Di artikel "Berkenalan dengan Analisa Teknikal", kita sudah melihat bagaimana moving average bisa digunakan untuk mengoptimalkan hasil investasi. Dengan hanya melihat pergerakan harga dan moving average, kita bisa mengetahui kecenderungan pergerakan harga dikemudian hari sehingga kita tau kapan harus beli dan kapan harus jual. Sekarang kita akan melihat jenis lain dari moving average yang banyak digunakan dan bagaimana cara mengubah parameter moving average supaya bisa lebih sesuai dengan karakter kita dalam berinvestasi baik itu jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.
Dalam perkembangannya moving averange (MA) mempunyai beberapa jenis. Salah satu yang paling populer, yang paling banyak digunakan orang baik itu pemula ataupun analis profesional, adalah exponensial moving average (EMA). Secara kasat mata, MA dan EMA mempunyai perbedaan yang lumayan mencolok secara jangka panjang, tetapi hampir tidak berbeda bila digunakan untuk jangka pendek. EMA memiliki sifat yang lebih responsif daripada MA, sehingga EMA bisa digunakan untuk melihat perubahan harga lebih cepat dibanding MA. Dengan menggunakan EMA kita bisa lebih cepat bereaksi sehingga bisa membeli (atau menjual) produk investasi (baik itu saham, reksadana, unit link, emas, valas, dll.) di harga yang lebih menguntungkan. Tapi kekurangan dari EMA adalah kadang kala EMA terlalu sensitif terhadap perubahan harga sehingga kita bisa "tertipu" dalam membeli atau menjual. Pergerakan EMA yg terlalu cepat bisa membuat kita membeli terlalu terburu-buru atau menjual terlalu dini. Karena itu EMA lebih cocok digunakan oleh Anda yang ingin sering melakukan transaksi. Sedangkan bagi Anda yang lebih menginginkan kepastian ketika berinvestasi mungkin lebih cocok bila menggunakan MA. Saya pribadi menggunakan EMA untuk bersiap-siap, tetapi ketika melakukan transaksi saya lebih suka menggunakan MA. Berikut kita lihat perbedaan antara garis MA dan EMA.

MA dan EMA mempunyai sebuah parameter yang bisa dirubah-rubah sesuai kebutuhan kita. Di artikel "Berkenalan dengan Analisa Teknikal" kita sudah membahas bahwa MA merupakan nilai rata-rata dari sederet angka. Banyaknya deret angka tersebut bisa kita atur semau kita. Bisa 3 angka, 30 angka, 50 angka, 23 angka, 67 angka, 478 angka, dan seterusnya. Banyaknya deret angka akan mempengaruhi hasil MA. Pada prinsipnya, semakin sedikit deret angka yang digunakan maka garis MA akan semakin sensitif terhadap perubahan angka, dan sebaliknya semakin banyak deret angka yang digunakan maka garis MA akan semakin solid dan tidak mudah bergerak terhadap perubahan angka. Banyaknya deret angka sangat berhubungan dengan karakter investasi kita. Bila karakter kita adalah investor jangka pendek dan ingin sering melakukan transaksi maka kita cocok untuk menggunakan angka yang kecil. Sedangan bila kita ingin berinvestasi untuk jangka panjang maka lebih baik kita menggunakan angka yang besar. Angka yang umum digunakan sebagai parameter MA adalah 7, 10, 14, 20, 30, 50, 100, dan 200. Saya menyarankan tidak menggunakan angka dibawah 30 bila berinvestasi di reksadana saham, unit link saham, atau emas fisik. Angka 50, 100, 200 cukup baik untuk digunakan. Bila menggunakan harga IHSG sebagai patokan pergerakan reksadana saham / unit link saham untuk investasi jangka panjang, saya sendiri menggunakan MA 300 sebagai penunjuk.

Diatas adalah grafik MA 50 (merah), 100 (hijau), dan 200 (coklat) dari IHSG selama 5 tahun terakhir. Bisa kita lihat dengan mudah bahwa kalau menggunakan MA 50 kita bisa melakukan lebih dari 15 transaksi dalam 5 tahun. Sedangkan bila menggunakan MA 100 kita hanya melakukan sekitar 10 transaksi yang jaraknya cukup berjauhan. Dan dengan MA 200 kita hanya melakukan sekitar 5 transaksi dengan jarak berjauhan.
Dalam investasi, parameter MA bisa diatur dalam satuan menit, jam, hari, minggu, dan bahkan tahun. Untuk investor awam saya sarankan untuk menggunakan satuan hari dan mingguan saja. Satuan menit dan jam umumnya hanya digunakan bila kita ingin melakukan transaksi di hari yang sama (intraday trading). Untuk investasi di reksadana saham, unit link saham, dan emas fisik cukup menggunakan satuan harian dan mingguan. Satuan bulanan dan tahunan biasanya hanya digunakan sebagai bahan perbandingan produk investasi jangka panjang saja. Jadi kalau misalnya kita menggunakan MA 20 di data harian maka ini artinya kita menggunakan data historis dari 20 hari ke belakang (ingat bahwa perdagangan bursa saham terjadi di hari Senin - Jumat sehingga 20 hari itu sama dengan sebulan). Sedangkan kalau kita menggunakan MA 20 di data mingguan artinya kita menggunakan data historis dari 20 minggu kebelakang (kira-kira sama dengan 5 bulan ke belakang). Berikut adalah gambar grafik pergerakan harga emas dalam waktu satu tahun.
Halaman Berikutnya > |