Dikutip dari Tabloid NOVA No. 681/XIII
Bapak Safir yang terhormat,
Saya ingin saran dari Bapak mengenai masalah pelunasan kartu kredit. Saya sudah menggunakan kartu kredit selama sekitar tiga tahun. Sejak awal, saya tahu jika penggunaan kartu kredit akan dikenai bunga. Itu sebabnya, dulu saya menggunakan kartu kredit hanya untuk berbelanja keperluan yang mendesak.
Belakangan ada fasilitas baru dari kartu kredit tersebut, yakni dapat mengambil uang tunai di ATM. Sejak itulah, saya jadi tergiur untuk mencoba. Saya membuat tiga kartu kredit tambahan (karena saat itu gratis dari biaya administrasi). Kartu tambahan itu saya tujukan untuk ibu, adik, dan suami saya.
Masalahnya, suami saya sering lupa memberi tahu saya saat habis menarik uang tunai di ATM. Saya terkejut ketika tagihan kerap membengkak. Apalagi bunga untuk penarikan uang tunai, kan, lebih besar. Apa yang mesti saya lakukan untuk mencegah membengkaknya tagihan? Haruskah saya tutup saja kartu itu? Atau mungkin Bapak punya saran lain?
N - Somewhere
Ibu N yang terhormat,
Ada banyak tipe orang di dunia ini. Ini berarti, bila masing-masing dari mereka diberi satu kartu kredit, maka akan ada banyak karakter dan perilaku keuangan yang berbeda-beda, di mana masing-masing dari mereka akan memperlakukan kartu kredit di tangannya dengan perlakuan yang berbeda-beda pula.
Sebagai contoh, ada pemegang kartu yang lalu jadi belanja gila-gilaan, ada yang malah jadi hati-hati sekali, ada yang mengambil banyak sekali uang dari ATM, ada yang menganggap kartu kredit seperti penghasilan tambahan, dan seterusnya.
Apa hubungannya ini dengan Anda? Hubungannya adalah bahwa kalau Anda membuat kartu tambahan dari rekening kartu kredit Anda, maka ini berarti Anda menyatukan beberapa karakter manusia dalam satu tagihan, bukan lagi cermin dari karakter Anda sendiri.
Anda sendiri mungkin hanya memakai kartu kredit untuk belanja yang sifatnya urgent. Tetapi belum tentu suami Anda juga melakukan hal yang sama. Belum tentu ibu Anda juga memiliki perilaku keuangan yang sama dengan Anda. Begitu pula adik Anda. Nah sekarang bayangkan, kalau semua karakter yang berbeda itu melebur jadi satu dalam tagihan kartu kredit Anda. Itulah yang terjadi pada Anda saat ini.
Jadi, saran saya pertama-tama untuk Anda, berhati-hatilah dalam membuat kartu tambahan. Kasarnya, kalau Anda tidak yakin kartu tambahan Anda bisa digunakan dengan baik oleh pemegangnya (baik oleh ibu, suami, maupun adik Anda), maka saya cenderung menyarankan Anda untuk menutup kartu-kartu tambahan itu.
Itu yang pertama. Yang kedua, yang ini mungkin Anda sudah tahu, bahwa kartu kredit sebaiknya tidak digunakan untuk penarikan tunai. Ini karena selain biaya administrasinya jadi mahal, bunga yang dikenakan juga lebih besar daripada kalau Anda menggunakan kartu itu untuk transaksi pembelanjaan.
Lalu bagaimana kalau suami Anda butuh uang tunai? Ya, ambil saja dari tabungan. Kenapa begitu? Kalau Anda ambil dari rekening kartu kredit Anda, maka Anda akan kena bunga (malah lebih besar lagi dari bunga transaksi pembelanjaan). Tapi kalau Anda ambil dari tabungan, kan, Anda sama sekali tidak kena bunga?
Sekarang, bagaimana kalau isi tabungannya tidak ada? Memang sih, mungkin saja suami Anda melakukan penarikan tunai melalui kartu kredit karena ia tidak memiliki dana yang cukup pada tabungannya. Bila memang demikian, saya tetap tidak menyarankan suami Anda untuk mengambil uang lewat rekening kartu kredit.
Jadi, kuncinya di sini adalah bahwa uang tunai itu harus ada! Bagaimana caranya? Ya, sisihkan saja sebagian penghasilan Anda (dan suami) setiap bulannya dalam jumlah yang cukup untuk pengeluaran suami Anda selama satu bulan. Setelah itu, taruh uangnya dalam rekening tabungan ber-ATM.
Selanjutnya, katakan pada suami Anda bahwa apabila ia membutuhkan uang tunai, ambil uangnya dari rekening tabungan tersebut. Dan bukan dari rekening kartu kredit. Pada saat ini hampir semua rekening tabungan memiliki ATM, kan? Ini akan memudahkan suami Anda dalam melakukan penarikan kapan pun dibutuhkan.
Mungkin Anda takut uang tabungan itu nanti habis di tengah bulan karena diambil terus di ATM. Oke, kalau begitu jangan kasih uang tunai untuk keperluan sebulan. Bagi saja menjadi dua atau tiga kali sebulan.
Jika cara ini tidak berhasil juga, dalam arti bahwa suami Anda tetap lebih suka mengambil uang tunai dari rekening kartu kredit daripada mengambilnya di rekening tabungan (padahal uangnya ada), maka dengan sangat menyesal saya menyarankan agar Anda tutup saja kartu tambahan milik suami Anda.
Sekarang bagaimana dengan kartu kredit ibu dan adik Anda? Kalau memang perilaku keuangan mereka (terhadap kartu kredit) Anda nilai buruk, jangan segan pula untuk menutup kartu tambahan itu. Bukan apa-apa, Bu, ini karena semua itu akan ditagih ke Anda kan? Semua itu menjadi tanggungan Anda, lo. Kartu utamanya atas nama Anda kan? Ini berarti, uang Andalah yang digunakan untuk membayar tagihannya. Bukan uang suami, bukan uang mama, atau uang adik Anda. Jadi, Anda seharusnya punya hak untuk mengatur bahkan menutup kartu tambahan itu bila Anda rasa pemakaiannya tidak sesuai dengan apa yang sudah disepakati bersama.
Bagaimana dengan kartu kredit Anda sendiri? Tetap pegang saja, Bu. Seperti kata Anda, Anda sendiri selalu memakai kartu kredit hanya untuk berbelanja hal yang mendesak, kan? Jadi, kalaupun Anda tertarik memakai kartu kredit karena ada fasilitas pengambilan uang tunai di ATM, itu pun masih untuk tujuan yang urgent-urgent saja, kan? Mudah-mudahan terus begitu, ya, Bu.
Jawab:
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Profil |
Jasa yang Ditawarkan |
Artikel |
Buku |
Agenda