Harga emas akhir-akhir ini sangatlah luar biasa. Siapa yang bisa menduga bahwa harga emas bisa mencapai harga lebih dari 500 ribu secepat ini. Tentu kita jadi bertanya-tanya apakah masih aman untuk berinvestasi emas saat ini ketika harga sedang memuncak. Hal ini bahkan sudah dirasakan oleh beberapa toko perhiasan. Mereka menjadi lebih enggan untuk membeli emas dalam jumlah besar dan bahkan mereka mengurangi kadar emas di perhiasan supaya harga jual menjadi tidak begitu tinggi. Tapi dilain pihak, hampir semua orang meyakini bahwa emas merupakan investasi yang paling aman dan tidak mungkin termakan inflasi.
Jadi kalau memang emas merupakan investasi yang paling aman, perlukah kita takut untuk mengoleksi emas saat harganya sudah membumbung tinggi seperti saat ini? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat sebentar pergerakan harga emas dari tahun ke tahun dari gambar berikut:

Gambar tersebut adalah gambar grafik harga emas dalam satuan dolar Amerika dari tahun 1972 sampai Mei 2011. Grafik harga dengan satuan Rupiah akan berbeda tapi secara garis besar akan mengikuti pola yang kurang lebih sama.
Dari grafik itu bisa kita lihat bahwa harga emas dari tahun 1972-1977 mengalami peningkatan. Terlebih mulai dari tahun 1997-1980, harga emas menanjak tajam dari sekitar 180 menjadi lebih dari 800. Peningkatan harga yang luar biasa ini terjadi hanya dalam 3 tahun. Setelah itu peningkatan harga emas berhenti dan menurun. Dari saat itu sampai sekitar tahun 1999-2000, harga emas hanya bergerak sekitar 600-650. Baru kemudian pada tahun 2006, emas bisa kembali ke harga 800 dan semenjak itu terus terbang sampai sekarang.
Jadi kesimpulan apa yang bisa kita tarik dari pergerakan harga emas ini? Kesimpulan pertama adalah bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya investasi yang tidak mungkin rugi, bahkan emas sekalipun. Emas setidaknya pernah mengalami kerugian yang luar biasa. Coba bayangkan kalau kita membeli emas di tahun 1980 untuk investasi jangka panjang. Setelah kita membeli emas, tiba-tiba harga turun sampai akhirnya baru bisa kembali ke harga awal di 26 tahun mendatang. Bisakah Anda bayangkan bagaimana investasi Anda baru bisa balik modal setelah 26 tahun? Mungkin kemudian Anda mengatakan bahwa walaupun emas turun selama 26 tahun tapi setelah tahun 2002 harga emas sudah melambung tinggi sampai 2x lipatnya (pada waktu saya menulis artikel ini, harga emas mencapai sekitar $USD 1800). Itu memang benar, tapi kalau kita hitung-hitung lagi ini artinya emas "hanya" mengalami peningkatan sebesar 2,5x lipat selama 30 tahun. Loh kok bisa hanya 2,5x lipat? Bukannya kalau dalam rupiah harga emas sudah lebih dari 10x lipat? Betul sekali, tapi harus kita ingat juga bahwa rupiah kita juga sudah mengalami inflasi berkali-kali lipat terhadap dolar US. Cara termudah membandingkan pertumbuhan investasi emas dibandingkan dengan inflasi adalah dengan melihat nilai riil nya. Coba kita bandingkan ketika tahun 1980 harga emas sekitar Rp. 13,500 dan saat ini harga emas sekitar Rp. 500,000. Sekarang kita lihat apakah uang 500 ribu sekarang bisa membeli lebih banyak barang kebutuhan pokok daripada uang 13 ribuan di tahun 1980. Kalau ternyata sekarang kita bisa membeli lebih banyak kebutuhan pokok dengan uang 500 ribu itu artinya nilai emas secara riil naik dari tahun 1980 sampai sekarang. Tapi kalau sebaliknya, artinya dari tahun 1980 sampai sekarang nilai emas ternyata menurun.
Kesimpulan kedua adalah bahwa kita harus selalu memantau kinerja investasi kita. Perencanaan investasi sebaik apapun bila tidak dipantau bisa membawa kerugian. Ini seperti kalau kita bepergian dengan bis. Kalau kita hanya duduk di satu bis saja dan berharap "suatu saat" nanti kita bisa sampai ke tempat tujuan maka ada 3 kemungkinan yang bisa kita dapat: kita sampai ke tempat tujuan karena suatu kebetulan, kita tidak sampai ke tempat tujuan dan bahkan terdampar di tempat lain, atau kita tidak sampai kemana-mana alias hanya berputar-putar saja. Untuk menghindari hal ini, ada kalanyankita harus turun dari bis dan pindah ke bis lain. Mungkin kita harus pindah bis beberapa kali untuk sampai ke tempat tujuan. Demikian juga dengan investasi, kita mungkin harus berpindah beberapa kali agar tujuan finansial kita tercapai.
|