BINGUNG MEMILIH
RUMAH BARU

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 712/XIV

Bapak Safir Senduk di tempat,

Suami saya adalah pegawai negeri sipil (PNS) dari salah satu kesatuan TNI di Jakarta, Saat ini ia masih mempunyai rumah dinas di Jakarta. Sedangkan saya seorang karyawati swasta di daerah Gunung Putri ­ Bogor. Belakangan ini kami mendengar semacam kabar yang mulai beredar (kendati belum ada keputusan resmi), bahwa anggota PNS akan dianjurkan mencari rumah di luar kompleks.

Ada beberapa pilihan yang harus saya tempuh dalam menyikapi kabar tersebut, dan justru ini yang membuat saya dan suami bingung. Ada pun pilihan tersebut antara lain:

Pertama, rumah di atas tanah kesatuan. Maksud saya, ada rumah-rumah di kompleks yang saat ini ditempati warga Kesatuan yang sudah pensiun. Nah, saya bisa menempati rumah tersebut dengan cara mengganti rumahnya saja (tanah tidak) dengan harga bervariasi antara Rp 15.000.000 - Rp 30.000.000 (tergantung bagus tidaknya rumah tersebut). Jadi warga yang pensiun tadi harus pindah dan digantikan oleh PNS yang "diusir" dari kompleks tadi.

Kalau memang saya jadi membeli rumah tersebut, keluarga saya bisa menempati rumah tersebut sesuai dengan "Kebijakan" atasan suami saya. Kalau beruntung bisa saja kami menempatinya sampai pensiun atau sampai 25 tahun mendatang (usia suami saat ini 30 th dan saya 26 th). Tapi kalau apes, bisa saja hanya 5 , 10 tahun, atau kapan saja sesuai keputusan mereka yang di atas.

Saya sudah pernah melihat dan berminat pada rumah dengan harga Rp 15.000.000 (bisa nego) tapi belum terjadi kesepakatan karena menurut banyak pihak (RT, kenalan suami, saudara saya, dan sebagainya) disarankan jangan mengambil rumah di daerah tersebut karena bisa ada peraturan-peraturan mendadak yang sifatnya merugikan pihak PNS. Selain itu, harganya menurut kantong kami juga cukup tinggi dilihat dari segi risiko terjadinya pengusiran.

Alternatif kedua, ada kenalan suami yang bersedia menjual rumahnya yang kebetulan dekat kantor saya (Gunung Putri) dengan harga Rp 12.000.000,- (KPR type 21/60), sudah jadi (belum renovasi). Kelemahan pilihan ini, jauhnya jarak tempuh suami ke kantor (tidak ada jemputan). Apalagi dia bisa dibutuhkan sewaktu-waktu (siang maupun tengah malam bahkan Minggu pun terkadang masuk kerja).

Pilihan ketiga, ada rumah seharga Rp 60.000.000 di Jakarta (jarak ke kantor saya dan suami tidak ada masalah) bisa dicicil dengan catatan si empunya rumah tersebut tetap menempati rumah tersebut sampai cicilan saya lunas (sekitar 5 tahun).

Point kedua dan ketiga rasanya yang paling saya inginkan, dengan pertimbangan saya bisa saja "Badak" (menunggu sampai benar-benar diusir dari kompleks) dan sambil menunggu "diusir" saya bisa saja mengontrakkan rumah point 2 atau point 3.

Dana tunai yang saat ini saya miliki sebesar Rp 12.500.000,- dengan sisa penghasilan sekitar Rp 1.000.000,- per bulan setelah dikurangi biaya hidup sebulan.

Kalau point ke-2 saya pilih, hasil mengontrakkan rumah setahun mungkin hanya Rp 1.000.000. Sedangkan kalau point ke-3 bisa Rp 2.500.000 (tapi itu 5 tahun lagi setelah rumah itu lunas).

Untuk pendidikan anak saya (baru satu usia satu tahun), saya lebih menyukai di daerah yang sekarang (Jakarta). Kalau di rumah poin ke-2, sekolahnya sangat meragukan saya sebagai orang tua yang menginginkan anaknya pintar dan sukses kelak kemudian hari.

Tapi kalau di rumah pilihan ke-3, selama 5 tahun saya tidak mempunyai tabungan sama sekali selain asuransi pendidikan anak saya. Perlu saya tekankan di sini bahwa "pengusiran" ini belum jelas terjadi kapan. Terima kasih.

