Akhir-akhir ini investasi dalam bentuk emas dan reksadana makin banyak diminati orang. Tidak heran memang karena emas diyakini sebagai pelawan inflasi terampuh dan reksadana dapat memberikan hasil yang cukup fantastis. Untuk melakukan investasinya pun sangat mudah, emas dapat dibeli dan dijual di toko emas mana saja, dan hampir semua reksadana sekarang bisa dibeli di hampir semua cabang bank mana saja. Dua hal inilah yang mendukung larisnya bisnis emas dan reksadana.
Secara teoristis, emas dan reksadana saham diyakini hampir pasti memberikan untung. Tapi untuk jangka pendek, dua jenis investasi ini sangat berpotensi untuk mendatangkan kerugian. Tentu masih segar dalam ingatan kita bahwa baru sekitar tiga bulan lalu reksadana saham mengalami penurunan yang cukup besar. Kalau kita ingat-ingat lebih jauh lagi, tahun 2008 merupakan tahun yang buruk bagi perkembangan reksadana saham. Dan kalau kita tarik sejarah lebih lanjut lagi, di tahun 1980 emas mengalami penurunan panjang dan baru akhirnya bisa kembali ke posisi semula di sekitar tahun 2006. Itu artinya di masa itu investasi emas perlu waktu sekitar 26 tahun hanya untuk balik modal.
Kalau begitu apakah ada cara untuk menghindari masa-masa “kelabu” tersebut? Itu tergantung dari apa yang kita maksud dengan kata “menghindari”. Kalau maksudnya adalah mengetahui harga investasi di masa depan supaya tidak rugi, maka tentu jawabannya tidak bisa. Kita tidak bisa meramal masa depan. Tapi kalau maksudnya menghindari adalah mengurangi resiko supaya kalaupun rugi ya nggak besar-besar amat, maka jawabannya bisa. Caranya? Ada dua cara yang umum dilakukan yaitu dengan cara dollar cost averaging dan market timing.
Apa yang dimaksud dengan dollar cost averaging. Dollar cost averaging adalah cara investasi dimana kita secara rutin berinvestasi tanpa memperhatikan kondisi harga investasi. Cara ini adalah cara termudah untuk mengurangi resiko pasar. Karena cara ini menggunakan setoran cicilan maka cara ini juga cocok untuk investasi bagi kita yang belum mempunyai dana besar.
Cara kedua adalah market timing. Berbeda dengan dollar cost averaging, di cara market timing kita tidak melakukan investasi secara rutin berdasarkan waktu tapi kita berinvestasi berdasarkan pergerakan harga produk investasi. Cara ini bisa menghasilkan imbal hasil yang lebih besar daripada dollar cost averaging bila dilakukan dengan benar. Tapi cara ini lebih beresiko daripada dollar cost averaging dan lebih membutuhkan pengetahuan investasi yang dalam. Modal yang digunakan dengan cara ini bisa dengan single installment (lump sum) atau cicilan (seperti pada dollar cost averaging). Untuk bisa menggunakan cara ini kita harus mempunyai pengetahuan analisa investasi baik itu bersifat teknikal dan/atau fundamental.
Dari dua cara tersebut umumnya kita menggunakan dollar cost averaging. Cara ini memang secara rata-rata ampuh bila digunakan dalam jangka panjang. Tapi cara ini juga rentan bila terjadi penurunan nilai investasi dalam jangka panjang. Misalnya ketika terjadi krisis di tahun 2008. Rata-rata reksadana saham turun sampai 50%. Walaupun untungnya, tahun depannya naik lagi sekitar 100%. Mungkin Anda sekarang berkata, “Nggak apa-apa dong turun 50%. Toh tahun depannya naik lebih besar lagi, 100%.”. Kalau dilihat hanya dari besarnya angka persentase memang benar bahwa 100% lebih besar dari 50%. Tapi tahukah Anda bahwa penurunan 50% yang kemudian disertai kenaikan 100% itu artinya bahwa investasi Anda tidak berkembang? Bingung? Begini contohnya, anggap saja sebelum krisis 2008 total investasi Anda sudah bernilai Rp. 100 juta. Kemudian ketika krisis, investasi Anda turun 50% menjadi sisanya Rp. 50 juta. Dan setelah krisis berakhir investasi Anda berkembang lagi 100% dari Rp. 50 juta menjadi….. Rp. 50 juta + (100% x Rp. 50 juta) = Rp. 100 juta! Artinya selama dua tahun, uang Rp. 100 juta Anda tetap hanya Rp. 100 juta. Selama dua tahun Anda tidak mendapat bunga, alias 0%.
Coba bandingkan kalau kita menguasai cara market timing. Ketika krisis 2008 Anda tidak perlu terbawa arus turun sampai -50%. Anda mungkin sudah bisa membaca situasi ketika bursa kita turun 10%, dan bisa menyelamatkan modal Anda sebelum turun lebih dalam lagi. Dan ketika bursa saham mulai membaik, Anda bisa memasukan lagi investasi yang sempat Anda selamatkan tadi dan menikmati kenaikan yang luar biasa. Mari kita lihat lagi contoh berikut: ketika sebelum krisis investasi Anda bernilai Rp. 100 juta. Ketika krisis mulai dan sudah turun 10%, Anda mengeluarkan seluruh sisa investasi Anda senilai Rp. 90 juta. Kemudian ketika bursa saham membaik, Anda memasukan Rp. 90 juta tersebut dan mendapatkan kenaikan bunganya. Mungkin Anda tidak bisa merasakan seluruh kenaikan 100% di tahun 2009. Tapi kalau Anda bisa menikmati sebagiannya saja, katakanlah 75%, investasi Anda bisa berkembang menjadi Rp. 157 juta. Jadi dalam dua tahun Anda mendapatkan bunga 57%. Jauh lebih baik daripada bunga 0% kan.
Cara berinvestasi dengan menggunakan market timing memang bisa menyelamatkan modal kita ketika bursa turun dan bisa membantu kita menentukan saat yang tepat untuk berinvestasi. Tapi cara ini juga lebih sulit daripada cara dollar cost averaging. Sebenarnya tidak sulit-sulit amat, kita hanya dituntut supaya mau belajar lagi dan lebih memberhatikan berita ekonomi. Perlengkapannya juga sudah gampang didapat. Laporan perusahaan sekarang bisa dilihat di website, untuk analisa teknikal harga juga banyak yang memberikan fasilitas grafik secara gratis. Jadi, nanti di artikel selanjutnya kita akan mulai membahas bagaimana melakukan analisa harga. Kita akan mulai dengan analisa teknikal dulu karena analisa teknikal secara umum lebih tidak membutuhkan kemampuan akutansi dan ekonomi bila dibanding dengan analisa fundamental. Kita akan mulai dengan teknik yang paling sederhana yang bisa digunakan secara gratis oleh siapa saja. Semoga dengan menguasi teknik-teknik itu nanti Anda lebih bisa mengoptimasi investasi kita dan tidak gampang panik ketika terjadi krisis.
Selamat berinvestasi,
Yustinus Eko Soelistio, MM., CFP
Follow my Twitter @EkoSoelistio
|