Berkenalan dengan Analisa Teknikal
Oleh: Yustinus Eko Soelistio, MM., CFP®
7 November 2011
 

Yustinus Eko SoelistioDalam dunia investasi dikenal dua pendekatan analisis yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.  Analisis fundamental banyak berhubungan dengan laporan keuangan dan kebijakan perusahaan.  Analisis ini juga membutuhkan banyak data perusahaan yang seringkali sulit kita dapatkan dan sulit dimengerti oleh kita yang awam.  Sebaliknya analisis teknikal hanya berhubungan dengan tiga hal yaitu harga saham, waktu, dan volume sehingga jauh lebih mudah dimengerti semua orang.  Memang ada kelebihan analisis fundamental yang tidak dimiliki analisis fundamental, tapi sebaliknya ada juga kelebihan analisis teknikal yang tidak ada di analisis fundamental yaitu salah satunya adalah kepraktisan dan kesederhanaan.  Karena itulah analisis teknikal banyak digunakan oleh investor awam seperti kita.

Ada banyak sekali teknik yang bisa digunakan dalam analisis teknikal.  Salah satunya adalah teknik statistik yang disebut moving average (rata-rata berjalan).  Teknik ini sudah ada sangat lama sekali tapi masih bisa digunakan dengan efektif sampai sekarang.  Moving average (atau disingkat MA) sangat mudah digunakan dan sekarang sudah banyak software gratis untuk membantu kita.  Untuk contoh kali ini kita akan menggunakan website finance.yahoo.com untuk menghitung MA.

Sebelum kita mulai melihat seperti apa bentuk MA, mari kita bahas dulu kegunaan MA.  Metode MA bisa digunakan untuk menentukan kapan kita membeli dan menjual, dan bisa untuk melihat arah pergerakan investasi kita (naik atau turun).  MA bisa digunakan di semua produk investasi yang mengalami fluktuatif harga seperti saham, valas/forex, komoditi berjangka, reksadana, unit link, atau investasi dalam bentuk fisik seperti emas atau bahkan properti.  Semakin berfluktuatif investasi kita, makin efektif penggunaan MA.  Jadi metode MA sangat baik untuk saham, reksadana/unit link saham, valas, emas, dan komoditi berjangka.

Ok, sekarang mari kita bahas mengenai penggunaan MA.  Kita nggak akan membahas terlalu teknis, yang penting adalah kita tau bagaimana bisa menggunakan MA sehari-hari.   Jadi langsung saja kita coba lihat gambar ini:

IHSG - MA

Disana kita melihat grafik IHSG selama lima tahun terakhir.  IHSG adalah rata-rata harga dari seluruh saham di Indonesia.  Jadi kalau IHSG naik itu tandanya sebagian besar saham di Indonesia sedang naik.  Sebaliknya kalau IHSG turun itu tanda bahwa sebagian besar saham juga sedang turun.  IHSG juga bisa dijadikan patokan turun naiknya reksadana/unit link saham karena umumnya isi reksadana/unit link saham adalah saham-saham yang menjadi penggerak IHSG.  Jadi kalau IHSG naik maka kemungkinan NAB reksadana/unit link saham juga naik, atau sebaliknya juga demikian.

Di grafik itu kita melihat dua buah garis biru dan merah.  Garis biru adalah harga IHSG, dan garis merah adalah nilai MA.  Kalau kita perhatikan garis MA kurang lebih mengikuti harga IHSG.  Itu karena garis MA sebenarnya adalah merupakan nilai rata-rata harga IHSG.  Jadi kalau garis harga IHSG naik maka lambat laun garis MA juga akan naik.

Ok, sekarang mari perhatikan pergerakan garis MA dan garis harga IHSG lebih lanjut.  Kalau kita lihat dari grafik selama lima tahun, disitu kelihatan ada empat kali garis MA dan garis harga IHSG berpotongan.  Dua kali ditandai dengan lingkaran biru dan dua kali lagi ditandai dengan lingkaran merah.  Di perpotongan dengan lingkaran biru kelihatan garis harga IHSG memotong garis MA dari bawah keatas.  kejadian ini biasa disebut dengan istilah golden cross yang artinya harga IHSG punya kecenderungan meningkat dibanding harga rata-ratanya.  Nah kalau ini terjadi maka inilah saat terbaik untuk BELI karena setelah golden cross terjadi kemungkinan besar harga IHSG akan terus naik.  Sebaliknya kalau ternyata terjadi perpotongan garis harga IHSG dengan garis MA dari atas kebawah seperti di lingkaran warna merah.  Kalau ini terjadi maka sebaiknya kita melakukan aksi JUAL karena kemungkinan besar harga IHSG akan segera turun.  Kejadian perpotongan dari atas ke bawah ini biasa disebut dengan death cross.  Bagaimana kalau pada saat tidak terjadi perpotongan?  Kalau garis harga IHSG berada dibawah garis MA itu artinya saham sedang turun jadi kita jangan beli dulu karena kemungkinan besar harga masih akan turun.  Sebaliknya kalau garis harga IHSG ada diatas garis MA itu tanda saham sedang naik jadi boleh membeli karena kemungkinan besar harga masih akan naik.

Jadi kalau kita menuruti apa yang diperlihatkan grafik MA dan IHSG tersebut maka sekitar bulan Maret tahun 2008 kita akan menjual reksadana saham kita.  Setelah bulan Maret bisa kita lihat IHSG perlahan-lahan terus turun sampai sekitar bulan November 2008 akhirnya naik kembali.  Penurunan dari bulan Maret sampai November tersebut bisa mencapai 50%.  Jadi kalau kita menjual reksadana saham kita pada bulan Maret maka kita berhasil menyelamatkan investasi kita dari penurunan 50%. 

 

Artikel Lainnya:

Menilik Rekor Harga Emas
Macam-Macam Kegunaan Asuransi Jiwa
Analisa Rebound Reksadana Saham
Evolusi Produk Asuransi Jiwa
Investasi Mana Ya yang Bagus Untuk Saya?
Baca Artikel Dari Perencana Keuangan Lain >