Dikutip dari Tabloid NOVA No. 659/XIII
Bapak Safir yang terhormat,
Saya seorang dokter PTT (pegawai tidak tetap) yang ditempatkan di Puskesmas Kecamatan Kabupaten Tegal, dengan lokasi kriteria "BIASA" dan gaji per bulan Rp 492 ribu. Sebagai wanita lajang yang hidup di desa, seharusnya gaji sejumlah itu pas-pasan, kalau tidak bisa dibilang sangat minim. Sebagai dokter yang baru ditempatkan, saya belum membuka praktek swasta (karena butuh modal yang tidak sedikit), sehingga bisa dikatakan belum ada pemasukan lain sebagai gaji tetap.
Permasalahan saya, bulan-bulan pertama di perantauan keuangan saya selalu defisit sampai saat ini. Nah, setelah saya analisa, ternyata penyebabnya adalah:
Mohon masukan/solusi. Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih.
dr. N - Tegal
Jawab:
dr. N di Tegal,
Saya ikut bersimpati membaca surat Anda. Tidak bisa lain, saya hanya bisa menyarankan Anda berusaha menambah pendapatan. Mungkin dengan mencari pekerjaan sampingan atau bekerja di bidang yang kurang lebih masih ada hubungannya dengan keahlian Anda sekarang. Jangan tanya saya pekerjaan macam apa yang harus Anda pilih, karena Andalah yang pasti lebih tahu apa dan di mana kemampuan Anda.
Saya tahu, tidak mudah untuk mencari pendapatan tambahan di masa yang sulit seperti sekarang. Tapi itu adalah satu-satunya jalan. Untuk menuntut agar pemerintah membayar gaji Anda dengan tepat waktu hampir sama ibaratnya seperti pungguk merindukan bulan: sangat sulit. Jadi, usahakan untuk menambah pendapatan Anda sehingga Anda tak perlu terlalu mengandalkan gaji Anda yang selain -- menurut Anda -- kecil, juga sering tidak tepat waktu.
Hal kedua yang harus Anda perhatikan adalah dari sisi pengeluaran. Apa yang harus Anda lakukan adalah dengan menekan pengeluaran Anda sebisa mungkin. Coba lihat kembali pengeluaran-pengeluaran Anda selama ini, apakah ada yang bisa ditekan atau dihapus. Saya tahu ini juga sulit. Anda mungkin merasa bahwa pengeluaran Anda sudah kecil, apa lagi yang mau ditekan? Pesan saya: jangan menyerah dulu. Lihat lagi catatan pengeluaran Anda, dan perhatikan baik-baik pengeluaran-pengeluaran tersebut. Anda masih single kan? Pos-pos dan jumlah pengeluaran seseorang yang masih single pada umumnya lebih sedikit dibanding mereka yang sudah menikah. Apalagi Anda katakan bahwa tadinya ketika Anda masih kuliah - Anda biasa hidup enak dan menikmati uang saku yang jauh lebih besar daripada jumlah gaji Anda sekarang.
Kalau begitu, apakah mungkin pengeluaran-pengeluaran yang sekarang Anda lakukan hanya untuk mempertahankan standar gaya hidup Anda ketika masih di Jakarta dulu? Saya tidak tahu jawabannya. Hanya Anda yang tahu. Jadi sekali lagi, lihat baik-baik catatan pengeluaran Anda. Lihat mana yang bisa ditekan atau dihapus.
