|
Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengobrol dengan saudara saya mengenai investasi. Dia kebetulan adalah seorang pengusaha, dan saya sengaja mengangkat topik investasi agar ia tertarik untuk memulai. Saya mengatakan demikian, “Investasi sekarang gampang kok, ga perlu modal gede, cuman 200 ribu sebulan juga udah bisa. Bunganya lumayan lagi, dari sejarah 10 tahun, rata-rata per tahunnya sekitar 20%.” Kemudian dia bertanya, “Kalau begitu kira-kira 200 ribunya dalam sebulan dapet berapa?” “Kalo cuman sebulan ya kira-kira bunganya cuman sekitar 3 ribu”, jawab saya. “Haah, cuman segitu!....Mending gue buat nambah modal usaha deh. Coba aja itung, kalo sebulannya 200 ribu, setaonnya 2,4 juta…Kan lumayan buat nambahin modal.”, tambahnya, “Kalo cuman 3 ribu mah gue bisa dapetin jauh lebih gede dari modal segitu.” Saya kemudian mencoba membujuk lagi dengan mengatakan demikian, “Cuman kalo ditabungin terus kira-kira sampe 25 taon lagi, kan pas kita udah umur sekitar 55 tuh, lumayan loh bisa sampe 1,5 milyar hasilnya. Soalnya hasil bunganya dibungain juga.” Jawabnya sederhana, “Ga mungkin, itu mah tipu-tipu doang. Mana mungkin modal cuman 200 ribu bisa dapet 1 milyar lebih. Kalo mau dapet segitu tuh minimum modalnya juga 200 juta lebih.”
Kita di Indonesia kalau sudah bicara uang, seringkali terlena oleh nilai nominal yang besar. Kita merasa bahwa nilai uang yang kecil sudah tidak ada artinya lagi di jaman ini. Seberapa sering kita sendiri “mentelantarkan” uang pecahan 100 atau 500 dimana-mana. Bahkan jaman sekarang pecahan 50 seakan-akan sudah dianggap “bukan duit” lagi karena terlalu “kecil”. Di minimarket lebih sering ditemukan kembalian permen daripada kembalian 50 rupiah. Padahal uang 1 milyar yang kurang 50 rupiah, tetap saja belum 1 milyar.
Kita perlu kembali mengingat pepatah “sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit”. Di dalam dunia investasi, pepatah ini sangat benar adanya karena di dalam dunia investasi ada yang dinamakan compounded interest, atau disebut juga bunga berbunga yang artinya: “bunga yang didapat dari hasil investasi sekarang akan menjadi tambahan modal untuk investasi berikutnya”. Dengan adanya compounded interest ini, modal investasi kita pada setiap periode akan terus bertambah secara otomatis. Compounded interest ini memungkinkan kita untuk melipat gandakan modal investasi kita seiring umur investasi. Seperti contoh: pada bulan pertama modal kita adalah 200 ribu dengan bunga 20% per tahun. Artinya pada bulan pertama kita akan mendapat bunga Rp. 3,333. Hasil bunga ini akan ditambahkan ke dalam modal awal kita (yaitu 200 ribu), sehingga modal kita untuk bulan kedua adalah sebesar Rp. 203,333, yang artinya pada bulan kedua kita akan mendapat bunga sebesar Rp. 3,388 yang akan ditambahkan juga untuk menjadi tambahan modal untuk bulan ketiga, sehingga pada bulan ketiga modal investasi kita adalah Rp. 206,722, dan seterusnya. Apabila kita juga menambahkan modal sebesar 200 ribu setiap bulan selama 25 tahun, maka pada akhir tahun ke 25 modal investasi kita akan menjadi sekitar Rp. 1,697,000,000. Bila dibandingkan dengan modal setoran kita selama 25 tahun ini, yaitu Rp. 60,000,000, kita telah mendapatkan imbal hasil sebesar 28 kali modal. Sekarang pertanyaannya, bila kita sebagai seorang pengusaha dan diberikan modal 60 juta, apakah kita mampu mengembangkannya menjadi 28 kali lipat sebelum kita pensiun? Bila jawabannya tidak, sulit, atau mungkin, maka ada baiknya kita memikirkan untuk berinvestasi.
“I fear not the man who has practiced 10,000 kicks once, but I fear the man who has practiced one kick 10,000 times.” Investasi tidak ditentukan dari seberapa besar modal awal kita, tapi dari seberapa besar konsistensi kita.
Happy investing,
Yustinus Eko Soelistio, MM., CFP
Staf Perencana Keuangan
Twitter @EkoSoelistio
|