|
Siapa yang tidak kenal Bruce Lee? Kebanyakan dari kita mengenal dia sebagai bintang film laga tahun 80an. Walaupun ia menurut istrinya, Linda Lee, lebih suka dikenang sebagai seorang ahli filsafat, pasti tidak ada yang meragukan kemampuan bela diri Bruce Lee. Latar belakang kemampuan bela dirinya dimulai ketika ia belajar beladiri bernama Wing Chun dari Ip Chun. Setelah ia pindah dari Hong Kong ke Amerika, Bruce mulai mengembangkan bela dirinya menjadi apa yang ia sebut dengan Jet Kuen Do. Perbedaan mendasar dari bela diri ciptaanya ini (Jet Kuen do) dengan bela diri pertama yang ia pelajari (Wing chun) adalah di Jet Kuen Do menggunakan berbagai teknik yang dimiliki oleh berbagai macam bela diri seperti teknik bantingan dari judo dan gulat, teknik memukul dari tinju, teknik tendangan dari muay thai, teknik kuncian dari jiujitsu, dan sebagainya. Tapi walaupun terdiri dari teknik-teknik dari berbagai bela diri, filosofi dan strategi dibalik Jet Kuen Do masih sangat mirip dengan Wing Chun. Mereka masih sama-sama menggunakan panduan center line dan shortest distance sebagai acuan.
Oke, cukup sampai disini dulu pelajaran sejarah bela diri kita. Sekarang kita masuk ke pelajaran inti. Kalau sebelumnya kita telah belajar bahwa Jet Kuen Do berasal dari Wing Chun yang mengalami modifikasi dan penambahan, sekarang kita akan belajar bahwa asuransi jiwa unit link adalah berasal dari asuransi jiwa tradisional yang mengalami modifikasi dan penambahan. Ngomong-ngomong, berapa banyak dari Anda yang sudah pernah mendengar atau membaca mengenai unit link? Saat ini sudah sangat banyak artikel, buku, seminar, dan bahkan pelatihan mengenai asuransi unit link, tapi anehnya tidak banyak saya temui media yang khusus menjelaskan mengenai asuransi tradisional. Di kesempatan kali ini saya akan menjelaskan sedikit mengenai asuransi tradisional, dan siapa tau bisa membantu meredakan ketegangan yang terjadi antara unit link dan tradisional.
Asuransi jiwa tradisional individu (yang saya singkat saja menjadi AT untuk mempermudah penulisan) secara umum dapat dibagi menjadi tiga yaitu: berjangka, seumur hidup / whole life, dan dwiguna / endowment. Perbedan utama mereka terletak pada jangka waktu berlakunya polis dan jangka waktu pembayaran manfaat. Perbedaan ini nantinya akan berimbas pada besarnya premi dan hasil yang kita dapat.
Kita mulai dari AT berjangka (disingkat ATB). Seperti namanya, ATB ini mempunyai jangka waktu polis yang tetap dan sudah ditentukan sebelumnya. Biasanya jangka waktu yang disediakan oleh perusahaan asuransi bervariasi antara 1-20 tahun. Polis ini akan memberikan sejumlah uang pertanggungan kepada ahli waris ketika terjadi resiko meninggal atas tertanggung sebelum polis jatuh tempo. Contohnya sederhananya, kalau Pak Budi membeli ATB berjangka untuk 20 tahun maka jika 15 tahun kemudian ia meninggal maka keluarganya berhak atas uang pertanggungan ATB. Asuransi jenis ini memiliki premi yang paling murah diantara jenis asuransi yang lain, tapi ATB tidak akan memberi apapun kalau tertanggung masih hidup ketika polis jatuh tempo. Jadi misalkan kalau Pak Budi meninggal 21 tahun kemudian maka anaknya tidak akan mendapat sepeserpun dari ATB. Sehingga di asuransi ini terdapat istilah "uang hangus".
"Wah kalau begitu rugi dong beli asuransi kalau bisa ga dapet apa-apa?" Tenang saja, Anda tidak perlu kecewa karena perusahaan asuransi juga memikirkan hal yang sama dan mereka sudah menemukan solusinya yakni sebuah asuransi jiwa yang akan memberikan Anda perlindungan seumur hidup sehingga uang premi anda tidak akan "hangus". Inilah yang biasa kita kenal dengan asuransi jiwa seumur hidup (atau kita singkat dengan ASH). Sebenarnya jangka waktu polis ini tidak seumur hidup tapi biasanya sampai kita berusia 99 atau 100 tahun. Tapi karena rata-rata tingkat harapan hidup manusia tidak sampai usia itu jadi bisa dikatakan seumur hidup. Seandainya pun melewati usia 100, umumnya ASH akan memberikan uang hasil nilai tunai yang jumlahnya kira-kira sebesar uang pertanggungan jiwa. Premi dari asuransi jenis ini biasanya lebih tinggi dari ATB dan periode pembayarannya pun bermacam-macam mulai dari premi tunggal, premi yang dibayar seumur hidup, dan premi yang dibayar sampai jangka waktu tertentu.
Anda kemudian bertanya lagi, "Wah masih rugi dong!" Loh, kenapa? "Iya lah, kan yang nikmatin ahli waris saya. Saya juga mau nikmatin hasilnya dong, kan saya yang bayar preminya." Wah..wah...rupanya anda sulit dipuaskan ya. Tenang saja karena perusahaan asuransi jiwa sudah mempunyai produk baru yaitu asuransi jiwa dwiguna (yang akan kita singkat menjadi AD). Apa bedanya dengan ATB dan ASH? Kalau di ATB dan di ASH, uang pertanggungan hanya didapat ketika tertanggung sudah meninggal (atau melewati umur 99 atau 100 kalau di ASH), maka di AD tertanggung akan mendapatkan sejumlah uang tertentu di periode-periode yang telah disepakati dan uang pertanggungan juga akan turun ke ahli waris jika tertanggung meninggal dunia. Misalnya, Pak Budi membeli AD untuk 50 tahun dengan uang pertanggungan Rp. 100 juta dan sepakat akan mendapatkan Rp. 10 juta di tahun ke 10 dan Rp. 20 juta di tahun ke 20. Jadi Pak Budi akan mendapatkan total Rp. 30 juta pada tahun ke 30, dan misalkan beliau meninggal di tahun ke 31 maka keluarganya akan mendapatkan Rp. 100 juta. Kalau dilihat dari jumlah preminya, AD memiliki premi termahal dari jenis asuransi yang lain. Tapi premi tersebut adalah jumlah yang wajar kalau mengingat proteksi dan janji jumlah pembayaran yang ditawarkan.
|