Saya lihat Anda juga sering mengeluarkan uang ketika menghadiri undangan nikah/khitan yang kata Anda sekitar 6-10 kali dalam sebulan. Belum lagi pengeluaran insidentil seperti permintaan sumbangan seperti yang Anda bilang. Saran saya, batasi saja jumlah sumbangan. Toh ketika menyumbang, Anda tak punya kewajiban untuk menuliskan nama Anda di amplopnya bukan?. Saya tidak mengajarkan Anda untuk bersikap pelit, tapi bersikap cerdik. Ini adalah sumbangan. Sumbangan sifatnya tidak wajib, baik jumlah maupun keberadaannya. Persoalannya sendiri, bagaimana Anda sendiri bisa menyumbang kalau situasi keuangan Anda sendiri tidak memungkinkan? Kurangi jumlah uang yang Anda sumbangkan, karena saya lihat pos tersebut bisa sangat besar kalau dijumlahkan. Jadi kuncinya adalah di jumlah uang yang Anda sumbangkan. Kalau tadinya Anda biasa menyumbang Rp 10 ribu, kurangi saja menjadi setengahnya. Tak perlu malu, toh Anda memasukkan uangnya dalam amplop, dan amplop tersebut tidak Anda tuliskan nama Anda, bukan? Selain itu, menyumbanglah kalau memang Anda betul-betul diminta dan "tidak bisa" menolak.
Lalu, harus Anda kemanakan uang yang setengahnya lagi? Tabungkan. Lakukan itu di muka setiap kali Anda mendapatkan gaji Anda.
Saran-saran ini tidak mudah untuk dijalankan. Merubah sistem pengelolaan keuangan pasti akan terasa berat pada awalnya. Tetapi lama kelamaan, kalau Anda sudah membiasakan diri dengan sistem tersebut, maka selanjutnya akan mudah. Jadi ada dua saran saya untuk Anda: usahakan menambah pendapatan Anda, dan lihat apakah Anda bisa menekan pengeluaran Anda.
Ketika seseorang mengalami defisit, maka hal pertama yang biasanya akan dilakukannya adalah dengan mengurangi pengeluarannya agar penghasilannya tidak habis. Jarang sekali yang memikirkan untuk menambah penghasilannya.
Kembali pada soal cara menambah penghasilan, saya punya alternatif yang rasanya cocok buat Anda. Kenapa Anda tidak mencoba menulis artikel dan mengirimkannya ke media massa? Ke NOVA, misalnya. Anda bisa menulis artikel tentang masalah kesehatan (hal yang memang Anda kuasai) dan mengirimkannya agar dimuat secara rutin di media. Apalagi saat ini media cetak baru terus bermunculan.
Menulis artikel secara free lance bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang cukup lumayan, lo. Tidak usah menulis masalah kesehatan yang terlalu teknis dan njlimet. Tulislah masalah kesehatan yang memang tengah jadi perhatian atau sedang dibutuhkan masyarakat awam, secara populer. Saya yakin banyak media cetak yang mau menampung tulisan-tulisan populer tentang kesehatan.
Anda bisa mengirimkan artikel semacam itu secara rutin seperti seminggu sekali. Efeknya, selain mendapatkan penghasilan tambahan, Anda juga akan mendapatkan "tambahan" yang baik pada CV Anda. Terakhir, dengan artikel Anda dibaca banyak orang, Anda juga akan mendapatkan nama baik yang tentunya akan sangat berpengaruh pada karir Anda kelak sebagai seorang dokter. Jangan khawatir, Anda punya bakat menulis, kok. Gaya bahasa Anda dalam menulis sangat baik. Itu tercermin dari surat yang Anda kirimkan pada saya.
Dengan semua penyebab di atas, dapat dibayangkan betapa keuangan saya selalu defisit tiap bulannya. Pengeluaran tetap tiap bulan adalah biaya sewa rumah, bayar listrik, telepon, dan pembantu sebesar Rp 300 ribu per bulan. Berarti uang untuk biaya hidup tinggal Rp 192 ribu. Bisa Anda bayangkan betapa pusingnya mengelola Rp 192 ribu untuk makan, kebutuhan pribadi, transportasi, dan lain-lain. Belum lagi bila gaji datang terlambat, saya harus menutupi kebutuhan dari tabungan pribadi.
Peta Situs |
Berita Terbaru |
Surat |
Hubungi Kami
Profil |
Jasa yang Ditawarkan |
Artikel |
Buku |
Agenda