BISNIS KOS
TERUS-TERUSAN MERUGI

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 804/XVI

Bapak Safir Yang Terhormat,
Saya seorang ibu rumahtangga yang mencari tambahan penghasilan dengan menyewakan kamar kos, meneruskan usaha mertua yang sejak sekitar 12 tahun lalu saya kelola sendiri bersama suami. Tetapi Pak Safir, dengan semakin tingginya tarif dasar listrik (tarif listrik naik terus), sekitar 24 persen tahun ini, dan kenaikan tarif air ledeng (PAM), maka sejak tahun 2001 hingga sekarang, usaha saya mengalami kerugian terus-menerus. Belum lagi untuk biaya perbaikan dan perawatan.

Kami punya 7 kamar, dan saat ini yang terisi 5 kamar (jarang terisi penuh). Total pendapatan dari usaha ini adalah Rp 650.000/bulan, untuk bayar rekening listrik Rp 450.000/bulan, bayar rekening air ledeng (PAM) Rp 350.000/bulan. Untuk menaikkan tarif kos kembali, rasanya tidak mungkin karena kalau terlalu mahal malah tidak laku, tidak seperti di Jakarta. Juga karena keadaan rumah kos tidak modern bangunannya. Bagaimana Pak Safir, apakah usaha ini saya tutup saja? Persoalannya, saya belum punya alternatif usaha lain. Atau apakah saya jual saja, soalnya kalau harus merenovasi bangunannya, saya belum punya dana.

Demikian Pak Safir, mohon bantuan Bapak. Atas saran atau jawaban dari Bapak, saya ucapkan terima kasih.

D.T. ­ Lampung

Ibu D.T. di Lampung, Saya ikut prihatin dengan kondisi Anda sekarang. Terus-terang, saya sependapat dengan Anda bahwa kenaikan harga-harga, termasuk listrik dan air, membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih sulit. Menanggapi surat Anda, kelihatannya saya tidak bisa terlalu banyak memberikan saran, mengingat Anda juga belum punya alternatif usaha lain, apalagi dana untuk renovasi rumah juga belum ada. Berarti, kemungkinan yang ada adalah melanjutkan usaha kos-kosan tersebut, karena apabila ditutup, toh Anda juga akan tetap mengeluarkan dana untuk perawatan rumah, bukan?

Tetapi, mungkin ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menyiasati kenaikan tarif listrik dan air di tempat Anda, seperti berikut:

  • Bila memungkinkan, Anda bisa mengalihkan usaha kos-kosan menjadi rumah kontrakan. Dengan sistem kontrakan, beban air dan listrik akan ditanggung oleh si pengontrak, sehingga Anda akan mendapatkan penghasilan sewa rumah secara bersih. Hanya saja ada konsekuensinya lho, yaitu Anda harus mempersiapkan dana untuk renovasi atau perbaikan di akhir masa kontrak rumah, karena biasanya si pengontrak tidak akan terlalu peduli dengan kerusakan-kerusakan yang terjadi pada rumah Anda.

  • 2. Bila Anda tetap ingin meneruskan usaha kos-kosan, cobalah untuk menaikkan tarif kos dengan cara menaikkan pada komponen yang berkaitan dengan biaya listriknya. Misalnya, kenakan tarif yang lebih mahal untuk setiap anak kos yang membawa barang-barang elektronik. Semakin banyak barang elektronik yang dia bawa, semakin mahal pula tarif kos yang harus ia bayar. Sedangkan untuk anak kos yang tidak membawa barang elektronik, Anda bisa mengenakan tarif yang lebih rendah.

  • Bila cara tersebut juga tidak bisa diterapkan, maka tidak ada jalan lain kecuali mengajak seluruh penghuni kos untuk bermusyawarah memecahkan masalah ini. Anda bisa mengungkapkan masalah Anda secara jujur kepada mereka dan tawarkan kenaikan tarif kos yang bisa disepakati bersama. Alternatif lain, Anda bisa mengajak mereka bersama-sama menghemat listrik dan air. Biasanya, dengan pendekatan kekeluargaan, cara ini akan lebih bisa dilaksanakan.

    Cara-cara di atas tidak mengikat, lho, Bu. Anda sendiri bisa menambahkan cara-cara lain yang lebih sesuai dengan kondisi rumah kos dan penghuni kos di rumah Anda. Demikian tanggapan saya, semoga bermanfaat dan semoga masalahnya cepat teratasi.


    kembali

    Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
    Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


    © 2000 Safir Senduk & Rekan