PNS - Jakarta


Jawab:

Ibu PNS di Jakarta,

Saya bisa memahami apa yang Anda rasakan. Terus terang menurut saya Anda harus bersyukur terhadap keadaan Anda saat ini, karena walaupun suami Anda dinas di Jakarta dan Anda bekerja di daerah Gunung Putri di Bogor, tapi Anda berdua tidak mengalami masalah dengan transportasi. Kebanyakan orang yang bekerja dengan jarak tempuh yang cukup jauh seringkali mengalami masalah dengan transportasi sehingga kadang-kadang ini mempengaruhi kondisi fisiknya. Tapi - untungnya - masalah dengan transportasi ini tidak terjadi pada Anda. Itulah yang harus kita syukuri dan pahami pertama-tama.

Namun demikian, adanya kemungkinan bahwa Anda mungkin tidak bisa terus menempati rumah yang Anda tempati sekarang membuat Anda harus mencari alternatif rumah lain yang bisa Anda beli. Terus terang saya sangat mendukung langkah ini. Tinggal sekarang adalah mencari dan mengambil keputusan tentang rumah mana yang ingin Anda beli. Dari tiga alternatif pilihan yang tersedia, coba kita melihat kemungkinannya satu persatu:

Terus terang untuk rumah alternatif pertama seperti yang Anda ceritakan, bisa saja Anda memilihnya. Tapi melihat bahwa banyak orang di sekitar Anda yang menyarankan jangan mengambil rumah di daerah tersebut karena bisa saja nanti ada peraturan-peraturan mendadak yang sifatnya merugikan pihak PNS, maka dapat dipahami bila Anda tidak mengambil pilihan yang pertama ini. Dan saya juga menyarankan bahwa dalam mengambil rumah, yang paling penting adalah ketenangan. Buat apa Anda mengambil rumah kalau Anda tidak tenang dan terus was-was kalau-kalau nanti Anda tidak bisa terus disitu karena terkena kemungkinan pengusiran lagi? Jadi tidak apa-apa bila Anda tidak mengambil pilihan pertama ini.

Bagaimana dengan rumah alternatif kedua? Oh, dari segi harga ini sih sangat terjangkau, walaupun belum renovasi. Ditambah lagi - selama belum diusir - Anda bisa mengontrakkan rumah itu dan mungkin bisa mendapatkan tambahan Rp 1.000.000 per tahun. Dari segi jarak, wah..., rumah ini juga dekat dengan tempat kerja Anda. Tapi bagaimana nanti dengan suami Anda? Dia kan tidak ada jemputan? Dan lagi seperti kata Anda, orang dengan pekerjaan seperti suami Anda bisa saja dibutuhkan sewaktu-waktu. Kalau saya sih lebih menyarankan agar Anda tetap di Jakarta karena Anda toh mendapatkan jemputan bukan? Beda dengan kalau Anda berdua tinggal di daerah Gunung Putri dimana suami Anda tidak mendapatkan jemputan. Ingat, jarak yang jauh - apalagi bila sarana transportasi-nya tidak terjamin - secara psikologis bisa sangat berpengaruh lho.

Oke, sekarang tinggal alternatif ketiga. Alternatif ketiga yang Anda ceritakan adalah rumah seharga Rp 60 juta di daerah Jakarta yang pembayarannya bisa dicicil, dan baru bisa ditempati sampai cicilan tersebut lunas selama kurang lebih 5 tahun. Yah, berdoa saja supaya Anda tidak "diusir" selama 5 tahun ke depan, ya Bu? Tetapi bila sampai Anda diusir sebelum 5 tahun, Anda toh bisa mencari rumah kontrakan saja dulu sampai cicilan rumah yang Anda beli itu lunas. Tapi dari segi jarak dan kondisi, mungkin alternatif ketiga inilah yang paling memenuhi syarat untuk menjawab kondisi Anda sekeluarga. Jadi - setelah mempertimbangkan semua alternatif yang ada - saya menyarankan agar Anda memilih alternatif ketiga ini.

Mengenai bahwa Anda tidak akan memiliki tabungan lain sama sekali bila Anda memilih alternatif ketiga, tentunya ini adalah konsekuensi yang harus diterima, karena setiap tindakan pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung. Tapi saya rasa, secara jangka panjang, pilihan untuk mengambil alternatif ketiga masih lebih besar keuntungannya daripada kerugiannya. Itu saja saran dari saya. Selamat membeli rumah.



kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan