asuransi Jiwa Manulife, menunjukkan bahwa kinerja perusahaan-perusahaan tersebut memburuk? Atau bahkan industri asuransi di Indonesia tidak menguntungkan?
Oo..., tunggu dulu bapak ibu. Kalau boleh saya katakan sejujurnya, bahwa Anda sebetulnya tidak perlu cemas atau kehilangan kepercayaan terhadap industri asuransi kita. Kenapa? Karena yang namanya pengambilalihan suatu perusahaan oleh perusahaan lain adalah hal yang wajar. Dalam industri asuransi misalnya, pengambilalihan polis-polis asuransi yang diterbitkan oleh suatu perusahaan tentu telah mempertimbangkan segala macam untung rugi yang ada, termasuk salah satu diantaranya adalah berapa besarnya aset dan kewajiban yang ada. Paling tidak, perusahaan yang mengambil-alih tersebut pasti telah mempertimbangkan bahwa aset yang ada lebih besar dibandingkan kewajiban-kewajibannya. Selain itu, Anda juga tidak perlu khawatir, karena saat ini Pemerintah - melalui Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan sub direktorat bidang Asuransi - mengawasi dengan ketat setiap perusahaan asuransi yang ada. Antara lain lewat berbagai macam ujian seperti uji kepatutan dan kepantasan bagi para direksi perusahaan asuransi dan penentuan besarnya aset yang harus dimiliki perusahaan asuransi dalam menjalankan bisnisnya. Jadi, tidak gampang lho perusahaan asuransi untuk bisa terus berdiri. Malah, pemerintah akan menerapkan aturan seperti pembatasan kegiatan usaha (PKU) bagi perusahaan yang tidak mematuhinya. Jadi, kita tidak perlu khawatir dengan keadaan asuransi kita. Tetaplah berasuransi. Bagaimanapun, Anda tetap perlu payung dalam kehidupan Anda sehari-hari kan?
Sebagian masyarakat mungkin termasuk Anda - menduga bahwa peristiwa ledakan bom di JW Marriot kemarin akan berpengaruh secara luas terhadap ekonomi. Jangan-jangan masyarakat jadi takut untuk beraktivitas sehingga berpengaruh terhadap kondisi ekonomi. Iyalah, kalau orang takut, aktivitas bisnis kan berkurang. Selain itu, banyak orang juga khawatir bahwa nilai tukar dolar akan jadi semakin mahal karena nilai rupiah menurun. Selain itu, tingkat hunian hotel ditakutkan juga jadi menurun. Waah... pokoknya rusak deh semuanya.
Tapi kalau mau jujur, ada hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut. Yang jelas, sangat terlihat bahwa masyarakat kita sudah jenuh dengan teror-teror berupa bom dan sebagainya, sehingga kalau ada berita tentang teror atau bom, yang sering terjadi masyarakat bukannya takut, tapi malah benci terhadap pelakunya sehingga ini tidak akan terlalu menakutkan mereka secara jangka panjang.
Banyak pelaku usaha yang cukup yakin bahwa tujuan utama dari pemboman JW Marriot adalah menimbulkan rasa takut di kalangan masyarakat. Salah satu cara untuk melawannya adalah dengan tidak menunjukkan rasa takut. Jadi bapak ibu, kalau ada kejadian-kejadian teror seperti kemarin, jangan tunjukkan rasa takut Anda. Tujuan pelaku pemboman adalah untuk menimbulkan ketakutan di masyarakat. Kalau Anda takut, merekalah yang menang. Jadi, jangan tunjukkan rasa takut Anda. Saya yakin Anda setuju dengan saya untuk hal yang satu ini.
Tapi yang jelas, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kasus pembobolan kedua bank tersebut memunculkan rasa was-was di masyarakat. Masyarakat takut jika kejadian seperti tahun 1997 di mana banyak bank-bank yang dilikuidasi atau dibekukan akan terjadi lagi di tahun 2003 atau 2004, sehingga akibatnya dana masyarakat yang ada di bank-bank itu tidak dapat diambil dengan segera. Selain itu masyarakat juga sepertinya jadi tidak percaya lagi dengan sistem perbankan di Indonesia akibat terjadinya kasus-kasus penyelewangan tersebut.
Tapi bapak ibu, kalau mau jujur, apa yang terjadi pada bank-bank tersebut salah satunya adalah lemahnya sistem pengendalian di dalam bank itu sendiri. Ditambah lagi, takutnya ada kolusi antara pelaku dengan pejabat bank,. Tapi, nah ini dia, saya rasa Anda tidak perlu khawatir dengan kondisi tersebut, apalagi sampai tidak percaya dengan bank-bank kita. Kenapa? Karena pemerintah telah menjamin dana masyarakat yang ada di bank. Artinya, jika terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, semisal penutupan bank-bank, kerugian bank-bank atau yang lainnya, maka pemerintah tetap akan melindungi dana masyarakat yang ada pada bank tersebut. Pemerintah akan menjadi kasir sementara untuk membayarkan dana-dana masyarakat yang ada pada bank bermasalah tersebut. Memang sih, penjaminan tersebut tidak akan ada selamanya. Tapi setelah itu, pemerintah akan menerapkan aturan tentang asuransi deposito, dimana kelak kalau Anda membuka deposito, dana Anda akan diasuransikan, alias akan tetap aman. Enak kan? Tentunya ada premi atau iuran yang harus Anda bayar. Tapi, di jaman sekarang ini, apa sih yang gratis? Kencing saja katanya harus tetap bayar. Jadi, tidak perlu khawatirlah bertransaksi dengan bank, karena pemerintah pasti akan melindungi kepentingan kita.
Nah, semoga dari beberapa peristiwa penting yang terjadi selama 2003 tersebut, kita dapat mengambil hikmahnya, sehingga kita bisa menatap tahun 2004 dengan lebih optimis. Selamat Tahun Baru.
Tahun 2003 sebentar lagi akan berakhir. Tahun 2004 sebentar lagi akan datang. Apa yang telah terjadi atau telah Anda raih pada tahun Kambing kemarin? Lalu, apa yang akan terjadi atau akan Anda raih pada tahun Kera mendatang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul di saat-saat pergantian tahun seperti sekarang ini. Kalau Anda cermat, sepanjang tahun 2003 kemarin ada banyak sekali peristiwa-peristiwa ekonomi nasional yang telah terjadi. Beraneka ragam ceritanya dan bervariasi pula dampaknya.
Salah satu bagian penting dalam keuangan keluarga adalah proteksi. Ibarat payung yang selalu kita bawa kemana-mana, asuransi adalah salah satu bentuk proteksi yang perlu kita miliki untuk berjaga-jaga kalau ada risiko yang terjadi pada diri kita.
Peristiwa penting lainnya yang terjadi tahun 2003 kemarin adalah terjadinya ledakan di Hotel JW Marriot Jakarta pada 5 Agustus 2003. Peristiwa ini menewaskan sejumlah orang dan melukai ratusan orang lainnya. Indonesia tersentak, dunia juga terhenyak, sebab pemboman ini adalah pemboman besar kedua setelah terjadinya bom di Bali pada tahun 2002. Selain itu, peristiwa ini dianggap cukup menyentak karena terjadi di jantung ibu kota sekaligus tempat dimana banyak orang asing yang melakukan kegiatan bisnisnya di situ.
Aduuh..., bank BUMN dibobol. Ini cerita yang beberapa kali terjadi sepanjang tahun 2003 kemarin. Misalnya, kasus Negotiable Certificate Deposit di Bank Mandiri sebesar Rp 50 Miliar, kemudian kasus L/C fiktif di BNI sebesar 1,7 Triliun rupiah. Iih... serem ya? Kasus-kasus itu sih sampai saat ini masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak yang berwenang. Tapi yang jelas, kasus pembobolan itu mengakibatkan kerugian yang sangat besar pada bank-bank itu. Mungkin saya tidak usah menjelaskan kenapa pembobolan itu bisa sampai terjadi. Selain karena penyelidikannya juga masih belum selesai, juga terlalu panjang untuk dijelaskan semuanya. Dan lagi, pusiiing..
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Undang Kami |
Kamus Keuangan |
Referensi