BINGUNG MENGHITUNG
UNTUNG WARUNG

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 749/XV

Bapak Safir yang terhormat,

Saya sudah lama sekali punya rencana menambah penghasilan tambahan di samping gaji suami, tapi saya selalu ragu-ragu untuk memulai usaha apa yang cocok dan bisa dilakukan di rumah sambil momong anak.

Akhirnya saya mantapkan hati membuka warung keperluan rumah tangga dari mulai gas, air mineral, dan sebagainya. Saya sulap garasi rumah jadi warung 5 x 9 meter dengan modal uang tabungan kurang lebih Rp 50 juta.

Hari pertama omset hanya Rp 50 ribu, tapi sekarang setelah jalan setahun, omset rata-rata antara Rp 700.000 sampai Rp 1.500.000 per hari.

Pak Safir, saya masih bingung menghitung keuntungan rata-rata. Karena terkadang bisa 10 persen, terkadang bisa juga kurang dari itu. Yang saya takutkan, jangan-jangan uang yang terpakai tiap bulan melebihi untung/laba yang saya dapatkan. Takutnya lama-lama malah menggerogoti modal. Sebab, saya dan suami hanya tamatan SLA/SMU, bukan sarjana. Mungkin kurang cakap mengelola keuangan.

Suami saya adalah pegawai kantoran dengan gaji Rp 1.500.000 per bulan + uang transpor. Uang gaji utuh untuk keluarga sedangkan uang transpor tentu dipegang suami. Pernah kami duduk berdua mengkalkulasi pengeluaran tiap bulan, hasilnya mengejutkan. Ternyata pengeluaran bisa 4 sampai 5 kali lipat gaji suami!

Kami memang terdiri dari keluarga besar. Yakni: lima anak saya, ibu saya, satu adik, dua pembantu, dan kami suami-istri. Jadi, semua ada 11 orang. Ibu saya sudah sepuh dan kena stroke pula. Jadi, tiap bulan perlu biaya Rp 700.000 untuk kontrol dan berobat. Beliau hanya bisa terbaring di ranjang sehingga kami selalu merawatnya.

Pak Safir, kami juga punya cicilan motor selama 3 tahun yang sudah sisa 10 bulan lagi. Juga ada cicilan lemari es untuk Rp 2.700/hari yang masih sisa 10 hari, arisan-arisan, asurannsi bea siswa untuk 5 anak (yang sudah saya tutup dengan uang kontrakan rumah).

Anak pertama dan kedua sebentar lagi mau tamat. Tentunya akan lebih besar lagi biaya yang dibutuhkan. Berikut ini perincian bulanan pengeluaran kami (terlampir) yang mencapai Rp 7 juta. Mana yang harus saya pangkas?

Pengeluaran di atas belum termasuk pembelian buku-buku anak setiap cawu. Semua anak-anak saya sekolah di negeri, kecuali yang TK. Itu pun TK yang sederhana.

Kami tidak pernah beli beras karena kami bisa memanennya sendiri. Malah ada lebihan yang bisa dijual. Kami memang punya sedikit sawah di kampung. Untuk keperluan pokok seperti gula, minyak, sabun, gas, dan lain-lain, tinggal ambil di warung. Belanja lebih pada untuk lauk-pauk, serta buah dan sayur.

Mohon bantuan Pak Safir agar warung berjalan lancar, modal tidak sampai terpakai, serta pengeluaran hemat, namun hidup tetap sehat dan tidak pelit. Terima kasih sebesar-besarnya untuk bantuannya.

Ny. N - Jakarta Timur


Jawab:

Ibu Nani di Jakarta Timur,

Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Anda, karena sudah berani membuka warung, meski sebelumnya Anda sempat ragu. Dari hitungan kasar saja, penghasilan warung Anda lebih besar dibandingkan dengan gaji suami. Bukankah ini tandanya usaha Anda berkembang cukup pesat?

Permasalahan yang Anda hadapi adalah permasalahan yang umumnya dialami warung-warung kecil lain, yaitu mencampurkan keuangan warung dengan keuangan keluarga. Nah, saran saya, daripada tak jelas mana uang warung dan mana uang pribadi, lebih baik Anda mengambil saja honor tiap bulannya dari kas warung. Anggaplah itu gaji Anda sebagai manajer dan kasir.

Jangan ragu untuk mengambil gaji yang besar untuk diri Anda sendiri. Toh yang punya warung kan Anda. Yang penting diambil sekali saja dalam sebulan. Gunakan gaji tersebut untuk membiayai kebutuhan keluarga, termasuk untuk membeli gas, minyak, sabun, dan kebutuhan lainnya.

Untuk pembukuan, Anda dapat membuat beberapa catatansederhana, seperti pemasukan kas, pengeluaran kas dan keluar masuknya barang. Saya sarankan Anda secara rutin melakukan pemeriksaan stok tiap awal bulan dan akhir bulan. Selain itu, catat dengan pasti setiap barang yang masuk dan keluar. Sehingga Anda bisa tahu mana barang yang cepat laku dan barang yang hilang.

Anda juga sebaiknya membuat laporan laba/rugi setiap bulannya. Kalau rata-rata untung tiap barang adalah 10 persen, maka untuk menghitung laba kotor Anda tinggal mengalikan omset Anda dengan 10 persen. Berarti tiap bulannya laba kotor warung Anda adalah Rp 1.500.000 x 30 hari x 10 persen = Rp 4.500.000.

Dari laba kotor ini, Anda tinggal menggunakannya untuk membayar pengeluaran-pengeluaran warung, seperti cicilan lemari pendingin, listrik, air, dan tentunya gaji Anda. Dengan begitu, Anda akan mengetahui berapa laba bersih warung Anda.

Untuk menguasai dasar-dasar pengelolaan keuangan, tidak perlu jadi sarjana, kok, Bu. Anda bisa coba mempelajari dasar-dasar akuntansi dari buku. Ilmu akuntansi bisa membantu Anda menghitung berapa laba/rugi warung Anda. Saya sarankan pilih buku pelajaran akuntansi untuk tingkat SMU atau sekolah kejuruan ekonomi (SMEA). Biasanya jauh lebih mudah dicerna karena yang diajarkan adalah dasar-dasarnya. Itu cukup membantu.

Pengeluaran-pengeluaran mana yang harus dipangkas? Kalau saya perhatikan, Anda ikut arisan sampai empat macam. Pantas saja pengeluaran keluarga Anda membengkak. Saya sarankan, ikuti satu atau dua saja. Selain arisan, mulai sekarang coba untuk menggunakan telepon untuk hal yang penting-penting saja. Lakukan penghematan listrik. Bisa pula Anda mengurangi langganan koran dan majalah anak yang mencapai Rp 150 ribu per bulan itu.

Untuk mengantisipasi risiko biaya kesehatan (kalau mendadak sakit), sebaiknya Anda juga mengambil asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga. Dengan mengambil asuransi kesehatan, Anda bisa mengurangi anggaran pengeluaran tak terduga khususnya jika ada yang jatuh sakit. Mudah-mudahan jawaban saya memuaskan Anda.



kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan