DIMINTA MODALI
BISNIS SUAMI

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 677/XIII

Pak Safir yang terhormat,

Hampir dua tahun saya jadi single fighter dalam rumah tangga. Sebagai staf dari perusahaan asing, saya mendapat gaji Rp 2 juta. Secara matematis, mustahil memenuhi kebutuhan hidup 3 anak usia sekolah, seorang kerabat, seorang pembantu, dan membayar cicilan dua rumah (sekitar Rp 1,2 juta), asuransi pendidikan, sampai biaya pelajaran tambahan anak-anak. Belum lagi bantuan kepada orang tua dan saudara (kalau mendadak ada yang sakit atau hal urgen lainnya).

Selama ini saya malas menghitung pengeluaran saya karena saya tahu pasti sangat besar. Selain bekerja, saya juga berbisnis apa saja, dari dagang pakaian, MLM, beli saham, dan mengajar bahasa. Tetapi beberapa bulan belakangan bisnis saya macet. Entah ditipu atau kredit mandek. Sekarang saya cuma mengandalkan pendapatan dari bekerja dan mengajar. Sesekali juga saya menulis dan dapat honor.

Saya cemas menghadapi bulan-bulan mendatang, terutama membayar cicilan rumah. Masalah lainnya: suami saya ingin mengembangkan bisnis penerbitan majalah dan meminta saya jadi investor. Tentunya dengan perhitungan bisnis. Sekarang saya cuma punya Rp 10 juta. Itu pun sedianya untuk membayar cicilan rumah akhir tahun nanti (hutang dua rumah saya masih Rp 40 juta)

Sebenarnya tanpa uang tunai pun saya sudah bisa jadi investor usahanya. Karena saya punya seperangkat komputer yang tersambung ke internet, dua saluran telepon, satu mesin faks, mobil, dan lokasi (rumah yang memadai). Tapi saya takut bisnis ini pun akan rugi.

Saya punya kartu kredit yang aktif, deposito yang bunganya saya alihkan ke tabungan anak-anak setiap bulan, juga investasi fisik saham senilai Rp 9 juta.

Pertanyaan saya, manakah yang harus saya prioritaskan:

  1. Membayar cicilan rumah di akhir tahun.
  2. Memberikan dana itu untuk bisnis penerbitan.
  3. Mengambil deposito untuk keperluan point 1 dan 2 (sebenarnya saya agak berat mencairkan deposito ini).
  4. Mencari penghasilan tambahan lain.
Sebetulnya saya masih punya pemasukan bonus tahunan dua kali gaji di akhir tahun. Tetapi seharusnya pemasukan ini ditabungkan, kan, Pak? Mohon solusinya, terima kasih.

A - Jakarta Timur



Jawab:

Ibu A di Jakarta Timur,

Mohon maaf karena saya baru bisa menjawab surat Anda sekarang. Berikut ini saran saya untuk Anda.

  1. Kurangi bidang usaha yang Anda jalankan selama ini, menjadi hanya satu bidang saja. Terlalu banyak bidang usaha akan membuat Anda tidak fokus. Lha iya, dong, satu usaha saja belum berhasil tapi Anda sudah menjalankan usaha yang lain.

    Lalu bidang usaha apa yang sebaiknya dijalankan? Melihat situasi Anda, saya menyarankan agar bidang usaha yang dijalankan adalah bidang penerbitan majalah yang sedang dirintis oleh suami Anda. Kita harapkan usaha itu akan menjadi usaha keluarga.

  2. Bagaimana dengan Anda? Saya menyarankan agar Anda juga mencari pendapatan ekstra, bukan dari mengembangkan usaha, tetapi dari keahlian Anda, yaitu menulis. Kenapa pendapatan ekstra tersebut bukan dari menjalankan usaha juga seperti yang selama ini Anda lakukan? Karena keluarga Anda toh sudah punya satu bidang usaha yang sudah kita pilih bersama, yaitu usaha penerbitan majalah yang dirintis suami Anda.

    Kalau Anda sendiri juga berbisnis, nanti akan terlalu banyak bisnis yang dijalankan di keluarga Anda sehingga Anda berdua akan menjadi tidak fokus. Jadi, untuk Anda, kembangkan saja kebiasaan menulis Anda, dan rajin-rajinlah mengirim tulisan Anda ke media. Dari situ Anda akan mendapatkan pendapatan ekstra.

    Saya sarankan agar tulisan-tulisan tersebut Anda kirimkan saja secara rutin ke media yang terbit seminggu sekali. Dengan mengirimkan tulisan Anda ke media yang terbit seminggu sekali, maka hasil yang Anda dapatkan dalam sebulan bisa cukup lumayan jumlahnya. Beda kalau Anda mengirimkannya ke media yang hanya terbit satu kali dalam sebulan, nanti honor Anda juga cuma sekali saja dalam sebulan. Iya toh? Kalau bisa kirim saja ke NOVA, siapa tahu dimuat.

  3. Oke, kalau Anda mencari pendapatan ekstra dari menulis, bagaimana dengan bidang-bidang usaha yang sudah Anda jalankan sebelumnya? Tutup saja, Bu. Seperti kata saya, Anda sebaiknya fokus ke satu bidang usaha saja. Biarkan suami yang menjalankan usaha, sedangkan Anda mencari pendapatan ekstra dari menulis. Setelah beberapa bulan, kita harapkan usaha penerbitan majalah yang dirintis suami Anda bisa mulai memberikan pendapatan.

  4. Mengenai uang Rp 10 juta yang Anda miliki, saya sarankan untuk digunakan membayar cicilan rumah. Itu hutang , Bu. Jadi cepat atau lambat memang harus dibayar kan?

  5. Mengenai permintaan modal dari suami Anda untuk menjalankan usaha penerbitan majalahnya? Saran saya, jual saja saham yang Anda miliki yang kata Anda saat ini bernilai sekitar Rp 9 juta, dan gunakan uangnya untuk membiayai usaha baru tersebut. Nanti kalau usaha penerbitan majalah itu berhasil, Anda toh akan punya lebih banyak uang lagi untuk bisa diinvestasikan kembali ke dalam saham.

  6. Mengenai Bonus Tahunan yang Anda dapatkan pada akhir tahun 2000 kemarin, ya jangan dipakai Bu. Tabung saja itu untuk dana cadangan. Dengan demikian, kalau-kalau Anda berdua tidak mendapatkan income pada bulan-bulan mendatang, maka Anda bisa tetap membayar pengeluaran-pengeluaran keluarga.
Itu saja dari saya. Sukses untuk usaha barunya ya, Bu.



kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Profil | Jasa yang Ditawarkan | Artikel | Buku | Agenda


© 2000 Safir Senduk & Rekan